Browse By

Utang Sana-Sini, Ingin Berhenti Sekolah untuk Bekerja

Depora saat merawat ibu (belakang) dan neneknya. Baik ibu maupun neneknya dalam kondisi sakit.

DERETAN rumah langsung terlihat saat masuk Gang Lele, RT 4/RW 2, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.  Deretan rumah itu terlihat kumuh. Salah  satunya rumah milik Sukmira, 83, warga  setempat.

Saat wartawan koran ini ke rumah itu kemarin, Sukmira sedang terbaring di kasurnya yang lusuh. Lantaran usianya yang tidak muda lagi,  sejak tiga tahun lalu, dia menderita stroke  dan pengapuran. Sejak saat itu, Sukmira hanya  bisa tiduran di kasurnya.

Tidak sendirian. Di rumah itu, Sukmira tinggal  bersama anaknya, Betaria Yuniarti, 40 dan  dua cucunya. Yaitu, Depora Febriani, 16, dan Gabriel Bima Sanjaya, 8. Betaria yang kini berstatus janda itu, ditinggal mati suaminya, Abdul Halim, empat tahun  lalu. Tepatnya pada 25 Agustus 2013.

Sejak saat itu, Depora dan adiknya, Gabriel, kehilangan sosok ayah. Kehidupan mereka  pun berubah drastis. Jika sebelumnya tinggal di rumah besar di Tajungan, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, mereka kemudian harus tinggal di rumah kumuh  bersama Sukmira.

Loading...

Dengan kondisi yang makin sulit, akhirnya Depora dan Adiknya, Gabriel dititipkan di panti asuhan NU di Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan. Mereka dititipkan sejak tiga tahun lalu. Atau, sejak ayah keduanya meninggal. Depora tinggal di panti asuhan.

Sementara Gabriel,  tetap tinggal bersama ibunya dan neneknya. Hanya saja, biayanya  ditanggung panti asuhan.  Namun, cobaan datang silih berganti. Pada tanggal 4 September 2017, Pakde dari Depora yang tinggal serumah yakni, Sudarso, 73, meninggal.

Sejak saat itu, tidak ada lagi yang bisa bekerja untuk memberikan nafkah. Padahal, sejak ayah Depora meninggal,  Sudarso membantu memberikan  nafkah pada keluarga Depora. Meskipun tidak seberapa. Alhasil, keluarga Depora hanya  bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan cara utang sana dan sini. Gali lubang, tutup lubang. Belum lagi sejak satu tahun lalu, Betaria, ibu Depora sakit infeksi radang tenggorokan.

Suaranya  menghilang dan tak jarang batuk disertai gumpalan darah keluar dari mulutnya. Bahkan, beberapa minggu  lalu, Betaria lemas terkapar karena penyakitnya. Sementara biaya untuk pengobatan tak ada.   Alhasil, dia hanya bisa diam di  rumah reyot bersama dengan  Sukmira, ibunya. 

Sama-sama sakit membuat  keduanya tidak berdaya. Hanya  Depora yang jadi tumpuan keduanya. Maka, sejak satu tahun  lalu, Depora bolak-balik panti asuhan dan rumahnya untuk  merawat dua perempuan yang dicintainya itu. 

Saat kondisi keduanya sehat, Depora kembali ke panti asuhan. Jika kondisi keduanya sakit atau  kondisinya memburuk, Depora  kembali ke rumahnya.  Untungnya, Depora juga mendapat beasiswa dari sekolahnya, MAN 2 Probolinggo.

Beasiswa itu didapat karena prestasinya meraih juara listening bahasa Inggris tahun 2016 tingkat Kota Probolinggo. Selama kelas 1 itu, Depora tidak perlu membayar  biaya apapun selama sekolah.  Dia juga mendapat bantuan beras dari panti asuhan sebanyak 5 kg tiap bulan. Dan, dana PKH sebesar 500 ribu.

Namun, uang tersebut habis dibayarkan utang sana-sini untuk memenuhi kebutuhan yang kian meningkat. Karena kondisi itu, gadis 16 tahun itu berniat untuk bekerja  dan tidak meneruskan sekolahnya. Di sisi lain, dengan tidak bekerja, dia bisa menjaga ibu dan neneknya yang sedang sakit.

“Sekolah pulang jam lima, saya khawatir tak ada yang mengurus ibu dan nenek saya,” tuturnya. Kekhawatiran itu beralasan. Saat Pakdenya meninggal, menurut Depora, tidak ada warga  sekitar yang membantu untuk   memandikan pakdenya. Alasannya, karena pakde dari Depora bukan warga setempat.

“Saya dan ibu juga bukan  warga sini. Kami dari Tajungan, Mangunharjo. Lantaran ibu saya  ditipu orang, maka rumah di  sana dijual dan kami tinggal di sini,” terangnya. Niat tidak melanjutkan sekolah  kian bulat, melihat kondisi rumah  kalang kabut. Ibu dan nenek sakit, utang sana-sini, belum lagi harus mengurus adiknya yang  bersekolah di SDN Jati 4.

“Jika memikirkan semuanya, saya berkeinginan untuk berhenti saja sekolah. Saya mau cari kerja demi mengubah hidup saya,” beber gadis itu sambil  meneteskan air mata.  Namun, kakak-kakaknya di  panti asuhan melarangnya berhenti.

“Kakak-kakak melarang saya berhenti sekolah. Mereka  minta saya tidak menyerah pada keadaan. Mereka minta saya terus sekolah dan mengejar   cita-cita,” tuturnya sambil mengusap air mata. Depora yang ingin menjadi  jaksa itu, saat ini berniat untuk  terus belajar. Namun, juga bisa merawat ibu dan neneknya. Baginya, dengan pendidikan yang  cukup, paling tidak derajatnya akan naik.

“Cita-cita saya, kepingin jadi jaksa. Sehingga, saya  bisa mengubah hidup keluarga saya,” tuturnya. Betaria sendiri bangga dengan  anak sulungnya itu. Namun, dia  mengaku tidak bisa berbuat apa- apa. Hidupnya kini jauh berbeda dibanding dengan saat bersama suaminya. Saat itu ia  memiliki rumah yang cukup besar dan berlantai dua di Tajungan, Mangunharjo. Sebelum  kemudian tertipu oleh rekan bisnisnya. (radar)