Browse By

Dicekoki Miras, Gadis Asal Malang Digilir Lima Pengamen

Keenam pelaku yang diamankan polisi. Mereka bersiap menjalani hukuman berat atas perbuatannya.

BUGUL KIDUL – Nasib kelima anak- anak asal Malang ini sungguh tragis. Niat hati hendak mencari kerja ke Situbondo, mereka malah mendapat perlakuan tak menyenangkan dari enam  pengamen. Seorang di antaranya bahkan  digagahi lima pelaku.

Pemicunya sepele. Salah seorang dari kelima anak itu, ada yang memakai jaket klub sepakbola yang identik dengan warna  biru. Peristiwa memilukan itu terjadi  pukul 20.30 pada Minggu (1/10)  malam. Informasi yang dihimpun  Jawa Pos Radar Bromo, lima  korban masing-masing IDYS,  15, L; AK, 14, L; MNZ, 15, L; St,  14, P; dan DKP, 14, P yang berasal dari Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, hendak ke Situbondo untuk mencari kerja.

Semula, mereka menumpangi minibus dari Terminal Arjosari.  Lantaran kehabisan uang, mereka turun dari minibus di simpang empat Kebonagung. “Setelah  turun, kami bingung karena kehabisan uang. Akhirnya kami jalan kaki hingga Blandongan.  Karena kelelahan, kami istirahat   disana, duduk-duduk,” tutur IDYS, 15, salah seorang korban.

Keberadaan kelima anak-anak yang sedang istirahat di utara jalan dekat Terminal Blandongan, Kecamatan Bugulkidul, Kota Pasuruan  itu, memantik amarah sekelompok  pengamen di sekitar lokasi. Itu  karena salah seorang korban berinisial AK, 14, mengenakan jaket suporter klub sepak bola yang  identik dengan warna biru.

Loading...

Tiga orang pelaku kemudian mendatangi lokasi yang hanya berjarak 300 meter dari Pos Lantas. Diantaranya Edi Santoso,  23, warga Desa Pandanrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten  Pasuruan; Ahmad Arif, 18, warga  Desa Rejoso Lor, Kecamatan  Rejoso, Kabupaten Pasuruan; serta Akhmad Maimun, 24, warga  Kelurahan Kepel, Kecamatan  Bugulkidul, Kota Pasuruan.

“Salah satu dari mereka marah, sembari ngomong kalau kami salah masuk kawasan sini,” tambah IDYS. Suasana pun kian memanas  ketika MNZ, 15, salah seorang  di antara korban tersulut emosi. “Ia sempat melontarkan kata kasar, sehingga terjadilah aksi pemukulan dari ketiga pelaku yang juga membawa sajam,” terang AKP Maryono, Kapolsek  Bugul Kidul.

Seluruh korban dikeler pelaku  ke sebuah areal persawahan.  Tepatnya di sisi utara rel Kereta  Api KA. Disana, korban memukuli MNZ hingga mengalami luka  di pelipis matanya. Saat itu, MNZ,  IDYS, dan St berhasil melarikan  diri. MNZ dan IDYS diamankan  ke rumah warga. 

“Sedangkan St masih bersembunyi di perkebunan tak jauh  dari lokasi, sebelum akhirnya di temukan oleh warga,” tambah  Maryono. Ketiga pelaku lantas  membawa AK dan DKP ke timur rel. Sesampainya di lahan kosong  dekat Tempat Pemakaman Umum (TPU), pelaku menyuruh korban AK untuk kembali ke rel KA.

Kesempatan itu digunakan oleh  AK untuk meloloskan diri. Ia pun  kabur ke area perkampungan dan bertemu dengan ketiga temannya, yang sudah dalam perlindungan warga. Sementara, DKP yang tak bisa kabur, dicekoki  minuman keras.

“Saya disuruh minum bareng mereka. Karena diancam, kalau tidak mau, teman-teman saya akan  dibunuh. Jadi saya nurut saja,”  jelas DKP saat ditemui koran ini  di Mapolsek Bugul Kidul.  Saat korban DKP tak sadarkan  diri lantaran pengaruh miras itu lah, ketiga pelaku lantas meluapkan nafsu bejatnya. Korban  disetubuhi dengan cara digilir.

“Setengah sadar, saya ingat kalau  mereka pegang ponsel. Sepertinya menghubungi temannya,”  tambah DKP. Benar saja, korban DKP kemudian dibawa pelaku ke sebuah  perkebunan pisang di sekitar simpang empat Purutrejo menggunakan motor.

Disana, sudah  ada tiga pelaku lain yang menunggu. Yakni, Mokhammad Sudarsono, 24, warga Desa Pandanrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan; Muhammad Arif, warga Kelurahan Kepel, Kecamatan Bugulkidul; serta AP, 17, warga  Desa Sambirejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.

“Dari ketiga pelaku itu, hanya dua yang melakukan pemerkosaan  terhadap korban. Pelaku AP hanya mengawasi situasi sekitar, saat  kedua temannya melakukan  tindakan itu,” tambah Maryono.

Setelah puas menggagahi DKP, korban lantas dibawa pulang  oleh AP ke rumah Edi Santoso  di Rejoso. Korban disuruh tidur  di kamar Edi Santoso, juga bersama AP.

Sementara itu, keterangan empat  teman korban yang berhasil lolos itu, memicu amarah warga setempat. Apalagi, hingga menjelang Subuh,  korban tak kunjung ditemukan.  Warga pun melaporkan kejadian itu ke Polsek Bugul Kidul.

Kapolsek Bugul Kidul, AKP  Maryono lantas mengerahkan anggotanya untuk melakukan penelusuran. Polisi menyisir sejumlah lokasi. Baik lokasi kejadian, maupun lokasi yang ditengarai menjadi tempat keberadaan pelaku.

“Kami memastikan bahwa seluruh pelaku merupakan kelompok pengamen. Atas dasar itu, kami mendatangi beberapa lokasi yang ditengarai sebagai tempat berkumpulnya pengamen- pengamen. Dari Purutrejo, Terminal Blandongan, hingga ke  pelabuhan,” ujarnya.

“Dalam upaya pengejaran itu,  kami juga di-back up tim Buser Polres Pasuruan Kota, serta Polsek Rejoso. Dari sejumlah pengamen yang kami datangi, seluruhnya  tidak mengetahui dimana alamat pelaku secara persis. Hanya,  mereka mengetahui bahwa pelaku  juga sama-sama pengamen. Rumahnya di daerah Kepel dan Rejoso,” jelasnya.

Tak hanya melibatkan polisi, pencarian juga dilakukan warga. Hingga akhirnya, pencarian itu membuahkan hasil. Seluruh pelaku berhasil ditangkap satu per  satu di rumahnya masing-masing.  Kecuali, Ahmad Maimun yang  melarikan diri ke area persawahan  di Kelurahan Kepel.

Korban DKP  juga berhasil diamankan.  Upaya pengejaran itu berakhir kemarin (2/10) sekitar pukul   07.15. Seluruh pelaku kemudian dikeler ke Mapolsek Bugulkidul  untuk menjalani proses pemeriksaan. Selain mengamankan  pelaku, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Diantaranya,  celana milik korban DKP, tiga buah ponsel pelaku, sebuah kemoceng, dan satu unit motor.

Keenam pelaku ditetapkan sebagai tersangka. Penyidik juga  menerapkan pasal berbeda. “AP dikenakan Pasal 55 dan Pasal  56, dia tak terlibat pengeroyokan dan pemerkosaan. Tapi melakukan pembiaran ketika tindakan  itu dilakukan. Bahkan, ia berperan mengawasai situasi sekitar,” jelas Maryono.

Sedangkan, Mokhammad Sudarsono dan Muhammad Arif, di jerat dengan Pasal 81 ayat 1 UU RI 35/ 2014 tentang Perlindungan Anak. Sementara Edi  Santoso, Ahmad Arif, dan Akhmad  Maimun, dikenakan pasal berlapis.

“Ketiganya dikenakan pasal  berlapis. Tentang perlindungan  anak dan pengeroyokan. Selanjutnya, kasus ini kami limpahkan  ke unit PPA Satreskrim Polres Pasuruan Kota,” tandas Maryono. (radar)