Browse By

Sembilan Hari Terkatung-katung di Jakarta

Hindun (kiri) bersama Ahmad, suaminya, menunjukkan koper dari First Travel.

TIDAK sulit menemukan rumah  Hindun yang terletak di RT 3/RW 01,  Dusun Pesantren, Desa Pajarakan Kulon. Rumah sederhana itu berada  25 meter dari Gang 1, desa setempat. Saat koran ini berkunjung ke rumah tersebut kemarin (25/8), pemilik rumah  yang bernama Hindun, berada di dalam rumah.

Mengetahui kedatangan koran ini, perempuan kelahiran 17 Oktober  1956 itu menyambut ramah.  Hindun mengatakan, mulanya ia  tidak tahu jika akan berangkat umrah.  Rencana umrah itu adalah ide dan usaha anaknya, yakni Maria Ulfa, 36.

Beberapa saat kemudian, Maria–sapaan akrab Maria Ulfa–ikut nimbrung. Bahkan, ia mengeluarkan semua berkas dan koper yang didapat dari First Travel. Maria Ulfa mengaku, sebenarnya dialah yang mendaftarkan sang ibu  untuk berangkat umrah pada November 2015 lalu.

Tanpa sepengetahuan sang ibu, ia mendaftarkan ibunya untuk umrah. Saat itu, ia ingin memberikan kejutan pada ibunya. Rencananya, Hindun berangkat sendiri. Maklum, sang suami yakni Ahmad Haminuddin, 65,  kondisi fisiknya tak sehat.

Loading...

“Rencana awal mau umrah lewat travel lokal. Tapi, ada informasi promo umrah First Travel,  yaitu Rp 14,3 juta. Jadi, saya pun ikut mendaftarkan untuk ibu,” terangnya. Maria menjelaskan, ia mendaftar umrah lewat First  Travel di kantor cabang Sidoarjo.

Waktu itu, uang muka yang ia  bayar sebesar Rp 5 juta.  Sesuai dengan tenggang waktu, Maria kemudian melunasinya  pada 18 Januari 2016, sebesar  Rp 9,3 juta. Sesuai promo umrah tersebut, angka Rp 14,3 juta itu  untuk 9 hari. “Waktu itu tidak  ada kecurigaan sama sekali kalau First Travel ini akan bermasalah,” ujarnya.

Saat pelunasan biaya umrah, hatinya bungah karena akan melihat orang tuanya rihlah ke  tanah suci. Sampai akhirnya, November 2016, ibunya mengikuti kegiatan manasik di Bondowoso. Saat itu disampaikan,  bahwa awal pemberangkatan  umrah mulai Januari 2017. Sebab, April diharapkan semua jamaah First Travel sudah selesai. Sampai Januari, Ulfa dan ibunya  menunggu kapan akan diberangkatkan.

“Saya tiap bulan telepon  Pak Rudi, pimpinan First Travel  di Sidoarjo. Tetapi, sampai akhir Maret tidak ada kabar. Kami hanya disuruh menunggu. Alasannya, nama ibu masih belum turun  dari Jakarta,” terangnya. Hingga akhirnya, dikatakan  Maria, awal April ia mendapatkan kabar ada tiga pilihan.

Pertama tetap berangkat dalam waktu dekat, yakni bulan Mei dengan menambah biaya Rp 2,5  juta. Tambahan uang itu digunakan untuk menambahan biaya  tiket. Kedua, bisa berangkat bulan November tanpa menambah  biaya dan ketiga bisa refund atau  uang kembali 100 persen.

“Akhirnya saya memilih untuk membayar uang Rp 2,5 juta. Supaya, ibu saya bisa segera berangkat umrah,” tuturnya. Maria  mengaku, sebenarnya ia mulai  curiga sejak Maret 2017. Sebab,  janji awal akan berangkat Januari, tapi tertunda dan lama  tidak ada kabar. Ditambah, pimpinan First Travel di Sidoarjo itu juga sulit dihubungi.

“Bulan April disampaikan kalau  berangkat tanggal 11 Mei 2017. Menjelang tanggal 11 Mei, ada  kabar lagi kalau berangkatnya   diundur tanggal 12 Mei dan diminta bayar lagi Rp 1,3 juta. Tambahan duit itu untuk booking  tiket pesawat PP Surabaya-Jakarta dan hotel semalam di Jakarta,” paparnya.

Lagi-lagi, Maria percaya dan membayar duit tersebut. Hindun sendiri senang bukan kepalang ketika mendapatkan  kepastian tanggal pemberangkatan. Sudah menjadi cita-citanya untuk mencium Hajar Aswad.  Bahkan, dua hari sebelum berangkat, ia menggelar tasyakuran di rumah dengan mengundang sanak keluarga, tetangga, dan  pengajian rutin.

“Saya sama sekali tidak curiga. Karena niat saya waktu itu untuk beribadah,” tuturnya. Kekhawatiran Hindun muncul ketika tiba di Jakarta. Saat transit di Jakarta,  mulanya ia menginap di Hotel  Zest Jakarta. Ternyata, keesokannya ia tak juga berangkat. Hindun kemudian pindah ke Hotel Nunnia Inn.  Waktu itu, Hindun langsung menghubungi anaknya. Ia mengatakan kalau keberangkatannya  ditunda.

“Saya terkatung-katung di Jakarta itu selama 9 hari. Karena itu, anak saya minta ke  pimpinan First Travel agar saya dipulangkan,” terangnya.  Hindun mengaku, sangat malu dengan saudara dan tetangga. Karena sebelumnya sudah menggelar tasyakuran. Bahkan, sebagian keluarga dan teman-temannya juga ada yang memberikan uang saku.

“Saya malu sama tetangga dan orang-orang. Karena sudah syukuran, orang-orang sudah beri sangu,” ungkapnya.  Saat ini, dikatakan Hindun, anaknya tengah mengurus refund umrah tersebut. Ia berharap semua biaya yang telah dikeluarkan, dikembalikan manajemen First Travel, agar ia bisa daftar  umrah di travel lainnya. “Saya  tetap ingin berangkat umrah.  Semoga saja, bisa segera daftar  lagi,” harapnya. (radar)