Browse By

Catut Sekda, Pasutri Perdaya Guru TK

Pasutri Reza dan Umila menjalani pemeriksaan di Mapolres Probolinggo, kemarin. Mereka ditangkap polisi setelah disangka melakukan tindak pidana penipuan

Mengaku Bisa Bantu Jadi CPNS

KRAKSAAN – Pasangan suami-  istri (pasutri) Reza bin Ali, 47,  dan Umila, 41, warga Jalan Suyoso, Kota Probolinggo, harus berurusan dengan penyidik Polres Probolinggo. Kemarin, pasutri ini diamankan setelah disangka  melakukan penipuan bermodus  pengangkatan menjadi calon pagawai negeri sipil (CPNS).

Korbannya, Sujito, 63, warga   Desa Sukokerto, Kecamatan  Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Kemarin, pasutri ini diamankan di sebuah SPBU di Kecamatan  Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, sekitar pukul 10.00 WIB. Pada polisi, korban mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 31 juta.

Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin melalui Kasat Reskrim AKP Hariyanto Rantesalu mengatakan, kedua tersangka diamankan karena  disangka pelaku penipuan dengan bermodus CPNS. Kejadian itu  bermula saat beberapa waktu lalu  kedua tersangka datang ke Pasar Pajarakan. Di sana, mereka mencari  temannya bernama Kholili.

Loading...

Saat itu, kedua tersangka bertemu korban dan terlibat  perbincangan. Sampai akhirnya  korban bercerita tentang anaknya Novi yang 15 tahun menjadi guru  sukwan di sebuah taman kanak- kanak (TK). Tapi, belum juga di angkat menjadi CPNS.

”Saat awal bertemu itu kedua   tersangka mengiming-imingi bisa membantu proses pengangkatan CPNS. Bahkan, di Pasar Pajarakan,  itu tersangka Reza langsung berpura-pura menele pon dan seakan-akan berbicara dengan  sekda (sekretaris daerah). Korban  percaya dengan pembicaraan tersangka,” ujarnya.

Hariyanto mengatakan, saat  itu juga kedua tersangka mengajak Novi ke Kota Probolinggo, mengambil berkas. Kedua tersangka  juga meminta uang Rp 250 ribu  untuk transportasi dan blanko. Ditambah Rp 200 ribu untuk  mengurus petugas penjaga Pendapa Kabupaten Probolinggo.

”Setelah dari Kota Probolinggo, tersangka mengantarkan korban ke Pajarakan. Sepulang dari Kota Probolinggo, tersangka meminta uang Rp 4,5 juta pada korban. Ditambah Rp 1 juta untuk baju Korpri. Uang Rp 4,5 juta itu di minta  supaya SK segera turun,” jelasnya.

Beberapa hari kemudian, kata  Hariyanto, tersangka Reza bersama  istrinya kembali meminta uang  Rp 25 juta. Alasannya, untuk pengurusan langsung CPNS. ”Setelah tersangka menerima uang Rp 25  juta itu, mereka menghilang dan  tak pernah bisa di hubungi,”  ujarnya.

Setelah beberapa pekan tidak  ada kabar, Novi bersama suaminya Andri Cahyono, 37,  mendatangi rumah tersangka di Kota Probolinggo untuk meminta kwitansi. Saat itu, tersangka Reza berdalih tidak perlu kwitansi, tapi mengajak  langsung ke rumah sekda.

”Tapi, di tengah perjalan tersangka menghilang. Kebetulan tersangka  dan korban naik sepeda motor  yang berbeda,” ujar Hariyanto.  Rabu (9/8) lalu, tersangka kembali menghubungi korban. Mereka minta maaf karena ada kendala  dan meminta uang lagi Rp 6 juta.   Alasannya, agar bisa bertemu langsung dengan Bupati Probolinggo.

Mendapati itu, korban  menyanggupi dan mengajak tersangka bertemu di SPBU Semampir, Kecamatan Kraksaan. ”Saat tersangka datang langsung kami  amankan tersangka dan dibawa ke Mapolres,” ujar polisi dengan tiga strip di pundaknya itu.

Novi mengaku percaya dengan janji tersangka, karena tersangka mengaku bisa masuk ke pendapa.  Tapi, setelah uang diserahkan  dengan jumlah total sekitar Rp 31 juta, janji tersangka tak pernah  terbukti. ”Untung tersangka  menghubungi lagi dan meminta Rp 6 juta sebagai tambahan. Karena saya sudah tidak percaya dan ini penipuan, jadi dijebak saja untuk ditangkap,” ujarnya.

Sementara, tersangka Umila  mengaku tidak tahu menahu soal  penipuan dan uangnya. Kata nya, selama ini yang melakukan suaminya. ”Saya tidak tahu,” ujarnya.  Sedangkan, Reza membantah menipu korban. Bahkan, tersangka  mengaku sama sekali tak pernah menerima uang dari korban. ”Tidak ada uang yang saya terima,”   ujarnya. (radar)