Browse By

Kalah Garang dengan Istri

Ilustrasi

MAYANGAN – Biasanya, seorang suami merasa lebih perkasa daripada sang istri. Tak ayal, banyak peristiwa Kekerasan Dalam  Rumah Tangga (KDRT) yang mendudukkan  pria sebagai pelakunya. Tapi, itu tak berlaku  bagi pasangan Tole, 30 dan Minthul, 26,  warga Kecamatan Mayangan, Kota  Probolinggo. Sebab, justru Minthul yang tega  menganiaya sang suami. 

Diketahui, Minthul selama ini memang ringan tangan. Tole sangat sering mendapatkan  penganiayaan dari istrinya. Mulai digigit, dicakar, sampai ditendang. Sementara Tole tak  bisa banyak. Pasalnya, hidup Tole selama ini sangat tergantung pada Minthul. Maklum, Minthul merupakan anak orang kaya yang kini meneruskan bisnis orang tuanya.

“Saya menikah dengan dia karena kepincut hartanya,” kata Tole. Dalam pikirannya, enak jadi menantu  orang kaya. Karena ia tak perlu  susah-suah bekerja. Namun, kenyataannya berkata lain. Ia jadi sansak hidup istrinya.

“Saya enggak tahu kenapa punya istri yang wataknya begitu. Seperti orang gak waras. Ini, lebam di  pukul istri,” kata Tole dengan  logat Madura-nya itu. Bak pemain tinju, sang istri bisa sewaktu-waktu meninju bahkan menghajar  dirinya habis-habisan. “Apalagi kalau ada masalah, saya sering jadi sasaran,” imbuhnya.

Loading...

Tak hanya persoalan serius yang  membuat sang istri kalap. Kadang kala, persoalan ringan pun, yang  tidak ada sangkut pautnya dengan  istrinya, justru memicu persoalan. Misalnya saat Tole menerima  telepon dari temannya. Karena  terbiasa dengan nada tinggi, komunikasi Tole dengan temannya mirip orang teriak. Hal itu  membuat Minthul sakit hati.

“Logat saya memang begini, ngomongnya keras,” kata dia. Saat asyik telepon, istrinya yang jengkel dengan aktivitas suaminya itu, langsung  mengambil telepon di genggamannya. Pertengkaran terjadi. Seperti biasa, Tole pun dicakar  sampai ditendang oleh istrinya.

“Mau ngelawan agak takut, soalnya di rumah mertua. Ada mertua dan saudara istri. Nanti ujung- ujungnya tetap saya yang disalahkan,” katanya. Karena itu, Tole pasrah saat dianiaya sang istri di  dalam kamar. “Lebih baik saya diam  saja. Daripada kedengeran orang rumah,” imbuhnya pasrah.

Karena tak tahan dengan sikap  istrinya, Tole akhirnya meminta izin pada mertuanya untuk bercerai. Awalnya ditolak, namun  sang mertua sadar melihat menantunya tertekan. Apalagi, selama tiga tahun menikah, pasangan suami istri (pasutri) ini tak kunjung dikaruniai anak. (radar)