Browse By

Dimas Kanjeng Divonis 2 Tahun Penjara Terkait Penipuan

Taat Pribadi (pakai batik) menyapa pendukungnya setiba di PN Kraksaan.

KRAKSAAN – Dimas Kanjeng Taat Pribadi bakal lebih lama lagi berada di penjara. Setelah divonis 18 tahun penjara dalam kasus  pembunuhan Abdul Ghani, kemarin (24/8) ia juga divonis atas kasus penipuan. Majelis hakim  yang memimpin sidang di Pengadilan Negeri  (PN) Kraksaan, memutuskan hukuman 2 tahun  penjara pada Taat Pribadi.

Dalam amar putusan yang dibacakan Ketua Majelis Hakim Basuki Wiyono, terdakwa Taat  Pribadi terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana pasal 378 KUHP pada korban Suprihadi Prayitno.  “Terdakwa dijatuhi hukuman pidana selama 2 tahun penjara,” katanya.

Putusan itu tentu jauh lebih ringan dari tuntutan JPU. Dimana JPU menuntut terdakwa dengan  hukuman kurungan 4 tahun  penjara. Menurut Basuki, vonis lebih ringan itu setelah pihaknya mendengar serta mempelajari  dakwaan JPU, eksepsi terdakwa, keterangan saksi, dan keterangan  terdakwa. Termasuk mempertimbangkan  hal yang memberatkan maupun  meringankan.

Untuk memberatkan, misalnya perbuatan terakwa merugikan orang lain dan membuat masyarakat resah. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan selama persidangan. “Menetapkan masa tahanan  yang telah dijalani terdakwa, di  kurangkan pada hukuman pidana yang dijatuhkan,” katanya.

Loading...

Atas  putusan itu, terdakwa Taat Pribadi dan JPU kompak menyatakan pikir-pikir. Dengan begitu, kedua pihak memiliki waktu 7 hari untuk  menetapkan sikap. Apakah menerima putusan itu atau mengajukan banding. Muhammad Sholeh selaku penasihat hukum (PH) terdakwa Taat Pribadi mengatakan, dirinya memberi saran agar terdakwa  Taat Pribadi sebaiknya langsung mengajukan banding.

Hal ini, menurutnya, bukan karena soal putusan ringan atau berat. Meski dihukum setahun tetap harus banding. Karena terdakwa memang tidak bersalah dalam kasus ini. “Pertimbangan hakim aneh karena menyebutkan Taat Pribadi  menerima setoran Rp 800 juta  dari Prayitno. Padahal, tidak ada bukti yang mendukung itu. Untuk  pertama kalinya pengadilan di  Indonesia dalam kasus penipuan kerugian tidak perlu bukti surat,” katanya kepada Jawa Pos Radar  Bromo, kemarin.

Sementara itu, Jaksa Penuntut  Umum (JPU) Muhammad Usman mengatakan, putusan majelis hakim sama dengan tuntutan penuntut umum, yaitu menyatakan terdakwa Taat Pribadi terbukti bersalah melakukan penipuan. Bahkan, pertimbangan  dalam putusan pun sama, dengan begitu pembuktian dalam persidangan pun sudah jelas.

 “Soal putusan hukuman yang  2 tahun itu, masih kami pikir-pikir. Yang pasti, terdakwa Taat  Pribadi diputus bersalah, sama halnya dengan tuntutan kami penuntut umum,” terangnya. Sementara itu, pengamanan persidangan kemarin sama ketatnya dengan pelaksanaan vonis kasus pembunuhan. Mulai dari  pengunjung diperiksa saat  hendak masuk ke dalam ruang sidang, sampai pada penjagaan  terhadap terdakwa Taat Pribadi. ( radar)