Browse By

Wisata Snorkeling Gili Ketapang Ditutup Sementara

Salah satu wisatawan saat menikmati snorkeling di dasar laut pulau Gili Ketapang.

Beroperasi Kembali jika Sudah Mengurus Izin

KRAKSAAN – Pasca tenggelamnya pengunjung Pulau Gili akibat  terseret ombak Minggu (20/8) lalu, Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Budaya (Disporaparbud) Kabupaten Probolinggo memutuskan  untuk menutup  sementara wisata snorkeling.  Pasalnya, pemkab khawatir kejadian serupa terulang.

Hal itu disampaikan Kepala  Disporaparbud setempat, Sidik  Widjanarko saat ditemui koran  ini di ruang kerjanya, kemarin  (22/8). “Kami akan minta snorkeling ditutup, sampai pengurusan izin tuntas semua,” terangnya.  Pasalnya, dari 12 pengelola, hanya  satu yang sudah mengurus izin.  Sidik mengatakan, wisata snorkeling di Pulau Gili muncul dari inisiatif kelompok masyarakat. Khususnya, pemuda-pemuda Gili yang merespons potensi alam  di wilayahnya.

“Kami sudah berkomunikasi dengan kepala desa dan warga di Pulau Gili. Kami juga membentuk Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata, Red), sebagai bentuk penyadaran masyarakat. Karena bertahun-tahun Gili sulit menggali potensi wisata. Alhamdulillah ada pemuda-pemuda yang menjadi penggagas wisata itu,” katanya.

Loading...

Semula, ada dua kelompok pengelola snorkeling. Belakangan  pengelola wisata itu semakin  banyak dan kini berjumlah 12 kelompok. Namun, sebagian  besar abai terhadap perizinan.  Hingga saat ini hanya satu kelompok yang mengurus perizinan.

Padahal, menurut mantan kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) itu, proses perizinan sangat mudah.  Kelompok pengelola tinggal mengajukan izin ke Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP), dengan membawa surat pengantar dari pemerintah desa setempat.

Setelah itu, DPM-PTSP meneruskan permohonan itu ke Disporaparbud. Setelah itu, petugas Disporaparbud turun ke lokasi untuk melakukan survei. Petugas akan mengecek mulai dari penangung jawab, operator atau guide, base camp atau homebase, kemudian  sarana yang dimiliki.

Setelah itu, Disporaparbud memberikan rekomendasi pada DPM-TPST. Re komendasi bisa saja permintaan untuk menerbitkan izin atau tidak memberikan izin. “Harusnya izinnya itu ke lembaga, bukan perorangan. Sebelum  izin nya klir, jangan menerima tamu dulu. Karena itu, mereka  akan kita undang agar sadar akan  pentingnya pengurusan izin,”  terangnya.

Sidik menjelaskan, insiden seperti yang terjadi akhir pekan  lalu, tidak bisa diprediksi. Supaya  keselamatan dapat tercover, ia menyarankan pengelola juga  memberikan asuransi. Tapi, hal  ini belum terealisasi. Snorkeling sendiri belum bisa dikatakan wisata kabupaten karena belum masuk destinasi wisata yang terdaftar.

Diberitakan koran ini sebelumnya, kegiatan wisata ketujuh sekawan asal Sidoarjo untuk menikmati wisata snorkeling di  Pulau Gili, berubah jadi musibah.  Ini, lantaran salah satu di antara mereka, yakni Andi Nanda Kasih Hidayatullah, 23, warga Gerbang Raya, AG/19. RT 26, RW 6, Gebang, Kabupaten Sidoarjo, tewas tenggelam.

Dia dinyatakan tewas akibat terseret ombak di Pulau Gili sekitar pukul 09.45. Korban tewas   lantaran kehabisan oksigen. Sebelumnya, korban bersama teman-temannya berfoto ria dengan  drone. Nah, tiga di antara empat  orang memilih lokasi pesisir pantai. Tiba-tiba, ombak membesar.

Ketiga orang termasuk Andi Nanda, terseret. Mereka berteriak meminta tolong hingga akhirnya ada perahu nelayan dan pengelola  snorkeling ikut membantu. Dua dari tiga orang yang terseret ombak, berhasil diselamatkan.  Tetapi, tidak demikian dengan Andi Nanda. Lelaki ini terseret  hingga ke tengah. Saat itu, proses  pencarian tetap dilakukan. Sampai kemudian tubuh Andi Nanda  muncul ke permukaan. Sayang  saat itu korban sudah tidak bernyawa.(radar)