Browse By

Tragis, Kaki Putus usai Disambar KA

Tubuh perempuan yang diduga pengamen usai tertabrak KA Mutiara Timur, Minggu (3/9) siang

Ditemukan Sebotol Miras Oplosan

GRATI – Tragis nian ujung hidup Aisyah Ramadani, 16, seorang remaja asal Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Gadis itu tersambar tersambar Kereta Api Mutiara Timur jurusan Banyuwangi-Surabaya di Dusun Mangkrengan, Desa  Sumberagung, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, siang kemarin (3/9).

Kuat diduga, Aisyah saat itu tak menyadari keberadaan KA yang akan melintas. Sebab, posisinya  tengah rebahan di rel KA, dengan  kepala membujur ke selatan. Disaat yang sama, kawan-kawannya juga tak mengetahui kedatangan kereta, lantaran diduga sedang asyik pesta minuman keras.

Informasi yang dihimpun Jawa  Pos Radar Bromo, saat kejadian  nahas itu menimpanya, korban  memang tak sendiri. Ada beberapa kawannya yang juga tengah berada di sekitar rel KA, tepatnya  di KM 74+4/5 arah barat.  Diperkirakan, sebanyak lima  remaja lainnya berkumpul disana. Diantaranya, tiga orang pria dan dua orang wanita.

Loading...

Mengetahui korban tersambar KA sekitar pukul 13.46, sejumlah kawannya yang diperkirakan sebanyak 5 orang itu kabur. “KA sudah berupaya menghentikan laju. Tapi tidak bisa seketika, sedangkan kecepatannya saat itu 60 kilometer. KA baru  dapat berhenti 300 meter setelah  kejadian,” ujar Iptu Suromin,  Polsuska Daop 9 Jember Wilayah Pasuruan.

Setelah berhenti beberapa saat, KA Mutiara Timur itu lantas melanjutkan perjalanan karena dikhawatirkan mengalami keterlamabatan waktu dengan KA lainnya. Insiden tersebut, kemudian ditangani oleh Polsuska Daop 9 Jember Wilayah Pasuruan dan  Unit Reskrim Polsek Grati.

Warga yang mengetahui peristiwa nahas itu, memadati TKP  seketika. Kondisi korban yang mengenaskan, dengan kedua kaki terputus, kemudian dievakuasi ke Ruang Pemulasaran RSUD dr R Soedarsono Kota Pasuruan.  Petugas medis RSUD lantas mela kukan visum terhadap korban.

Kapolsek Grati, AKP Suyitno  belum dapat menjelaskan banyak hal terkait dengan peristiwa  tersebut. Menurut dia, saat ini  pihaknya tengah menggali informasi. Sebab, keterangan dari saksi pun sangat minim didapat. “Kuat diduga, saat itu mereka tengah mabuk karena ada sebotol miras oplosan yang kami temukan di TKP. Tapi kami belum dapat  memastikan hal itu. Kami perlu  mendalaminya lagi. Karena informasi dari saksi juga masih   sulit didapat. Ada yang mengatakan, korban bersama kawan- kawannya, lantas kabur setelah  kejadian,” papar Suyitno.

Terkait dengan informasi yang  beredar di media sosial bahwa korban memang berniat bunuh  diri, Suyitno tak juga tak banyak  berkomentar. Menurut dia, upaya penyelidikan harus didasarkan  oleh bukti-bukti dan keterangan  yang pasti.  “Pihak keluarga juga belum diperiksa. Kami perlu waktu  untuk mendalami apa memang  ada indikasi yang mengarah  kesana,” tegasnya.

Sementara itu, kedua orang  tua korban juga mendatangi  Ruang Pemulasaran RSUD dr R  Soedarsono, petang kemarin.  Ninik Sugiati, 46, ibu korban  menuturkan bahwa putri ketiganya itu sudah tak pulang sejak tiga hari yang lalu.

“Saya dengar kabar dari teman- temannya, karena di facebook ramai. Lalu saya suruh menantu untuk ngecek. Ternyata benar.  Saya sudah tidak kuat lagi menerima kenyataan ini,” kata Ninik sembari menguraikan air mata.

Ia menyebutkan, Aisyah selama ini terbilang anak yang tertutup. Dua kakaknya, tak banyak memahami kehidupan  pribadinya. Ninik mengungkapkan, Aisyah yang hanya tamatan SD itu memang enggan melanjutkan pendidikan. Beberapa waktu terakhir, Aisyah kerap keluar rumah.

“Sakdurunge  riyoyo (sebelum hari raya) kurban  (Idul Adha,red), dia (Aisyah) pamitan keluar. Tidak saya izinkan. Malah  dijawab, ‘biar saja saya mati’ ,” imbuh  Ninik menirukan ucapak korban  waktu itu. Selama bepergian itu  pula, Aisyah selalu dijemput teman  perempuannya. (radar)