Browse By

Jual Warisan agar Bisa ke Tanah Suci

Zahriyah (kanan) dan Yuliatin saat ditemui di rumahnya, kemarin

ZAHRIYAH kini berusia 87 tahun. Usia yang tak lagi muda. Apalagi, ketika harus menjalani ibadah haji yang  merupakan ibadah fisik. Meski begitu, warga Desa Sidodadi, Kecamatan  Paiton, itu tampak semangat. Semangat itulah yang ia tunjukkan ketika Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke rumahnya, kemarin (10/8).

Untuk menuju kediaman Zahriyah,  tidaklah sulit. Rumah CJH yang memiliki 5 anak, 10 cucu, dan 9 cicit, ini  berada di Dusun Kalianyar, RT 04/ RW 01. Dari jalan desa, masih masuk ke jalan sempit sejauh 200 meter.  Begitu mengetahui maksud kedatangan koran ini, Zahriyah menyilakan masuk.

Saat mengawali pembicaraan, Zahriyah mengaku tak sabar menanti jadwal keberangkatan. Rencananya, kloter 52 yang membawanya ke tanah suci, bertolak dari Kabupaten Probolinggo pada lusa (13/8) mendatang.  Zahriyah mengaku mulai mendaftar sebagai CJH pada tahun 2010  silam. Ada cerita di balik keinginannya berangkat haji. Suatu malam di  tahun itu, Zahriyah mengaku sulit  tidur. Entah kenapa, pikiran dan   hatinya selalu terbayang untuk bisa menunaikan ibadah haji.

“Suami saya sudah lama meninggal. Jadi, saya selama ini tinggal bersama anak-anak dan cucu saya,”  katanya.

Loading...

Kegelisahannya itu ia utarakan  pada anak-anaknya. Saat itu, munculah ide untuk menjual tanah yang ia miliki. Keinginan itu disambut baik anak-anaknya. Kebetulan, seluruh anaknya sudah mendapatkan bagian soal warisan.  “Saya minta jual saja pemberian dari Mak Nyai (orang tua Zahriyah, Red) untuk daftar  haji. Alhamdulillah, anak-anak  saya ajak semua untuk daftar haji itu,” terangnya.

Zahriyah mengaku mendapatkan jatah  antrean selama 8 tahun.  Awalnya, ia dijadwalkan berangkat haji pada tahun 2018. Namun, Ramadan lalu, ia mendapatkan kabar dari kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat, bahwa dirinya masuk daftar  susulan yang berangkat tahun ini. Mendapat informasi tersebut, Zahriyah langsung menyatakan kesiapannya.

“Alhamdulillah, sudah ada tabungan untuk pelunasan haji. Dulu waktu mendaftar, mau langsung dilunasi, tapi bank tidak mau,” ujarnya. Karena itu, ia bersyukur tas segala kemudahan yang didapatkan. Ia berharap, kelancaran  yang sama didapatkannya selama menjalankan ibadah sampai tiba ke tanah air.

Yuliatin, 38, menantu Zahriyah mengungkapkan, ibunya termasuk orang tua yang rajin dan sangat mencintai kebersihan. “Sangat menjaga kebersihan. Kalau rumah  sudah dibersihkan, ibu pasti sapu- sapu halaman rumah. Padahal, halaman rumah sangat luas, biasa rumah di desa,” terangnya.

Ia berharap, sang ibu dimudahkan selama berada di tanah suci. Apalagi, Zahriyah berangkat seorang diri. “Saya berdoa dan berharap, ibu diberikan  kesehatan dan keselamatan selama menunaikan ibadah haji,” harapnya. (radar)