Browse By

Pukul Anak Karena Ubah KK, Bapak Ini Jadi Tersangka

Slamet (kiri) saat mendatangi Mapolresta untuk menjalani pemeriksaan.

MAYANGAN – Bayang-bayang mendekam di penjara terlintas di benak Slamet Hariyono, 43, warga Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Pasalnya, gara-gara memukul anak kandungnya sendiri, Hoirunnisa, 19, ia kini ditetapkan sebagai tersangka.

Sekitar pukul 13.45 kemarin (13/10), Slamet mendatangi Mapolres Probolinggo Kota untuk menjalani pemeriksaan. Ia datang ditemani pengacaranya, SW Djando Gadohoka. Slamet mengatakan, penganiayaan itu terjadi Rabu (6/10) lalu.

Loading...

Slamet mengaku kesal pada sang anak. Pasalnya, anak sulungnya itu mengubah Kartu Keluarga (KK). Dimana yang sebelumnya ada 6 orang anggota keluarga, menjadi lima orang saja. Nama Slamet sebagai kepala keluarga dihapus, sebagai gantinya, dalam KK baru itu tertulis Hoirunnisa sebagai kepala keluarga.

“Sekarang anak ini tinggal di Sumbertaman, rumah buleknya. ltu anak kandung saya. Saya marah dan memukulnya di tempat kerjanya di jalan dr Sutomo. Alasan saya, ia merubah KK tanpa sepengetahuan saya dan istri. Mungkin karena tidak terima dipukul di depan teman-temannya dia melaporkan kejadian itu,” terangnya.

Sementara itu, SW Djando Gadojoka kaget. Pemanggilan pertama kliennya langsung mendapat status tersangka. la berharap kasus tersebut bisa selesai tanpa perlu diproses. “Siapa tahu anaknya mau mencabut berkasnya. Jika tidak, nantinya akan sama- sama dirugikan,” terangnya.

Terpisah, Kanit PPA Polres Probolinggo Kota Iptu Retno Utami, membenarkan kejadian itu. Menurutnya, Slamet ditetapkan sebagai tersangka lantaran melakukan tindakan penganiayaan terhadap anaknya sendiri. la terancam Pasal 352 KUHP tentang penganiayaan ringan dengan ancaman 5 tahun penjara.

“Karena anaknya sudah dewasa, maka pasal yang dikenakan bukan UU tentang anak, tapi KUHP,” terang Iptu Retno. la mengatakan, penganiayaan yang dilakukan Slamet itu dilakukan dengan sengaja, itu terlihat dari luka yang dialami korban.

Korban mengalami memar di bagian mata dan bibir. Informasinya, antara korban dan pelaku sudah tidak tinggal satu rumah selama dua tahun terakhir. Karena masih keluarga, polisi mengupayakan kasus itu dengan melakukan diversi. Yakni pengalihan penyelesaian perkara anak, dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. (radar)