Browse By

Lebih Pede saat Berangkat ke Sekolah

Difabel bersyukur bisa mendapat bantuan kaki palsu. Mereka berharap kaki palsu itu memudahkan aktivitas sehari-hari.

Puluhan penyandang cacat asal Kota dan Kabupaten Probolinggo, tampak sumringah. Itu terlihat dari raut wajahnya saat  pengukuran kaki palsu   yang langsung dilakukan  oleh Sugeng Siswayudono, pengrajin kaki palsu asal  Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

ARIF MASHUDI, Kraksaan

SETIDAKNYA ada 23 penyandang difabel yang tidak memiliki kaki ataupun tangan berkumpul di alun- alun Kraksaan. Mereka berkumpul di Paseban Alun-alun Kraksaan, untuk pengukuran kaki palsu oleh Sugeng. Pengrajin asal Mojokerto yang wajahnya bolak-balik nongol di televisi itu dengan telaten mengukur satu per  satu kaki difabel.

Para difabel yang hadir itu mulai  dari anak-anak berusia 7 tahun, sampai orang dewasa. Riwayat mereka  hingga menjadi difabel pun berbeda-beda. Ada yang mengidap kelainan  atau cacat bawaan sejak lahir (pilodaktil), dan ada juga yang disebabkan karena kecelakaan. Sehingga  harus diamputasi. 

Loading...

Didik Wahyudiono, salah satu difabel mengatakan, ia sudah lama mendambakan kaki palsu yang layak dapat digunakan sehari-hari. Sejak 4 tahun silam, ia harus  menjalani kehidupannya dengan  satu kaki saja setelah terlibat kecelakaan. “Saya begini sejak 4 tahun lalu karena kecelakaan  dan harus diamputasi,” ujarnya  dengan suara pelan sedih. 

Bapak dari empat anak itu mengungkapkan, selama ini ia bekerja sebagai juru parkir di Kota Probolinggo. Dengan kondisi satu kaki, sebenarnya ia tidak mengeluh ataupun patah semangat. Namun, ia sudah lama berharap mendapat kaki palsu  yang layak dan bisa digunakan  tiap harinya.

 “Alhamdulillah, sekarang saya mendapatkan kaki palsu yang  pas dan nyaman dibuat gerak,”  ungkap pria asal Mayangan, Kota Probolinggo itu. Hal serupa diungkapkan Almira  Sabina Putri, bocah 7 tahun asal  Desa Talkandang, Kecamatan Kotaanyar.

Menurutnya, dengan kaki palsu yang dimiliki saat ini, ia bisa berangkat sekolah dengan jalan sendiri. Sehingga, tidak lagi harus didampingi ibunya. “Senang bisa punya kaki lagi. Saya sekolah PAUD bisa berangkat sendiri,” ujarnya dengan malu. 

Kaur Kesehatan Polres Probolinggo Aiptu Hendro W mengaku  terharu melihat difabel yang  bersyukur mendapatkan kaki palsu. Namun, pada saat bersamaan ia harus kecewa karena  ada difabel yang tidak bisa mendapat kaki palsu. 

“Dari 33 penyandang difabel,  hanya 23 orang yang menerima  kaki palsu ini. Minimal, ada pangkal paha agar kaki palsu ini bisa menopang,” terangnya. Ia berharap, agenda bagi-bagi kaki palsu oleh Polres Probolinggo ini, memberikan manfaat. (radar)