Browse By

Sakit, Tahanan Polsek Bantaran Meninggal

Ilustrasi

Lima Hari Dirawat di RSUD dr Mohamad Saleh

BANTARAN – Rudiharto, 29, salah seorang tahanan Polsek Bantaran, Kabupaten Probolinggo meninggal dunia, kemarin (9/9). Rudi–sapaan akrabnya–yang terlibat kasus pembunuhan pada Rohman, warga Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran itu, ternyata  mengidap penyakit hepatitis akut dan gagal hati.

Kapolsek Bantaran AKP Sujianto membenarkan kabar kematian  Rudi. Ia mengatakan, sebelum meninggal, Rudi sempat dibawa ke RSUD dr Mohamad Saleh,  Senin (4/9) lalu. “Rudi meninggal di rumah sakit sekitar pukul 02.00  dini hari. Ia masuk rumah sakit  lima hari lalu,” terangnya.

Sujianto mengatakan, Rudi mengidap penyakit tersebut sudah lama. Jauh sebelum ia di tahan karena tindakan kriminal. Hal  itu ia ketahui dari keterangan  keluarganya. Lima hari sebelum meninggal, kondisi Rudi semakin  memburuk. Karena itu, pihaknya  membawa ke rumah sakit.

Loading...

Sayangnya, nyawa pria asal Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran itu tak tertolong. Pihak  keluarga sendiri menurut Sujianto menerima takdir tersebut.  Jenazahnya dimakamkan sekitar  pukul 08.00. “Kalau pihak keluarga tidak ada yang memperkarakan.  Sebab mereka juga mengetahui  penyakit yang dialami Rudi,” bebernya.

Sementara itu, pihak rumah  sakit sendiri membenarkan kematian Rudi. Salah seorang perawat jaga di ruang Flamboyan,  Rudi meninggal sekitar pukul  02.00 di ruang Flamboyan, tempatnya dirawat. Ia meninggal lantaran sakit.

“Untuk jelasnya, meninggalnya jam berapa, diambil atau dibawa pulang jam berapa, serta penyakitnya apa, langsung ke Bu Ane selaku penanggung jawab ruang  Flamboyan. Namun, saat ini Bu Ane beserta wakilnya sedang  rapat. Tidak tahu sampai pukul  berapa,” terang perawat yang meminta namanya tidak dikorankan itu.

Diberitakan sebelumnya, Rudi ditangkap lantaran terlibat kasus pembunuhan terhadap, Rohman, 29, warga RT 5/RW 2, Dusun Kapuran, Desa Patokan, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo. Rohman, 29, dibantai hingga tewas pada malam takbir, sebelum Hari Raya Idul Fitri.

Diduga, motif pembunuhan itu dilatarbelakangi  masalah asmara. Rohman dibunuh di rumahnya  saat Salat Isya, tepatnya sekitar  pukul 19.00. Nima, 28, istri Rohman menjadi saksi mata saat  suaminya dibantai. Pelakunya  adalah Taufik, dan Rudi, 25, yang  punya hubungan keluarga. Dalam  hal ini paman dan keponakan.

Saat itu, Nima tengah duduk  di teras rumah bersama Felly, 9, anaknya. Tiba-tiba, paman  dan keponakan itu datang menenteng celurit. Melihat gelagat buruk itu, Nima berusaha menghadang kedua pelaku, namun  tak berhasil.

Keduanya terus memaksa masuk ke dalam rumah, dan bermaksud menemui   Rohman.  Rohman yang kala itu masih  Salat, langsung dibacok di kepala bagian belakang oleh Taufik.  Sekali bacok, Rohman langsung tersungkur. Nah, setelah itu giliran Rudi yang membacok pria kelahiran Desa Kramat Agung,  Kecamatan Bantaran itu hingga  tak berdaya.

Diketahui, hubungan Rohman  dengan Taufik tengah bermasalah. Taufik menuduh Rohman menjalin asmara dengan Wiwin Indah Wahyuni, istrinya. Taufik mengetahui adanya dugaan affair tersebut, setelah mendapati SMS mesra istrinya dengan korban. (radar)