Browse By

Jamaah Haji asal Pakuniran Meninggal

Ilustrasi

KRAKSAAN – Kabar duka datang dari jamaah haji Kabupaten Probolinggo di tanah suci. Satu jamaah haji dikabarkan meninggal di  Makkah, Jumat (25/8) lalu.  Jamaah meninggal itu diketahui bernama Masrip bin Abdul Hamim. Almarhum tercatat sebagai  warga Desa Kedungsumur RT. 01  RW. 03 Kecamatan Pakuniran.

Kasi Haji Kemenag Kabupaten  Probolinggo, Mukhlason mengatakan, dirinya mendapatkan kabar, bahwa jamaah haji lanjut  usia (lansia) Masrip wafat sekitar pukul 07.30 WAS (Waktu Arab Saudi), Jumat lalu. “Kami hanya  terima kabar kalau meninggal  dunia karena sakit. Bukan karena kejadian lain,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo,   kemarin.

Tapi, Mukhlason belum mengetahui penyakit yang diderita Masrip. Kabar meninggalnya Masrip juga sudah disampaikan ke keluarganya di Pakuniran. Pihak keluarga juga sudah  bisa menerima insiden itu. “Semua jamaah yang meninggal  dunia saat menunaikan ibadah  haji pasti dimakamkan di sana  (Mekkah),” terangnya.

Sementara itu, enam hari sebelum puncak pelaksanaan Ibadah Haji, Kota Makah semakin ramai dengan jamaah haji yang  datang dari berbagai negara. Bahkan, karena banyak jamaah  haji yang berdatangan, Pemerintah Arab Saudi mulai menghentikan kendaaran bus kota yang  selama ini digunakan Jamaah untuk menuju Masjidil Haram.

Loading...

Titik Amanah,55, salah satu Jamaah haji asal Kota Probolinggo mengatakan, sudah beberapa hari ini bus kota Makkah  dihentikan beroperasi oleh Pemerintah Arab Saudi.  “Penghentian ini karena jalan- jalan di Arab Saudi semakin ramai dengan Jamaah. Ini kan sudah  semakin dekat dengan puncak  ibadah jamaah haji,” ujar Titik kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Jamaah haji Kota Probolinggo sendiri dilaporkan Titik banyak  menuju Masjidil Haram dengan  jalan kaki. “Jaraknya sekitar 1  Km dari maktab. Hampir sama dengan dari SMA 2 ke Bundaran Gladak Serang,” terangnya.

Perempuan yang jadi guru Agama di SDN Tisnonegaran 3 ini mengungkapkan, jamaah  haji yang berangkat dengan jalan  kaki biasanya dilakukan dalam 1 rombongan. “Kebanyakan berangkat ke Masjidil haram pada   sore hari. Biar tidak terlalu panas,” ujarnya.

Sebelum penghentian bus ini, jamaah haji Probolinggo yang menempati maktab di Masbasin selalu menggunakan bus jika  akan menuju Masjidil Haram.  Menggunakan bus itu pun tidak  dikenai ongkos transport. “Busnya gratis,” tambahnya.  

Sementara untuk cuaca di Mak kah sendiri disebutkan cukup menyengat. Saat siang hari, cuaca  bisa mencapai 40 derajat celcius.  “Kalau siang lebih baik di maktab karena di luar panas. Sore hari,  baru keluar untuk ke Masjidil haram. Cuacanya sudah tidak sepa- nas saat siang hari,” ujarnya.

Selain di Maktab, lokasi yang  cukup dingin adalah masjidil Haram. Namun, di seputar Kakbah masih panas. Di dalam Masjidil Haram sendiri suhunya  dingin karena ada AC. Selain itu,  pemerintah Arab Saudi juga menyediakan kipas angin yang  mengeluarkan uap air untuk  menjaga kelembaban udara.  (radar)