Browse By

Ogah Bayar Rp 15 Juta, Kasus Pencurian Kayu Gagal Damai

Keluarga tersangka saat mendatangi Kejari Kabupaten Probolinggo di Kraksaan, Kamis (12/10).

KRAKSAAN – Upaya keluarga tiga tersangka pencurian kayu asal Desa Kedungsumur, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo untuk mendapatkan penangguhan penahanan, kandas. Itu setelah mediasi yang dilakukan di Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Probolinggo tak menemukan kata sepakat.

Kemarin (12/10), pihak keluarga dan puluhan guru yang ada di bawah Yayasan Hidayatul Islam, milik tersangka Saleh, 47, mendatangai Kejari Kabupaten Probolinggo. Mereka meminta penangguhan penahanan pada ketiga tersangka.

Selain Saleh, dua tersangka lainnya adalah Sugiat, 60, dan Basar Maulana, 26. Ketiganya masih satu keluarga asal Desa Kedungsumur, Kecamatan Pakuniran. Mereka dituding melakukan pencurian kayu pada Sabtu (29/7) lalu.

Didampingi pengacaranya, yakni SW Djando Gadohoka, mereka meminta penangguhan penahanan pada kejaksaan. Pihak kejaksaan kemudian memfasilitasi mediasi antara keluarga ketiga tersangka dan Penasehat Hukum (PH)-nya, dengan Mulsidi, 47, asal Desa Kedungsumur, Kecamatan Pakuniran.

Loading...

Kasi Pidum Januardi Jakhsa Negara memimpin langsung mediasi. Satu jam lebih mediasi di ruang kasi Pidum secara tertutup, tidak ada kesepakatan antara korban dan keluarga tersangka. Pasalnya, korban Mulsidi meminta uang ganti Rp 15 juta supaya bisa memaafkan tersangka dan bersedia damai.

“Kami sudah pertemukan ke dua belah pihak untuk dimediasi. Hasilnya, korban bersedia damai asal ada uang ganti rugi Rp 15 juta. Tapi keluarga tersangka keberatan. Akhirnya tidak menemukan kata sepakat antara kedua pihak,” kata Januardi Jakhsa Negara saat ditemui seusai mediasi kemarin.

Januardi menjelaskan, pihaknya hanya menerima berkas dari penyidik. Setelah diperiksa berkas dan barang buktinya, dinyatakan memenuhi unsur melanggar Pasal 363 KUHP tentang Pencurian. Karenanya, Kejari menyatakan berkas tersebut lengkap. Kini, kasus itu sudah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan untuk disidangkan.

“Kami sudah menfasilitasi untuk memediasi kedua belah pihak. Namun, ternyata tidak ada kesepakatan kedua belah pihak,” terangnya. Djando-sapaan akrab – pengacara korban mengatakan, kedatangannya untuk mengajukan penangguhan penahanan.

Syarat dari pelapor menurutnya tidak masuk akal. Alasannya. kayu yang dibeli seharga Rp 1 juta dan dalam berkas perkara, nilai kerugian Rp 2.750 juta. “Tidak masuk akal. Beli kayu hanya Rp 1 juta malah minta ganti rugi Rp 15 juta. Nanti akan kita buktikan dalam persidangan, perkara ini banyak kejanggalan., terangnya.

Sementara itu, Mulsidi mengatakan, ia meminta ganti rugi Rp 15 juta karena menganggap sesuai dengan kerugian yang dialami. Ia membeli kayu Rp 2,750 juta, tetapi saat kayu itu diolah dan dijual, tentu sudah bernilai lebih. Ditambah, biaya dirinya wira-wiri untuk mengurusi kasus tersebut.

“Saya tidak mau damai, karena sudah terlanjur sakit hati. Kenapa dulu diajak damai tidak mau. Malahan mengajak LSM dan wartawan. Sekarang malah┬ámau minta damai,” terangnya.

Diberitakan koran ini sebelumnya, Juli lalu Mulsidi membeli 4 jenis pohon pada Umi Kulsum, warga Desa Kedungsumur, Kecamatan Pakuniran. Di antaranya kayu mahoni, gamelina, palem, dan besi. Pohon tersebut dibeli seharga Rp. 2.750.000.

Mulsidi kemudian memotong kayu yang dibeli tersebut. Kayu gamelina dan besi dipotong menjadi beberapa bagian. Lantaran waktu menjelang malam, pemotongan tersebut dihentikan. Pemotongan kayu itu dilanjutkan beberapa hari kemudian.

Ternyata, dua jenis kayu tersebut dipotong oleh Sujoko atas suruhan Saleh dan Surip. Mulsidi yang mengetahui hal ini tidak terima. Ia melaporkan kejadian itu ke Polsek Pakuniran. Polisi kemudian melakukan penyelidikan. Gelondongan kayu dan sebagian kayu yang sudah diolah, berhasil diamankan sebagai barang bukti. (radar)