Browse By

Dua Penambang Batu Tewas Tertimbun Longsor

Sejumlah warga masih terlihat di lokasi longsoran tanah yang merenggut dua penambang kemarin.

Proses Evakuasi Memakan Waktu Satu Jam

PRIGEN – Dua orang penambang batu tradisional di Dusun/Desa Sekarjoho, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan,  kemarin (28/9) bernasib tragis. Keduanya tewas setelah tertimbun material galian setinggi 6 meter yang mengalami longsor.

Warga baru berhasil mengevakuasi korban satu jam kemudian. Kedua korban yakni Solikan, 49, warga Dusun/Desa Sekarjoho, Kecamatan Prigen dan Uripan, 51, asal Dusun Jibru, Desa Belik, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Setelah berhasil dievakuasi, keduanya kemudian dibawa pulang ke rumah masing-masing untuk dimakamkan. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, empat penambang batu kemarin melakukan aktivitas penambangan tradisional di lokasi tambang milik Samdomo, 70, warga setempat. Selain kedua korban, juga ada dua warga lainnya.

Loading...

“Sejak pagi kami melihat empat orang pekerja sedang melakukan penggalian batu secara tradisional di lokasi. Lalu, tanah  longsor dan menimpa dua orang penambang,” beber Ruslan, salah satu saksi mata kejadian tersebut.

Saat itu, Ruslan tengah bekerja sebagai tukang bangunan di pondok pesantren dekat TKP. Sekitar pukul 08.30, tiba-tanah tanah di lokasi dengan ketinggian sekitar enam meter itu longsor. Jika kedua penambang lainnya selamat, tidak demikian halnya dengan Solikan dan Uripan.

Kedua pekerja yang selamat berlarian meminta tolong. Warga setempat yang mendengar kejadian itu kangsung berhamburan. Puluhan warga yang tiba di  lokasi, langsung melakukan proses pencarian dengan cara manual. Proses evakuasi korban  dari longsoran memakan waktu  yang lama. Yakni sekitar satu  jam.

Warga harus berhati-hati,   khawatir cangkul yang digunakan untuk menggali material long sor mengenai korban.  “Saat ditemukan, kedua korban sudah meninggal. Masing-masing mengalami luka-luka lecet  pada wajah, kaki, dan tangan,”   terangnya.

Bambang, Kasun Sekarjoho mengatakan, sebelum kejadian,  para pekerja sempat diingatkan  warga untuk berhati-hati. Pasalnya, malam sebelum peristiwa nahas itu, lokasi kejadian diguyur hujan.  Warga khawatir, lokasi tambang itu longsor. Dan kekhawatiran warga benar-benar terjadi.

Terkait tindak lanjut peristiwa tersebut, Bambang menyebut jika pihak keluarga dan pemilik  tambang sepakat damai dan  tidak melaporkan kejadian ini ke polisi. “Pihak keluarga menolak di bawa ke rumah sakit untuk visum. Mereka memilih menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan,” ungkapnya.

Keberadaan aktivitas penambangan batu ini menurut Bambang sudah berlangsung sebulan terakhir. Batu berukuran besar dan  sedang yang didapat di lokasi  tersebut, dipecah menjadi ukuran  kecil untuk dijual. “Pasca kejadian ini, pencarian batu di lokasi tersebut dihentikan. Pihak  desa tidak ingin aktivitas tersebut  dilanjutkan, agar tidak memakan korban jiwa lagi,” tegasnya.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Prigen Ipda Slamet mengatakan, meski diduga adanya unsur kelalaian, pihaknya tidak  akan melakukan penyelidikan.  Alasannya, karena keluarga dan pemilik tambang sepakat damai.  “Soal surat tidak ingin menuntut sampai kompensasi, diselesaikan secara kekeluargaan,” katanya. (radar)