Browse By

Miniatur Kapal Tembus Pasar Kalimantan

Rudianto menunjukkan proses pembuatan miniatur kapal.

MESIN potong kayu mini itu, tak henti-hentinya berbunyi. Setelah selembar kayu mahoni selesai dipotong, lelaki itu kembali mengambil lembaran kayu yang lain. Hingga lembaran demi lembaran kayu itu tertumpuk di gudang produksi.

Ukurannya memang tak terlalu  panjang dan lebar. Hanya 15 x 30 sen timeter per lembarnya. Namun,  bagi Rudianto, si empunya, lembaran  kayu itu sunggulah sangat berarti. Meski sejatinya, lembaran kayu itu hanyalah limbah yang berasal dari  pabrik pengolahan kayu.

Ya, di tangan Rudianto, lembaran- lembaran kayu yang sudah tak bernilai  guna itu, masih bisa dijadikan aneka  kerajinan. Seperti, alat dapur berupa telenan. Bukan hanya telenan, yang bisa diproduksinya. Sebab, beraneka  alat dapur juga mampu dibuatnya.   Termasuk sutil, entong, rak piring dan berbagai alat dapur lainnya yang  terbuat dari kayu. Bahkan, kayu bekas  tersebut, bisa dibuat kerajinan yang   menarik. Seperti miniatur kapal  ataupun truk mainan.

“Yang paling banyak memang produksi alat dapur Karena memang yang paling banyak pesanan. Disamping   produksi utama saya, yakni kayu  lis ukir atau kayu tempel ukir,” kata Rudianto saat ditemui Jawa  Pos Radar Bromo di sela-sela  kesibukannya, Jumat (25/8).

Loading...

Bapak dua anak ini menceritakan, kreativitasnya mengolah  kayu bekas untuk berbagai kerajinan itu, dimulainya sejak 2008  silam. Mulanya, ia memang bukan seorang perajin kayu. Awalnya, iaadalah seorang sales, yang bergerak di bidang jual beli kertas gosok.  Hal itu membuatnya kerap  mondar-mandir di dunia industri kerajinan kayu. Setiap produsen atau perajin mebel dan perkayuan ia tawari barang.

“Dari mondar-mandir ke perajin kayu satu dengan pengerajin  kayu yang lain itulah, muncul ketertarikan saya untuk terlibat dalam  industri tersebut,” ungkapnya.  Pria kelahiran 14 November  1980 itu pun lantas menawarkan diri untuk bekerja sebagai kuli pembuatan lis ukir ke salah satu  perajin.

Hubungan baik dengan pengerajin tersebut, membuatnya menerima orderan. Namun, awalnya tidak mudah.  Bahkan, ia harus berulang kali melakukan kesalahan. Hingga  ia sampai tekor, gara-gara barang yang biasanya dibuat untuk hiasan mebel itu tak sesuai dengan  harapan si bos.

“Saya tekor sekitar Rp 1 juta pada awalnya. Karena, barang yang saya buat tidak sesuai keinginan,” akunya yang menyebut kerugian tersebut diperolehnya dari pembelian bahan baku.  Namun, ia tak patah arang. Ia  terus berusaha, hingga lis ukir yang dibuatnya itu, sesuai kemauan si  bos.

Dari situlah, ia mulai mendapat pekerjaan. Bahkan, bukan dari  perajinnya. Tetapi malah dari  perusahaan, yang langsung mengambil barang kepadanya.  Banyaknya order yang berdatangan, membuatnya harus “kulakan” banyak kayu. Ia pun membeli kayu-kayu dari pabrik yang tak lagi digunakan.

Kayu  bekas itu, kemudian dijadikan  bahan bakunya untuk dibuat lis  ukir tersebut. Dalam produksi lis ukir tersebut, rupanya banyak pula kayu- kayu yang akhirnya tak bisa digunakan. Kayu-kayu itupun,  kerap sekali dibuangnya. Hingga akhirnya, salah satu tetangganya datang dan meminta  selembar kayu darinya.

Kayu itu, digunakan untuk membuat telenan. Hal itupun, akhirnya memunculkan ide bisnis di otaknya.  Ia pun kemudian mengolah kayu-kayu sisa pembuatan lis ukir untuk dijadikan telenan. “Mulanya hanya membuat lis. Kayu-kayu yang tak terpakai, biasanya saya bakar. Hingga muncul   ide untuk memanfaatkannya sebagai telenan,” kenangnya.

Dari situlah, ia berkreasi membuat telenan. Bukan hanya itu,  ia terus mencoba-coba untuk berkreasi lainnya. Bukan hanya  telenan, tetapi dikembangkannya untuk membuat alat-alat dapur yang lain.  Tak susah untuk memasarkan  produknya. Sebab, toko-toko alat dapur di wilayah Bangil dan Beji  banyak yang membutuhkannya.

Dalam seminggu, ia bisa memproduksi lebih dari seribu alat-alat  dapur yang beragam jenisnya.  Tak puas dengan alat dapur, ia  berkreasi dengan kerajinan truk mainan. Idenya, saat ia berkunjung ke rumah rekannya. Saat itulah,  ia menemukan truk mainan yang  terbuat dari kayu.

“Di situ, ada  truk mainan dari kayu. Lagi-lagi  ide saya muncul untuk membuatnya,” sambung dia.  Ia pun berkreasi untuk membuatnya. Ia semakin termotivasi, ketika ada rekannya yang mau  memasarkan hasil produksinya. Truk mainan bikinannya itupun,  terjual tak hanya di Kabupaten  Pasuruan. Tetapi, merambah Surabaya, Malang bahkan Hingga Kalimantan dan NTB.

“Harganya relatif terjangkau. Antara Rp 20 ribu sampai Rp 100  ribu, tergantung ukuran. Dalam  sebulan, kami bisa menerima order hingga 100 truk mainan,”  ungkap dia.   Bahkan, bukan hanya truk mainan. Ia juga bisa melirik miniatur kapal. Perahu kecil bikinannya,  dipasarkan di wilayah Sidojaro.  Harganya, sekitar Rp 5 ribu per  unitnya.

Tentu, kreasi-kreasinya itu, tidak  dikerjakannya seorang diri. Untuk mempercepat dan mempermudah produksi, ia memberdayakan karyawan. Ia mengaku, saat ini sudah memiliki empat orang karyawan. “Dengan banyaknya pesanan,  saya tidak bisa bekerja sendiri.  Makanya, saya merekrut karyawan untuk mendukung produksi,” tambahnya. (radar)