Browse By

Gara-gara Ijazah, Cakades Semare Ditusuk

Holidulloh saat menjalani perawatan usai ditusuk oleh Dhofir. Penusukan ini dilatarbelakangi pelaku yang sakit hati pada korban.

KRATON – Warga Desa Semare, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, kemarin siang (12/8) mendadak geger. Itu setelah salah  satu calon kepala desa (cakades)  setempat, Holidulloh, 42, ditusuk di depan rumahnya. Syukur, nyawa  korban masih bisa diselamatkan.  

Peristiwa penusukan ini terjadi sekitar pukul 10.30. Saat itu, Holidulloh bersama istrinya, Putri  Cahyani sedang memberi makan  ayamnya. Tidak lama kemudian,  Holidulloh mendengar suara   seseorang sedang mblayer motor di depan rumahnya.

Holidulloh lantas keluar ke halaman rumahnya, untuk melihat apa yang terjadi. Di depan pagar rumahnya, ia melihat Dhofir, 52,  yang saat itu tengah duduk di  atas motor. Tanpa basa basi, Dhofir kemudian turun dan langsung menusukkan pisau ke arah  korban. Setelah itu, Dhofir melarikan diri ke arah selatan.

Setelah mendapat tusukan, Holidulloh sempat tersungkur. Putri yang mengetahui suaminya ditusuk, lantas berteriak meminta  tolong. Warga yang mendengar teriakan Putri, berdatangan ke rumah korban. Sebagian warga  kemudian melaporkan kejadian  ini ke Polsek Kraton.  

Loading...

Tidak berselang lama, polisi kemudian mendatangi rumah  korban. Sementara korban lang-  sung dilarikan ke RSUD R Soe- darsono, Kota Pasuruan, untuk mendapatkan pertolongan. Akibat penusukan tersebut, korban mengalami luka robek pada ketiak sebelah kiri sepanjang  5 sentimeter, luka robek pada pelipis mata sebelah kiri sepanjang 4 sentimeter, serta luka robek  pada kepala belakang sebelah  kiri sepanjang 5 sentimeter.

“Alhamdulillah korban cepat tertolong. Sehingga nyawanya masih bisa diselamatkan. Saat ini, korban masih dirawat di ruang IGD,” kata  Kapolsek Kraton, AKP Masroni.  Tak lama setelah peristiwa penusukan ini, pelaku lantas menyerahkan diri ke Mapolsek Gadingrejo.

Kini, pelaku diamankan di Mapolsek Kraton. Dari hasil  penyelidikan diketahui, pelaku  sakit hati pada korban. Pemicunya, saat meminta tolong dibuatkan ijazah untuk pencalonan cakades,  ternyata ijazahnya palsu.  “Sementara motif penusukan, karena dendam akibat ijazah  yang diberikan korban palsu dan  tidak bisa dilegalisir. Kebetulan keduanya sama-sama nyalon  kades,” terang Masroni.

Berdasarkan informasi yang  diperoleh koran ini, dua bulan  lalu pelaku meminta tolong untuk dibuatkan ijazah paket B. Dhofir minta tolong pada Holidulloh,  karena punya kenalan yang bisa membuatkan ijazah paket B. Namun, belakangan diketahui jika ijazah paket B tersebut palsu.

Itu diketahui pelaku saat akan melakukan legalisir. Akibatnya, Dhofir tak lolos dalam  pencalonan kades. Karena itu, ia dendam pada korban yang dianggap menggagalkan rencananya  mencalonkan diri menjadi kades.  Polisi sendiri sejauh ini belum  melakukan pemeriksaan pada korban, karena masih dalam perawatan. Tak hanya soal kasus penusukan ini, polisi rencananya akan  meminta keterangan tentang pemuatan ijazah tersebut. (radar)