Browse By

Korban Penipuan Pasutri dengan Modus CPNS Bertambah

Loading...

Para korban penipuan modus dijanjikan CPNS saat melapor ke Polres Probolinggo, Jumat (11-8).

Total Tujuh Korban, Kerugian Rp 294 Juta

KRAKSAAN – Korban penipuan dengan modus rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang menjerat pasangan suami-istri (pasutri) Reza, 47 dan Umila, 41, warga Jalan Suyoso, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, bertambah.

Setelah sebelumnya satu orang melapor, kemarin  enam lainnya menyusul.  Total ada 7 korban yang melapor dengan kerugian mencapai Rp 294.100.000. Data yang dihimpun Jawa Pos  Radar Bromo menyebutkan, para korban melaporkan kasus penipuan CNPS setelah muncul  laporan dengan pelaku yang sama. Seluruh korban merupakan warga Kabupaten Probolinggo.

Titi, warga Desa Randupitu, Kecamatan Gending mengatakan,  ia mengenal tersangka pada  September 2016 lalu. Saat mendengar informasi jika pelaku bisa meloloskan seseorang menjadi CPNS, Titi kemudian mendatangi rumahnya. Kebetulan, anaknya berhenti dari pekerjaan sebelumnya. Karenanya, ia  berharap anaknya bisa dinas di Pemkab Probolinggo.

Loading...

“Diminta awalnya Rp 1 juta   untuk formulir. Setelah beberapa hari, minta lagi Rp 5 juta dan   disusul Rp 15 juta. Semua uang itu diserahkan di rumahnya,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, kemarin (11/8). Selang beberapa pekan kemudian, pelaku kembali meminta  uang Rp 20 juta. Duit itu sebagai  jaminan agar anak korban diangkat sebagai CPNS di bulan Desember 2016.

“Minta lagi Rp  20 juta, saya sanggupi kasih di   SPBU Curahsawo Rp 10 juta dan tambah di bakso SPBU Rp 10  juta,” terangnya. Korban percaya karena pelaku mengaku orang dekat pendapa. Namun, janji tinggallah janji.  Hingga 2016 lewat, janji itu tidak  kunjung terbukti.

Januari lalu, tersangka kembali meminta uang  Rp 4 juta untuk pengambilan SK. Permintaan ini lagi-lagi disanggupi korban. “Jelang Lebaran saya mulai curiga dan dengar kabar ada penipuan CPNS itu. Akhirnya, saat minta uang lagi saya tidak  berikan. Terus dapat kabar kalau  pelaku ini sudah ditangkap,” terangnya.

Hal serupa juga dialami Anis  Sundari. Ia mengaku tertarik   untuk bisa menjadikan kedua  keponakannya menjadi anggota Satpol PP. Duit Rp 44,5 juta  miliknya pun amblas. “Kami sudah sempat meminta uang itu kembali. Tapi, pelaku tetap menjanjikan dan menyanggupi untuk bisa diangkat. Bahkan, ditunjukkan SK pengangkatan yang ternyata palsu,” terangnya.

Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Hariyanto Rantesalu mengungkapkan, kasus penipuan dengan modus menawarkan pengangkatan CPNS di Kabupaten Probolinggo sangat  meresahkan. Tidak menutup kemungkinan, akan ada korban lain yang akan melapor.

“Kami imbau masyarakat untuk tidak percaya janji seseorang yang bisa mempercepat proses pengangkatan CPNS. Jika merasa menjadi korban penipuan, segera melapor ke kami,” terangnya. Hariyanto mengatakan, pasutri penipu ini terancam meringkuk empat tahun di penjara. Itu, setelah keduanya dijerat dengan  pasal 378 KUHP atau 372 KUHP  tentang Penggelapan atau Penipuan.

“Kami tahan kedua  tersangka karena takut melarikan  diri dan melakukan penipuan serupa,” tambahnya. Penangkapan pasutri ini bermula dari geramnya salah seorang korban, yakni Sujito, 63, warga Desa Sukokerto, Kecamatan   Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Ia yang sudah ditipu sekitar Rp 30.950.000, itu berusaha menjebak pelaku.

Kebetulan, pelaku kembali meminta uang Rp 6 juta. Antara pelaku dan korban kemudian bertemu di sebuah SPBU   di Kecamatan Kraksaan, Kamis  (10/8) sekitar pukul 10.00. Sebelumnya, korban sudah menghubungi polisi. Begitu ada penyerahan uang Rp 6 juta saat pertemuan itu, kedua pelaku langsung diamankan. (radar)

loading...