Browse By

Tuntut THR, Buruh Pabrik Sepatu Bangun Tenda

Tenda yang dibangun buruh di depan PT Bo Kyung di Desa Cangkringmalang kemarin. Dalam aksi itu sempat terjadi ketegangan lantaran truk tak bisa masuk ke pabrik.

BEJI – Sejumlah buruh pabrik sepatu,  PT Bo Kyung di Desa Cangkringmalang, Kecamatan Beji, kemarin ( 7/8) menggelar aksi unjuk rasa dengan memasang tenda di depan pintu perusahaan. Aksi itu mereka lakukan seiring tak terbayarnya THR dan sisa gaji enam bulan sesuai perjanjian kontrak perusahaan.

Ketegangan sempat mewarnai jalannya aksi. Hal itu, terjadi setelah salah satu  truk kontainer tak bisa masuk ke perusahaan lantaran terhalang tenda. Kemacetan pun terjadi lantaran kontainer itu  menutup akses Surabaya-Pasuruan.

Dari pantauan koran ini, aksi itu dilakukan lima orang. Mereka melakukan aksinya dengan mendirikan tenda di depan pintu perusahaan. Tidak ada orasi. Mereka hanya menggelar aksinya dengan  pendirian tenda yang disertai dengan  poster-poster bertuliskan kritikan.

Saikhu, salah satu pengunjuk rasa mengutarakan, aksi itu didasari atas tak terbayarnya THR tahun ini. Pihaknya memang sempat akan diberikan THR, namun ada persyaratan yang harus dipenuhi. “Kami  diberi THR, asalkan mengundurkan  diri,” kata Saichu.

Loading...

Ia tak mau, bukan hanya semata-mata  membutuhkan pekerjaan. Di samping  persoalan kebutuhan kerja, ia juga memandang kalau kontrak kerjanya masih panjang. Yakni, hingga Desember 2017. “Pihak perusahaan hanya memberi pesangon satu kali gaji. Padahal, kontrak  kami sejak dipanggil Juni lalu, masih menyisakan enam bulan. Artinya, seharusnya gaji kami selama enam bulan  sesuai perjanjian kontrak yang berakhir  Desember 2017, dibayar juga plus THR,”   sambungnya.

Senada dikatakan Munir, pengunjuk rasa lainnya. Ia menjelaskan, kalau gaji yang diterimanya di perusahaan sepatu itu senilai   Rp 2,7 juta. Ia menuntut agar perusahaan tersebut membayar sisa gaji plus THR.  “Kami sudah tidak boleh masuk kerja.  Kami tidak tuntut apa-apa. Hanya tegakkan  aturan saja. Yakni, gaji kami untuk enam  bulan sesuai kontrak dan THR,” urainya.

Di sisi lain, HRD PT Bo Kyung Wahyu  Budi Prihanto menuturkan, jika kondisi perusahaan sudah tidak kondusif. Hal itu  seiring dengan order yang menyusut.  Bahkan, tahun 2017 ini mengalami penurunan tajam hingga 50 persen. Sesuai hitung-hitungan yang ada, pekerjaan untuk order tersebut hanya mampu atau berakhir Juli 2017 lalu.

“Makanya, di  beberapa bulan yang lalu itu, kami mengeluarkan program, berupa pemberian THR plus dengan pesangon. Besaran pesangonnya, satu kali gaji,” sampainya.  Dikatakan Wahyu, ada 2.700 buruh yang   mengikuti program tersebut. Bahkan, semuanya tidak ada masalah. Hanya menyisakan lima orang yang menggelar  unjuk rasa.

“Untuk persoalan selanjutnya, kami serahkan ke pengacara. Karena sudah ada pengacara kami yang menangani persoalan tersebut,” tambahnya. (radar)