Browse By

Bisa Bernapas karena Lubang di Leher

Kondisi Suci pasca disiram cairan kimia oleh mantan kekasihnya

SUASANA rumah kediaman Suci Sri Kusmiyati, 26, di Dusun Krawan, Desa Kedawung Wetan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, kemarin  (5/9) tampak sepi. Meski demikian, pintu rumah dari kayu yang dicat oranye itu, dibiarkan terbuka.

Dari luar terlihat sosok perempuan memakai daster  warna oranye membelakangi ruang tamu.  Wartawan Jawa Pos Radar Bromo kemudian mengucapkan salam sebagai tanda hendak bertamu. Namun, perempuan tersebut justru berdiri dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian,  perempuan setengah baya dan berjilbab hijau tua, keluar menyambut kehadiran koran ini.

Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, perempuan yang diketahui bernama Nasikah, 40, itu menyilakan wartawan koran  ini untuk masuk. Kondisi ruang  tamu yang berukuran 3 x 5 meter itu tampak sederhana. Selain  kursi kayu dan meja tamu, tak banyak perabot lain di dalamnya.

Di ruang tengah, terlihat sebuah  kasur yang digunakan untuk  menonton TV. Nasikah lantas meminta maaf, perempuan tadi yang ternyata adalah Suci, masih enggan bertemu banyak orang. Karena itu, putrinya tadi memilih masuk ke  kamarnya.

Loading...

Nasikah lantas masuk  ke dalam rumah. Rupanya ia membujuk Suci untuk keluar dan menemui koran ini. Dengan susah payah, Suci kemudian datang ke ruang tamu. Kondisi kedua kelopak matanya yang menempel, membuat penglihatannya terganggu. Karena itu lah, ia sangat kesulitan untuk berjalan.

“Maaf, mata saya memang hanya kiri yang masih bisa melihat, itu pun juga buram,” ujar Suci mengawali pembi caraannya.  Dari luar, kondisi wajahnya terlihat melepuh dan memerah. Di bahu sampai lengan kanan,  masih diperban lantaran lukanya   mengeras.

Tangan kanannya juga melepuh, namun sudah mengering. Yang mengenaskan, ada lubang di bagian lehernya. Suci mengatakan, lubang itu yang menyelamatkan hidupnya. Lantaran dari lubang itulah, ia bisa bernapas setelah menjalani operasi.

Suci lantas menceritakan awal   mula dirinya hijrah ke Malaysia untuk mengadu nasib. Suci mengatakan, ia bekerja di Malaysia  hampir 2 tahun lamanya. Setelah  berpisah dengan suaminya, Suci sempat beberapa kali bekerja di sebuah pabrik di Pasuruan.  Sampai kemudian, ia memutuskan untuk bekerja sebagai  TKW di negeri jiran pada 2015   lalu. Di Malaysia, ia bekerja di pabrik tekstil yang ada di Selangor.

“Akhirnya saya memilih bekerja  di Malaysia. Tujuan saya waktu itu, adalah fokus untuk membesarkan Nadya, anak saya satu-satunya,” ungkapnya. Nadya Sintya Septian, 6, adalah anak dari pernikahan pertamanya.  Sampai akhirnya, nasib nahas  menimpanya. Tepatnya pada  hari Minggu, 16 Juli 2017 lalu. Saat itu, Suci berniat pergi ke kedai untuk membeli makan  siang.

“Waktu itu saya berjalan sendirian. Dari belakang ada suara memanggil nama saya.  Otomatis saya nengok ke belakang,” ujarnya.  Kagetlah dia, saat itu yang dilihatnya adalah mantan pacarnya yang asal Bangladesh, tiba- tiba menyiramkan air keras ke  wajahnya.

Saat itu, Suci merasa  perih dan kepanasan. Suci mengaku sama sekali tak bisa teriak. Ia hanya merasakan bagian mukanya melepuh dan kesulitan bernapas. Akibat kejadian itu,  Suci pingsan 2 hari lamanya.  “Saya kaget tiba-tiba sudah be rada di rumah sakit. Saat itu saya sudah kesulitan bernapas,  termasuk melihat. Bahkan, saya   hanya merasakah perih dan bau daging menyengat dan terasa  ada asapnya,” ungkapnya.

Ia di rawat di Rumah Sakit Tengku Ampuan Rahimah Klang, Selangor, dari 16 Juli sampai 14  Agustus.  Dari awal perawatan, ia beberapa kali koma. Seketika, muncul   rasa putus asa dan berharap Tuhan mencabut nyawanya. Mak lum, ia merasakan sakit yang amat sangat dan kesulitan napas.

“Akhirnya, saya diberi lubang di  tenggorokan agar bisa bernapas. Ini, yang menyelamatkan hidup saya,” ungkapnya.  Kemudian pada 14 Agustus  sam pai 28 Agustus, Suci dipindahkan di RS AL Islam, Kuala Lumpur. Semua perawatan di  Ma laysia, memang ditanggung oleh Kedutaan Besar Republik  Indonesia (KBRI) di Malaysia.

Sampai pada 28 Agustus, ia tinggal di kantor kedutaan. Hingga akhirnya, per 1 September kemarin, ia dipulangkan ke Pasuruan melalui Bandara Juanda. Suci mengaku dijemput  Disnaker Kabupaten Pasuruan dan diantar ke rumah. Suci mengaku, saat pulang dirinya memang tak membawa  apa-apa. Selain baju yang melekat di tubuhnya dan baju yang di beri saat ia berada di KBRI.

 “Semua barang saya di indekos  katanya sudah dibuang sama tuan  rumah. Baik laptop, baju, dan barang-barang semuanya sampai uang juga. Jadi, saya pulang gak bawa apapun,” ujarnya sedih.  Bahkan, untuk kontrol ke RSUD  Bangil, mereka harus naik bus.  Lantaran saat ini, ia dan keluarga  masih kesulitan biaya.

Suci mengatakan, kebiadaban yang ia terima dari mantan kekasihnya itu, lantaran dendam, keinginan  pria itu kembali untuk memadu  kasih, ditolak olehnya. Nasikah sendiri mengaku sedih  atas apa yang menimpa putri   sulungnya itu.

“Padahal berangkat cantik, kok pulangnya kayak gini.  Jelas sedih,” ungkapnya. Nasikah  juga mengaku sulit mencari biaya berobat. Ia berharap ada uluran tangan dari pemerintah maupun donatur agar putri pertama dari 3 bersaudara ini bisa sembuh dan dapat beraktivitas  seperti sebelumnya.

Agus Hernawan, pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Pasuruan mengatakan, saat ini Disnaker berkoordinasi baik dengan BPJS Kesehatan maupun  Dinas Sosial (Dinsos) agar Suci  bisa mendapatkan bantuan perawatan hingga sembuh.

“Termasuk Kamis (besok, Red)  ini, rencananya akan ada kunjungan dari BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) untuk melihat kondisi Suci,” ungkapnya. Harapannya, baik  pusat maupun daerah bisa memberikan bantuan perawatan agar Suci sembuh total dan bisa beraktivitas lagi. (radar)