Browse By

Dinilai Merusak Keindahan, Papan Nama di Savana dan Lautan Pasir Diprotes

SUKAPURA – Komunitas Sahabat Bromo menulis surat terbuka pada Kemeterian Pariwisata (Kemenpar). Isinya, mereka memprotes pembangunan tugu di savana dan lautan pasir di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Sahabat Bromo menilai, tugu yang dipasang malah merusak keindahan Bromo.

Surat terbuka itu ditujukan pada Hiramsyah Sambudhy Thaib, tenaga ahli Menteri Pariwisata Arief Yahya, yang juga menjabat Ketua Pokja Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas Kemenpar.

Surat terbuka itu ditulis Sigit Pramono, pemilik Hotel Java Banana yang juga anggota komunitas Sahabat Bromo. Dalam suratnya, Sigit-sapaan akrabnya-mengatakan. bangunan tugu tersebut merusak pemandangan alam asli Bromo.

Selain itu, tugu yang dibangun itu dinilai menghambur-hamburkan uang. Yang mana menurutnya tidak memberi nilai manfaat. Pembangunan tugu itu menurut bankir kenamaan itu, lebih cocok untuk wisata buatan seperti Ancol dan Taman Safari. Lebih baik, duit untuk membangun tugu itu digunakan untuk infrastruktur yang lebih membutuhkan. Misalnya toilet.

Loading...

Ketua Sahabat Bromo, Bagas lndyatmono membenarkan adanya surat terbuka itu. Menurutnya, surat terbuka itu adalah bentuk protes yang dilayangkan oleh para pecinta bromo dan juga penikmat foto. Seperti yang disampaikan isi surat, tugu itu malah membuat jelek Bromo.

“ Iya benar. Itu adalah protes kami para pecinta bromo dan juga para pencinta fotografi. Melaui Pak Sigit kami melayangkan protes tersebut. Dengan surat terbuka ini, kami Sahabat Bromo dan juga Masyarakat Fotografi Indonesia yang diketuai oleh Pak Sigit melayangkan protes itu,” tuturnya.

Bagas menjelaskan, sebenarnya protes yang dilayangkan oleh komunitasnya bukan kali ini saja. Sebelum bangunan itu berdiri, mereka juga telah melayangkan protes pada TNBTS. Hanya saja tidak digubris. “Kami sendiri sudah melakukan protes saat masih rencana pembangunan itu. Tapi TNBTS tidak mengindahkan dan tetap dilakukan pembangunan. Kami berharap tugu tersebut dibongkar agar bromo kembali indah seperti sebelumnya,” ujar Bagas.

Sementara itu, Kasi TNBTS wilayah l Sarmin menuturkan, pihaknya akan segera melakukan koordinasi dengan Sahabat Bromo dan juga Masyarakat Fotografi Indonesia terkait munculnya surat terbuka itu. “Kami masih melakukan koordinasi dengan pihak-pihak itu. Kami juga langsung mengkonfirmasi kepada ketua komunitas Sahabat Bromo. Saat ini kami masih mencari solusi,” ujarnya.

la menjelaskan, sebenarnya sebelum dibangun, pihaknya sudah melakukan sosialisasi. Namun, saat itu TNBTS tidak menampilkan ilustrasi tugu yang dibangun. Sehingga tidak memicu protes. TNBTS sendiri menolak jika bangunan itu disebut tugu.

“Bukan tugu, itu hanya sebatas papan nama. Kalau tugu kan besar, itu kecil,” ujarnya. Ditanya terkait dana pembangunan papan nama itu, Sarmin mengaku tidak tahu. (radar)