Browse By

Wali Murid SD Jadi Korban Penelepon Gelap

KANIGARAN – Sejak dua pekan terakhir sejumlah wali murid SDN Kebonsari Kulon 2, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, mendapat teror dari penelepon gelap. Bahkan, dua wali murid sampai tertipu dengan mengirim sejumlah uang kepada penelepon.

“Memang kejadian itu betul. Sampai sekarang (kemarin,10/10) total lebih dari 15 wali murid yang mendapat telepon gelap itu. Bahkan, dua di antaranya sampai menyetorkan uang,” ujar Kepala SDN Kebonsari Kulon 2, Catur Mahanani Sulistyoari.

Guru berjilbab yang akrab di panggil Sulis itu mengatakan, dua wali muridnya itu masing-masing mentransfer Rp 5 juta dan Rp 1.5 juta kepada pelaku. Mereka baru menghubungi pihak sekolah setelah mentransfer uang yang dikatakan untuk biaya perawatan anaknya yang kecelakaan di sekolah.

Loading...

Sulis mengatakan, kejadian kali pertama terjadi pada Sabtu (30/9). Saat itu salah satu wali muridnya menerima telepon yang mengabarkan anaknya masuk rumah sakit. “Ibunya (menyebut salah satu murid berinsial S) ditelepon orang tidak dikenal. Dikatakan kalau anaknya masuk IGD, karena jatuh dikamar mandi sampai kepalanya bocor,” ujarnya.

Kepada wali murid, penipu yang dari suaranya dikenali sebagai laki-laki itu mengaku sebagai guru di SDN Kebonsari Kulon 2. Penelepon meminta sejumlah uang untuk ganti biaya pengobatan anak korban di IGD. “Mungkin karena panik, akhirnya ibunya S mentransfer uang Rp 5 juta ke rekening pelaku. Setelah mentransfer, baru datang ke IGD RSUD dr Moh. Saleh,” jelas Sulis. Sesampai di RSUD dr Moh. Saleh, mereka baru menyadari anaknya tidak ada di rumah sakit.

“Mereka (orang tua S) baru menghubungi sekolah dan tahu kalau S ada di sekolah sedang mengikuti pelajaran,” ujarnya. Upaya penipuan ini tak berhenti di sana. Selang 2 hari kemudian atau pada Senin (2/10), salah seorang wali muridnya kembali mendapat telepon serupa. Sama dengan sebelumnya, penelepon mengabarkan jika anaknya kecelakaan.

“Keterangannya juga sama dengan sebelumnya (menyebut muridnya yang berinisial M) dikabarkan jatuh di kamar mandi dan masuk IGD. Karena kepalanya bocor, wali murid itu kemudian dimintai sejumlah uang,” ujar Sulis.

Syukur, orang tua M tidak panik. Mereka lantas menghubungi pihak sekolah untuk memastikan kondisi anaknya. “Anaknya baik-baik saja di sekolah,” ujarnya. Namun, kali ketiga pelaku telepon gelap ini kembali berhasil mendapatkan uang Rp 1,5 juta. Duit ini berhasil didapat pelaku dari salah seorang wali murid SDN Kebonsari Kulon 2.

“Dari kejadian itulah, kami membuat selebaran imbauan untuk menginformasikan jika ada telepon gelap yang mengaku bahwa anaknya kecelakaan hendaknya dicek langsung ke sekolah dulu untuk memastikan kondisinya,” ujarnya.

Menurut Sulis ada beberapa nomor handphone yang digunakan pelaku untuk menghubungi korban. Diantaranya, nomor 082111363649, 082386544691, dan 081384516915. Tapi, saat saat dihubungi ketiga nomor itu tidak aktif lagi. “Nomor yang sering digunakan 082386544691,” jelas Sulis.

Sulis menduga, ada kemungkinan pelaku peneror orang dalam sekolah sendiri. Tapi, bisa juga ada data siswa yang bocor. “Namun kemungkinan data siswa bocor keluar itu kecil sekali, karena kami tidak mengkopi data siswa,” ujarnya.

Meski pihak sekolah sudah mengeluarkan imbauan, teryata penipu tak berhenti. Kemarin (10/10) pelaku kembali menelepon salah seorang wali murid dengan cara yang sama. “Tadi (kemarin) pukul 10.56 saya di telepon orang tidak dikenal. Dia mengabarkan anak saya jatuh di kamar mandi sekolah dan masuk rumah sakit. Tapi, yang bersangkutan tidak sampai minta uang karena keburu dimatikan,” ujar Endang, salah seorang wali murid yang kemarin dapat telepon gelap.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Kota Probolinggo Budi Wahyu Rianto mengaku, belum mendengar tentang kasus yang menimpa sejumlah wali murid di SDN Kebonsari Kulon 2. “Tika mendengar ceritanya ini, berarti ada data siswa yang bocor. Sampai nomor HP wali murid, nama siswa, dan kelas bisa diketahui pelaku,” ujarnya.

Budi juga menyayangkan adanya wali murid yang bisa sampai tertipu. Seharusnya bisa menyadari jika telepon tersebut bisa palsu. “Sudah banyak modus penipuan seperti itu. Amat disayangkan jika ada wali murid yang tertipu,” ujar mantan Kepala SMPN 1 Kota Probolinggo ini.

Menurutnya, adanya pelaku telepon gelap ini bisa ditelusuri pihak kepolisian jika wali murid masih menyimpan nomornya. Pihakya juga mengapresiasi langkah sekolah untuk menyebarkan imbauan kepada wali muridnya terkait kasus ini.

“Sudah tepat sekolah menyebarkan informasi itu. Tapi, tidak menutup kemungkinan akan ada kejadian serupa di sekolah itu,” ujarnya. (radar)