Browse By

Tari Sodoran, Lambang Pertemuan Asal Mula Manusia

Tari Sodoran di Hari raya Karo yang dibawakan pemuda setempat, merupakan ritual yang wajib dibawakan sebagai lambang pertemuan asal mula manusia.

TOSARI – Masyarakat suku Tengger di Gunung Bromo yang bermukim di Brang Kulon, menjalankan upacara Hari Raya Karo (6/9) kemarin. Perayaan Karo atau istilah sebutan Hari Raya Kedua itu, merupakan wujud rasa syukur warga Tengger  terhadap leluhur. Puncak pembukaan upacara tradisi itu, diawali dengan ritual Tari Sodoran.

Tari Sodoran sendiri merupakan ritual tradisi sakral, yang melambangkan pertemuan dua bibit manusia. Yakni, laki-laki dan perempuan. Dari keduanya, dimulailah kehidupan alam  semesta. “Pertemuan antara laki dan perempuan, ini yang menjadikan manusia pertama,” kata Eko Warnoto, Dukun  Pandita Suku Tengger.

Sebelumnya, para temanten  itu mengikuti ritual memohon  pangestu punden atau restu pemilik makam. Setelah itu, temanten diarak menuju balai desa  Tosari. Dalam tarian itu, masing-  masing penari membawa sebuah tongkat bambu berserabut  kelapa yang didalamnya terdapat biji-bijian dari palawija.

Bagi kalangan masyarakat suku Tengger, biji-bijian yang dipecahkan dari dalam tongkat itu, dipercaya akan memberikan  kelestarian keturunan bagi setiap  pasangan. Sedikitnya, ada 13 kelompok temanten Sodoran  dalam ritual tersebut.

Loading...

Belasan kelompok itu berasal dari Kecamatan Tosari, Kecamatan Puspo,  dan Kecamatan Tutur.  Warnoto mengungkapkan,  tradisi Karo itu memang telah menjadi agenda keagamaan setiap tahun. Dari masa ke masa, jalannya tradisi tersebut memang tak ada perbedaan. Menurut dia, perbedaan yang tampak lebih kepada personel penari Sodoran saja.

“Tidak ada yang berbeda terkait esensi ritual. Kami menjalankan dari tahun ke tahun seperti ini, hanya penarinya yang  beda. Ada regenerasi,” ungkapnya. Pembukaan upacara tradisi Hari Raya Karo sendiri, sejatinya  telah berlangsung sejak Selasa  sore lalu.

Menurut Eko, ada beberapa tahapan dalam rangkaian pembukaan Hari Raya  Karo, sebelum ditutup dengan Tari Sodoran sebagai puncak acara pembukaan itu.  “Selasa kemarin, pembukaan  Karo yang diawali dengan ritual Walagara dan Kayapan Agung  yang dimaksudkan untuk menyucikan alam semesta. Setelah itu, rangkaian ritual itu juga ditujukan untuk menurunkan leluhur di Tengger. Kami memohon  doa restu agar alam semesta  senantiasa tenteram dan damai,” bebernya. (radar)