Browse By

Lampiaskan Emosi Pada Anak

Ilustrasi

GONDANGWETAN – Pendapatan sebagai sopir angkutan kota memang tidak menentu. Otomatis uang belanja yang diberikan Tole (nama samaran), 40, warga Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan juga ikut-ikutan tak pasti. Tentu saja, hal ini membuat istrinya, Minthul  (juga nama samaran), 35, tertekan.

Perekonomian keluarga yang tak tentu itu berimbas pada pola asuhan orangtua pada anak. Pasalnya, Minthul seringkali memarahi Brudul (juga nama samaran), 10, anak semata wayangnya. Tak hanya kekerasan verbal, kadang Brodul juga mendapat kekerasan fisik dari ibunya.

Tole sendiri tak bisa bersikap tegas pada istrinya. la tak berkutik dengan kondisi ekonomi yang semakin sulit. Minthul sering kali kalap dan marah melampiaskan mosinya ke Brudul, anak semata wayangnya yang tidak tahu apa-apa.

“Saat ada di rumah. Minthul sering nyubitin si Brudul. Hal itu dikeluhkan orang tua saya. Mereka tahunya karena Brudul laporan,” terangnya. Saat dinasehati, Mimhul malah ngamuk gak karuan. Akibatnya. pasangan suami istri (pasutri) ini sering bertengkar. Rumah tangga mereka menjadi tidak tenteram. Tole yang sudah tak tahan, akhirnya memilih berpisah.

Loading...

Tole sejak awal sudah berterus terang soal minimnya pendapatan dari profesinya sebagai sopir angkot. Apalagi, saat ini makin banyak masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi. “Bisa dibilang, sejak 10 tahun ini makin lama makin turun. Bahkan, saya sendiri pesimis bahwa situasi ini bisa membaik,” keluhnya.

Sejak muda, Tole yang sebelumnya jadi kernet ini memang mencari rezeki sebagai sopir angkot. Sampai akhirnya, ia bisa nyupir dan sewa angkutan. Sudah 15 tahun terakhir. Tole menggantungkan hidupnya dari pekerjaan tersebut. Dari pekerjaan ini pula, Tole akhimya bisa berkenalan dengan Minthul.

Minthul merupakan penumpang langganan Tole. Pulang pergi ke pabrik selalu pakai angkot Tole. Dari awalnya sering ketemu, Tolepon memberanikan diri untuk kenalan. “Karena beberapa kali ketemu, saya berani kenalan. Ternyata jodoh gak kemana. Terbukti hubungan kita lancar sampai ke pelaminan,” ungkapnya.

Meskipun bekerja sebagai sopir angkot, Tole tetap percaya diri. Maklum dulu pendapatannya cukup lumayan. Bahkan Minthul yang sebelumnya bekerja di pabrik, ia minta berhenti agar fokus menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak saja. Terlebih setelah Minthul hamil dan melahirkan.

Namun, kondisi berubah setelah kendaraan pribadi bukan barang mewah. Siapapun bisa kredit motor, bahkan mobil. “Baru bisa dapat tambahan rezeki, kalau ada yang butuh jasa sopir atau sewa angkutan buat ke luar kota,” jelasnya.

Dengan kondisi yang makin kembang kempis, pemberian ke istri memang makin kecil. Hal ini tentunya makin membuat ekonomi morat-marit. Bahkan seringkali mereka harus malu berhutang agar bisa makan sehari-hari. (radar)