Browse By

Terlibat Pembunuhan, Anak Buah “Dimas Kanjeng” Divonis 10 Tahun Penjara

Terdakwa Wahyudi usai menjalani persidangan di PN Kraksaan, Selasa (10/10).

JPU-Terdakwa Kompak Banding

KRAKSAAN – Sidang kasus pembunuhan terhadap mantan Sultan Padepokan Dimas Kanjeng Ismail Hidayah dengan terdakwa Wahyudi, klimaks. Kemarin (10/10), majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan menyatakan Wahyudi terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Sehingga, divonis dengan hukuman penjara selama 10 tahun.

Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Yudistira Alfian itu, terdakwa dianggap melanggar pasal dalam dakwaan primer Jaksa Penuntut Umum (JPU). Yakni, pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. “Terdakwa Wahyudi dijatuhi hukuman pidana selama 10 tahun penjara,” ujar Yudistira dalam persidangan, kemarin.

Yudistira menyebutkan, terdakwa dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan telah ikut serta dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Ismail Hidayah pada Februari 2015. Ada sejumlah pertimbangan yang menurut hakim dapat meringankan hukuman terhadap terdakwa. Diantaranya, terdakwa bersikap sopan selama persidangan.

Loading...

“Sedangkan hal yang memberatkan, pemuatan terdakwa telah menghilangkan nyawa seseorang dan membuat masyarakat resah,” ujarnya.

Dalam persidangan sebelumnya, menurut JPU, terungkap fakta keterlibatan Wahyudi dalam kasus pembunuhan terhadap Ismail. Pembunuhan itu dilakukan bersama-sama dengan para terdakwa lain yang telah divonis lebih awal. Lima terdakwa yang sudah divonis lebih awal itu ada Mishal Budianto,  Wahyu Wijaya, Suwari, Tukijan, dan Achmad Suryono.

Karenanya, dalam persidangan sebelumnya JPU meminta majelis hakim menghukum terdakwa selama seumur hidup. Tapi, Majelis hakim berpendapat lain dan menghukum terdakwa 10 tahun penjara. Mendapati vonis yang cukup rendah itu, JPU Tridias langsung menyatakan banding. Alasannya, vonis itu jauh dari tuntutan pihaknya.

“Kalau pasal 340 KUHP dalam vonis majelis hakim terbukti. Hanya saja hukuman pidana putusan majelis hakim sangat rendah,” ujarnya. Sedangkan, penasihat hukum terdakwa Prayuda Rudy mengakui vonis itu memang jauh lebih rendah dibanding tuntutan JPU. Tapi, pihaknya tetap menyatakan banding.

Alasannya, berkas yang diajukan JPU dalam persidangan, termasuk keterangan saksi, barang bukti, dan fakta dalam persidangan tidak ada yang mengarah pada kliennya. “Jangankan divonis hukuman pidana 1 hari, kami tetap banding. Karena, tidak ada keterangan saksi, barang bukti, dan fakta dalam persidangan yang mengarah pada Pak Wahyudi,” ujarnya. (radar)