Browse By

Menjemput Sunrise di Bukit Matahari, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura

Sunrise dinikmati dari bukit matahari. Di bukit ini, juga bisa melihat keindahan 5 gunung

Rute Menantang, Terbayar dengan Keindahan Alam

Lokasi wisata tidak sekadar dinikmati tanpa diabadikan. Begitu prinsip sejumlah fotografer yang memotret matahari terbit dari bukit Matahari. Seperti apa?

MUKHAMAD ROSYIDI, Sukapura

DINI hari sekitar pukul 02.30, terdengar suara motor menderu-deru di halaman rumah Kepala Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Suwandi.  Mereka adalah ojek gunung yang tiap harinya mengangkut sayuran hasil panen warga untuk di bawa ke pasar.

Loading...

Termasuk mengangkut sayuran milik Suwandi. Rutinitas seperti itu menjadi  aktivitas sehari-hari warga setempat. Padahal, pada jam-jam itu, matahari belum beranjak dari peraduannya. Dan, kedatangan mereka menjadi penanda bagi sejumlah fotografer yang sejak  semalam menginap di rumah  kades. Tujuan mereka adalah menjemput matahari terbit.  

Untuk bisa ke Bukit Matahari di Desa Sapikerep, Sukapura, wisatawan harus melintasi medan yang cukup terjal.

Para juru foto itu langsung melakukan persiapan. Tak hanya peralatan memotret, mereka juga harus melindungi tubuh dengan  jaket dan baju hangat dari dingin  yang menusuk tulang. Nah, sebagian dari tukang ojek yang  berada di depan rumah kades tersebut, menjadi tumpangan para fotografer.

Setelah semuanya siap, perjalanan menuju kemunculan matahari terbit dimulai. Semula rombongan tidak membayangkan  akan melewati jalur yang ekstrem.  Namun, setengah perjalanan kemudian jalur berubah. Bagi tukang ojek, rute menantang  ini sudah biasa.

Tetapi bagi rombongan itu, menjadi pengalaman  baru. Maklum, jalan tersebut hanya cukup dilalui oleh satu kendaraan saja. Dan, di satu sisinya, adalah jurang yang dalam. Tak jarang, fotografer-fotografer  ini berpegangan erat pada para tukang ojek.

Sesekali kendaraan yang ditumpangi salah satu dari rombongan terjatuh, setelah motornya menikung tajam.  Namun, sulitnya medan, tak menyiutkan nyali rombongan untuk tetap berangkat ke lokasi  yang diberi nama bukit Matahari.

Setelah beberapa menit melalui jalur yang cukup membuat jantung serasa mau copot. Rombongan akhirnya tiba di lokasi tujuan. Setelah turun dari motor, rombongan masih harus berjalan sekitar 15 menit. Rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 04.30. Tak perlu berlama-lama, para juru foto ini mempersiapkan peralatan tempurnya untuk mengabadikan momen  alam yang akan terjadi. Tepat pukul 05.20, raja siang mulai menampakkan diri.

“View-nya bagus.  Tidak rugi datang ke sini, meskipun medannya berat,” kata salah seorang fotografer, Zulkifli. Bukit yang berada di ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini, pemandangan sejumlah gunung di sekitarnya terlihat.

Mulai Gunung  Argopuro, Gunung Lamongan, Gunung Kedasih, Gunung Sambinongko, dan Gunung Duk. Zainal Arifin, fotografer Jawa Pos Radar Bromo mengatakan, lokasi bukit yang belum banyak  terjamah manusia, menjadi keistimewaan tersendiri.

“Bagi Anda yang suka fotografi, wajib untuk mencoba spot yang ada di sini,” ucapnya. Suwandi mengatakan, bukit Matahari sebelumnya dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan Keduk’an atau Gunung Entong.  Karena bentuknya yang mirip  dengan entong nasi. Karena dari  lokasi itu, banyak bunga matahari dan juga matahari terbit terlihat  bagus, maka warga kemudian  menjuluki Gunung Keduk’an menjadi bukit Matahari.

Yulius Christian, camat Sukapura  yang juga mempuyai hobi fotografi mengatakan, spot pengambilan  foto sunrise di bukit Matahari ini  berbeda dengan lokasi lain. “Di sini lebih bagus. Selain melihat  gunung, di sini kita juga bisa  melihat lautan,” ujarnya. (radar)