Browse By

Rapalkan Sabda Mayit untuk Kelabui Prajurit Belanda

Sanapoen (tengah) saat menceritakan kisah perjuangannya.

ADA pemandangan berbeda di surau yang ada di Desa Sumber Banteng, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, siang kemarin (27/8). Dari  jauh, sayup-sayup terdengar suara  seorang renta. Meski begitu, sisa-sisa  kelantangan dari suara itu masih  bisa didengar.

Dialah Sanapoen, pria 88 tahun yang dulunya sempat menjadi Seinendan, organisasi barisan pemuda bentukan Jepang. Usianya yang hampir seabad, berbanding lurus dengan  kondisi fisiknya yang sudah menua.  Keriput di wajahnya menjadi saksi perjuangannya dahulu melawan penjajah.

Cerita mengenai perjuangan merebut kemerdekaan itulah yang kemarin ia bagi pada anak-anak Panti Asuhan  Annur Darussalam. Sebagai pelaku sejarah, tentu banyak hal yang bisa  dijadikan bahan renungan bagi  generasi penerus. Karena itulah, bocah-bocah panti asuhan tersebut  tampak asyik mendengarkan cerita Sanapoen.  

Sosok pejuang semakin terlihat karena ia kemarin juga mengenakan seragam dan peci bertuliskan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Karena itu,  masih bisa diberi kesehatan di  usia republik ke 72, merupakan anugerah luar biasa dalam hidupnya.  

Loading...

Puluhan bocah itu tampak serius mendengarkan Sanapoen  berpanjang kata dalam ceritanya.  Sesekali ia memberikan joke-joke segar dalam cerita pengalamannya dulu.  Jawa Pos Radar Bromo sempat  menemui Sanapoen seusai di gelarnya acara bertajuk Ngaji Nasionalis Bareng Veteran itu.  

Semangatnya masih berkobar- kobar. Saat wartawan koran ini  memperkenalkan diri, jabat tangan Sanapoen masih kuat. “Merdeka, Bung,” tegasnya mengucapkan salam khas pejuang. Bapak dari enam anak itu mengatakan, keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan bermula dari batinnya yang berkecamuk pasca meninggalnya sang kakak akibat perang. Kakaknya yang bernama Munasik dibunuh penjajah.  

“Kakak saya mati di  tangan penjajah, entah pada saat  itu tahun berapa saya lupa,” tambahnya.  Hal itulah yang kemudian membuat hatinya tergerak untuk turun langsung di medan perang sebagai prajurit. Dibentuknya Seinendan, organisasi barisan pemuda bentukan Jepang pada  tahun 1943, menjadi awal mula  kehidupan bersejarah Sanapoen selanjutnya.  

“Setahun sebelumnya, saya sudah mengikuti latihan tempur keprajuritan. Saya menawarkan diri ke Batalyon 200 Pasuruan. Di sana saya bertemu dengan  Sersan Mayor. Saya sampaikan pada dia, bahwa saya ingin jadi  prajurit yang membela tanah air. Dia malah balik tanya ke saya, kamu anak mana, berani mati?”  ujar Sanapoen menirukan kalimat sosok yang dikatakan Sersan Mayor tersebut.

Ia pun tak ambil pusing dengan  pertanyaan Sersan Mayor itu. Dijawabnya tegas, bahwa untuk kepentingan tanah air, seorang warga negara harus rela mengorbankan segalanya. Setelah itu, perjuangan Sanapoen di mulai. Ia sempat ditugasken ke  Surabaya, untuk bertempur melawan Nica.

“Tahun 1948 di Surabaya, setiap sudut dikuasi oleh penjajah. Tapi, mereka itu hanya bersembunyi di dalam tank-tanknya.  Sedangkan  kami bersenjatakan bambu runcing yang siap mengobrak-abrik isi perutnya,” jelasnya.

Sanapoen kemudian menceritakan pengalamannya bertempur melawan penjajah dengan menggunakan siasat. Maklum,  dengan bermodalkan bambu runcing, tentu perlawanan melawan penjajah yang menggunakan senapan, harus diperhitungkan matang-matang.

Akhirnya, ia mengakali pribumi yang dijadikan babu oleh penjajah yang bekerja di kawasan Kasri itu. Setiap pagi, babu- babu itu biasanya pergi berbelanja ke pasar. Nah, momen  itulah yang kemudian dimanfaatkannya.

“Babu-babu itu kan orang pribumi. Ya saya tanya, apakah neng  dipercaya penuh oleh Belanda? Kalau iya, saya bisa ambilkan kunci gudang senjata dan seragam mereka,” katanya. Setelah kunci gudang didapat, ia kemudian menyelinap ke  markas penjajah. Tak hanya keberanian, hal itu juga butuh taktik yang jitu.

Sanapoen berbagi tugas dengan kawan-kawannya. Ia lantas membeli daging yang digunakan untuk memancing anjing-anjing penjaga. “Daging-daging itu tak diberikan begitu saja. Kita taruhlah banyak- banyak jarum di sana.  Agar ketika dimakan anjing, mulutnya kesakitan dan tak bisa menggonggong mengisyaratkan bahaya kepada tuannya,”  kenangnya.

Setelah itu, ia meminta kawan-kawannya untuk menyiapkan dua buah tangga.  Sebuah tangga untuk naik ke  pagar markas penjajah, sebuah  tangga lagi untuk turun.  Singkat cerita, dua regu yang  berisi 24 prajurit kini telah berganti baju Belanda.

Namun,  masih ada masalah lain. Sebab, mereka harus bisa melewati  penjagaan petugas untuk keluar dari markas penjajah. “Akhirnya saya gunakan Sabda Mayit. Itu, semacam doa agar orang seperti mayit. Apapun situasi di  sekitarnya tak diketahui,” tandasnya. (radar)