Browse By

Wisatawan Asal Sidoarjo Tewas Terseret Ombak Pulau Gili Ketapang

Jenazah Andi Nanda Kasih saat dibawa dari Pulau Gili menuju Pelabuhan Probolinggo.

Musibah sebelum Ikut Wisata Snorkeling

SUMBERASIH – Keinginan ketujuh sekawan asal Sidoarjo untuk menikmati wisata snorkeling di Pulau Gili, di Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo, berubah jadi  musibah. Ini, lantaran liburan mereka justru menjadi  malapetaka, usai satu kawannya tewas tenggelam lantaran  terseret ombak, pagi kemarin (20/8).

Korban nahas itu diketahui bernama Andi Nanda Kasih Hidayatullah, 23, warga Gerbang Raya, AG/19. RT 26, RW 6, Gebang, Kabupaten Sidoarjo. Dia  dinyatakan tewas akibat tenggelam, usai terseret ombak di Pulau Gili sekitar pukul 09.45. Korban tewas lantaran kehabisan oksigen.

Informasi yang dihimpun Jawa  Pos Radar Bromo, sebelum petaka terjadi, Andi Nanda Kasih  sejatinya hendak berwisata snorkeling di Pulau Gili. Saat itu korban tidak sendirian. Melainkan ada enam kawannya, yang sama-  sama berasal dari satu perusahaan di Sidoarjo.

Loading...

Menurut Rizky, salah satu kerabat korban, pihaknya rombongan bertujuh dengan korban.   Rombongan itu datang ke Pulau Gili pada Sabtu (19/8) dengan  menggunakan sebuah mobil  rental. “Yang bisa menyetir hanya Nanda (panggilan akrab korban Andi Nanda Kasih Hidayatullah). Sehingga, kami tidak  tahu kembalinya nanti bagaimana,” terangnya saat dijumpai  kemarin di Markas Polairud.

Adapun ketujuh pria dengan satu rombangan itu yakni Alfi, Afif, Dani, Rizky, Andriyanto, Andi Nanda Kasih Hidayatullah, dan Deny. Di Pulau Gili, mereka menginap satu malam. Ini, karena ketujuh sekawan tersebut, hendak menikmati wisata snorkeling saat pagi hari.

Ketujuh sekawan ini mendapat  bagian kloter kedua, yang rencananya akan berangkat menuju ke lokasi snorkeling pukul 10.00. Sembari menunggu waktu keberangkatan, ketujuh sekawan ini hendak menikmati  Pulau Gili. Mereka pun mengambil lokasi sisi barat.

Di sana, ketujuh sekawan ini berfoto ria dengan drone. Nah,  tiga di antara empat orang memilih lokasi pesisir pantai. Saat itulah petaka terjadi karena tiba- tiba ombak membesar.  Akibatnya, ketiga orang termasuk korban Andi Nanda, terseret.

Mereka berteriak meminta tolong,  hingga akhirnya ada perahu nelayan dan pengelola snorkeling  ikut membantu. Dua dari tiga orang yang terseret ombak, berhasil diselamatkan. Tetapi, tidak demikian dengan  Andi Nanda. Lelaki ini terseret hingga ke tengah.

Saat itu, proses pencarian tetap dilakukan. Sampai kemudian tubuh Andi Nanda muncul ke permukaan. Sayang saat itu korban sudah tidak bernyawa. Pagi itu juga jenazah korban dievakuasi dari Pulau Gili menuju pelabuhan Probolinggo.

Saat dijumpai koran ini, kapal Pol Airud sedang mengawal jenazah  Nanda, beserta keenam temannya. Andriyanto, salah satu rekan  korban terlihat lemas. Dia terlihat  shock saat mengetahui Nanda sudah meninggal dunia. Sementara keempat rekannya yang  berada di kantor Polairud, enggan berkata apa-apa. Mereka hanya diam dan menunduk meski berbagai pertanyaan dilontarkan.

Sementara itu Akhira, 27, salah satu pengelola snorkeling yang membantu membawa korban dari Pulau Gili ke Pelabuhan Probolinggo mengatakan, informasi  yang ia dengar bahwa korban meninggal lantaran terseret ombak. Namun, yang jelas bukan saat snorkeling. Menurutnya, jika  ada di darat, maka bukan tanggung  jawab dari pihak pengelola lagi.

“Saya hanya mengantarkan saja. Saya juga pengelola snorkeling. Tapi, korban bukan ikut saya. Melainkan dari tim lain milik H  Nur,” beber Akhira. Namun, sebelum berangkat snorkeling,  musibah terjadi lebih dahulu. Abdur Rohman, 27, salah satu penggagas snorkeling mengatakan bahwa snorkeling bermula  dari Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis).

Selanjutnya,  terbentuknya 1 pengelola snorkeling. Namun, timnya ada 12  yang masing-masing dikelola oleh perorangan. Terkait dengan tragedi kecelakaan itu, pihaknya yang saat itu berada di lokasi mengatakan  bahwa kejadian itu terjadi pasca pengambilan foto dengan drone di bagian ujung barat.

Saat itu ombak membesar hingga menyeret korban dan dua temannya. Korban sendiri terseret ke tengah laut dengan kedalaman  mencapai 5 meter.  “Tidak mungkin jika meninggal ketika snorkeling. Mengingat, snorkeling pasti ada empat guide, serta tak di lokasi yang berombak. Termasuk ada pelampungnya,” terangnya pria asal Gili tersebut.

Hal senada juga diungkapkan Kapolsek Sumberasih Polres Probolinggo Kota AKP Wahyudi.  Setelah dilakukan visum, tak ada luka dibagian tubuh. Hanya saja  bagian perut mengembung aki bat kemasukan air. Sehingga,  dari pihak keluarga yang datang sekitar pukul 14.30 tak ingin dilakukan otopsi. Dan, pada pukul  15.30 keenam rombongan lainnya langsung dipulangkan.

“Dari pihak keluarga juga sudah membuat surat pernyataan bahwa tidak akan menuntut. Pihaknya  mengatakan bahwa, apa yang dialami oleh korban merupakan musibah,” bebernya. (radar)