Browse By

Jumlah Kambing Yang Mati Misterius Terus Bertambah

Sejumlah kambing mati misterius

KRAKSAAN – Kasus puluhan kambing mati misterius di dua desa, yakni di Desa Sumber Kerang dan Desa Banyuanyar Lor, Kecamatan  Gending, Kabupaten Probolinggo, masih  menjadi misteri. Bahkan, hingga kemarin  tercatat jumlah kambing yang mati mendadak  terus bertambah menjadi 64 ekor.

Artinya, ada 8 ekor kambing lagi yang mati. Tambahan 8 ekor kambing yang mati itu milik Nur Hasan, 47, warga Dusun Krajan, Desa Sumberkerang, Kecamatan Gending.  Artinya, sudah 40 ekor kambing milik Nur Hasan yang mati. Sebelumnya, ada 32 kambing miliknya yang mati. Tambahan 8 kambing itu, menurut Nur Hasan,  terjadi pada hari Minggu (27/8).

“Tidak tahu matinya kenapa, cuma ada yang tiba-tiba lemas dan mati,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo, kemarin (28/8).  Nur Hasan yang juga ketua RT  se tempat mengatakan, sejauh   ini warga terutama yang memiliki hewan ternak, meningkatkan ke waspadaannya. Terutama saat  malam hari.

Jauhari, perangkat Desa Sumberkerang, Kecamatan Gending, mengatakan, pihaknya menunggu kejelasan penyebab kematian  kambing-kambing warga ini dari  pemkab setempat. “ Saat ini semua kambing yang mati mendadak  sudah dikubur dan ditaburkan obat antibakteri,” katanya.

Loading...

Kemarin, tim gabungan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Kabupaten Probolinggo; Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur; dan tim peneliti  dari Balai Besar Veteriner Wates Jogjakarta, mendatangi lokasi.

Mereka melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab pasti matinya puluhan kambing ini. Iswahyudi, kasi Pencegahan Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan pada Disternak Provinsi Jatim mengatakan,  pihaknya sudah menerima sampel  yang dikirim Disnak Keswan Kabupaten Probolinggo.

Ia menyebut, di Jatim ada tiga  kasus yang hampir serupa terjadi. Pertama di Desa Nongkojajar, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan pada tahun 2008 lalu. Kemudian, di Kota Batu pada  tahun 2010 dan terakhir di  Banyuwangi pada tahun 2013.

Ciri-ciri kematian kambing itu  sama persis.  Bedanya, lokasi ketiga kejadian  sebelumnya berada di dekat hutan. Kambing itu mati mendadak karena serangan binatang  liar seperti anjing tersebut. “Kalau ciri-ciri kasusnya sama dengan  tiga kasus sebelumnya. Cuma anehnya di sini (Gending), lokasi  kejadiannya tidak di dekat hutan,”   katanya heran.

Iswahyudi menjelaskan, sejauh ini sampel organ dalam kambing yang diterima itu tidak ada  perubahan. Namun, pihaknya  tetap akan meneliti lebih lanjut  mulai dari makanan kambing. Apakah makanan itu mengandung racun atau tidak? “Dari otopsi  kelihatan, ada luka robek memar di fisik kambing. Luka fisik itu akibat intervensi dari luar,” terangnya.

Sementara itu, Enggar Kumorowati, petugas Medik Veteriner dari Balai Besar Veteriner Wates Jogjakarta mengatakan, selain sampel anggota tubuh, pihaknya  juga mengambil sampel feses  atau kotoran dan makanan berupa kulit bawang merah. Namun, pihaknya belum menerima sampal kambing yang  mati. Sebab, sampel yang diambil   petugas Disnak Keswan setempat, dikirim ke laboratorium di  Malang.

“Kami akan kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Nanti dari hasil laboratorium  itu akan kami coba simpulkan,   dan itu yang akan kami sampaikan,” terangnya. Saat disinggung soal wabah, Enggar belum berani memastikan.  Wabah itu menurutnya, ada  peningkatan kasus penyakit di  beberapa lokasi dalam waktu yang bersamaan. “Kami masih akan kumpulkan lebih dulu informasi di lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin membantah adanya anjing jadi-jadian yang menjadi penyebab matinya puluhan kambing secara mendadak. Tidak  menutup kemungkinan, puluhan kambing itu mati mendadak karena virus yang dialami kambing itu. Kalaupun matinya kambing itu karena gigitan binatang, bukan  anjing jadi-jadian.

“Tidak ada anjing jadi-jadian. Sekarang tim petugas sudah turun melakukan penelitian. Jika memang kematian kambing itu karena gangguan  dari luar, itu karena binatang  liar dari alas (hutan, Red) bukan anjing jadi-jadian,” katanya.

Kapolres menambahkan, masyarakat harus bersikap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum pasti. Saat ini pihaknya masih  menunggu hasil penelitian dari dinas  terkait. “Kita tunggu saja hasil laboratoriumnya,” tandasnya. (radar)