Browse By

TKW Grati Tak Digaji Selama 3 Tahun

GRATI – Sungguh malang nasib yang dialami Siti Saida alias Fifi Indrawati, 37. Niatannya untuk bekerja sebagai TKI di Malaysia  justru harus berakhir pilu. Betapa  tidak, selama bekerja tiga tahun  di negeri jiran, dia pernah tak digaji sekalipun oleh majikannya.

Beruntung Siti bisa dipulangkan ke kampung halamannya, meski dengan keterbatasannya. Siti memang tidak sampai mengalami siksaan fisik. Namun dia tersiksa secara psikologis, karena bekerja tiga tahun dengan hasil nol.

Upaya Jawa Pos Radar Bromo untuk menelururi informasi tentang nasib yang dialami Siti itu  juga sangat minim. Hal itu lantaran Siti kini telah bertolak ke Situbondo, setelah dipulangkan  beberapa hari yang lalu. Saat mengunjungi rumahnya di  Dusun Dawe Wetan, Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati, wartawan koran ini hanya ditemui Wiwik, 53, yang merupakan ibu  korban.

Loading...

Ia pun tak mengerti banyak bagaimana cerita tentang anaknya hingga keberangkatannya menuju Malaysia. Pasalnya, Wiwik mengaku,  Siti Saida memang tipikal anak yang tertutup.   “Ia jarang sekali cerita tentang masalahnya kepada keluarga. Tahu-tahunya dia sudah di Malaysia, dengan masalah yang di alaminya itu,” ujarnya.

Sementara itu, perangkat desa  Sumberdawesari, M Ainun Naim  menjelaskan kronologis permasalahan yang dialami Siti selama  ini. Menurutnya, Siti ke Malaysia  itu lantaran kondisinya yang mendesak. Apalagi, setelah kabur  dari suami sirinya di Jember,  sekitr tiga tahun silam.

Singkatnya, teman korban itu mengenalkannya kepada sponsor  asal Jember, yakni E. Ia diberikan iming-iming gaji yang fantastis yakni Rp 3 juta per bulan untuk  bekerja sebagai baby sitter di  Malaysia. Siti pun berangkat ke Malaysia dengan tiga calon TKI  asal Jember.

Selepas pembuatan paspor rampung, Siti berangkat ke Batam. Selama disana, Siti sempat bermukim ditempat penampungan yang disediakan oleh sponsor.  Namun, hingga bertolak ke Johor  Bahru, Malaysia, Siti pun tak  mendapatkan pelatihan atau pun  medical check up selayaknya jalur  resmi agen TKI.

Hingga Siti mendapat pekerjaan baru. Sayang, pekerjaan yang  berat membuatnya hanya mampu bertahan selama tiga bulan. Sampai kemudian Siti kembali  bekerja di sebuah rumah makan di Johor. Gaji yang dijanjikannya  yakni 750 Ringgit, dengan peningkatan gaji setiap tahunnya. Namun, apa yang dialaminya lebih parah.

“Di tempat keduanya bekerja, Siti harus bekerja mulai pukul 06.00 sampai 01.00. Bahkan  kalau rumah makan banyak tamu, dia bisa bekerja sampai pukul 03.00. Atau hanya punya waktu  sekitar 2-3 jam untuk istirahat,”  beber M Ainun Naim, perangkat  Desa Sumberdawesari.

Karena tekanan itulah akhirnya  Siti keluar lagi dari pekerjaannya  sebagai juru masak di rumah makan. Siti harus ikhlas, tak menerima gaji selama 3 tahun. Beruntung Siti kemudian menemukan majikan yang ketiga. Dia  pun digaji layak yakni 1000 Ringgit. Sayangnya, majikan ketiga  Siti diliputi rasa khawatir.

Penyebabnya, Siti dinilai TKI ilegal. Kisah itulah yang akhirnya membuat Siti kembali ke tanah air. Kepulangannya juga berkat KJRI yang peduli. Dia pun berhasil   pulang ke kampung halamannya. Tapi, ironi kembali terjadi.

Terpisah, Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Pasuruan, Agus Hernawan mengungkapkan bahwa pihaknya akan  menindaklanjuti perkara tersebut. Ia belum dapat memastikan jalur yang ditempuh Siti untuk bekerja di luar negeri. Sebab, ia juga harus memeriksa keabsahan statusnya  sebagai TKI melalui berkas-berkas.  (radar)