Browse By

Pengiring Doro Getak Yang Tetap Lestari

Seiring dengan perkembangan zaman, mudik dukduk dikolaborasikan dengan beragam kegiatan seni.

Sebagai musik tradisional, dukduk tetap lestari hingga kini di sejumlah daerah. Termasuk di Probolinggo.  Baik itu sebagai permainan doro getak sesuai fungsi awalnya, maupun sebagai pengiring musik yang  berkembang saat ini. Keberadaannya itu, tidak lepas dari peran pegiat seni di daerah setempat.

Laporan: MUKHAMAD ROSYIDI

DUKDUK adalah sebuah alat musik yang  bentuknya bulat dan lonjong, menyerupai kentongan. Namun, bentuknya lebih besar dari  kentongan. Bahannya juga bukan dari bambu seperti kentongan, melainkan dari kayu  nangka.

Alat musik ini terdiri dari tujuh jenis, dengan bunyi yang berbeda. Mulai duk duk duk, tak tik  tak tik dan ta ka tik ta ka tik. Setiap alat musik ini, dimainkan oleh satu orang. Sehingga, jika alat ini dimainkan berbarengan, membutuhkan tujuh  orang untuk memainkannya.

Loading...

Musik ini sendiri mulanya digunakan sebagai  permainan doro getak (penggertak burung merpati)  yang ada di desa-desa di Kota dan Kabupaten  Probolinggo. Tujuannya, agar burung merpati  terbang tinggi.  Setiap orang yang memiliki burung dara atau  merpati di rumahnya, biasanya pasti memiliki alat musik yang namanya dukduk ini.

Musik ini  dimainkan, sewaktu-waktu.  Biasanya, ada warga yang memulai permainan musik ini. Tujuannya, menerbangkan merpati mereka. Begitu ada satu musik berbunyi, warga  yang lain ikut memainkan dukduk, hingga bunyinya bersahut-sahutan.

“Kalau bunyi awalnya tak tak tak tak, itu sudah mulai terbang, tapi belum tinggi. Kalau sudah  tak duk tak duk dan iramanya semakin cepat dan menarik, burung-burung itu akan terbang tinggi,” ujar Peni Priyono,

Ketua Dewan Kesenian Kota  Probolinggo. Adapun merpati, begitu musik berbunyi, akan  terbang tinggi. Secara insting, burung-burung ini akan mengikuti suara musik  dukduk yang  paling merdu. Dalam kondisi seperti ini, burung  milik siapapun, bisa berkumpul menjadi  satu,  mengikuti suara musik yang paling merdu.

Begitu musik berhenti, burung- burung itupun akan masuk ke kandang warga, pemilik musik dukduk dengan suara paling  merdu tadi. Itu artinya, semua  burung, bisa berpindah-pindah kandang, mengikuti atau tergantung suara musik yang paling  merdu.

“Dan begitu itu sah. Kalau sudah masuk kandang warga  lain, pemilik semula tidak akan bertanya. Artinya, burung itu  kemudian menjadi pemilik pemain musik dukduk yang  lebih merdu. Dan itu sah,” jelasnya. (radar)