Browse By

Vonis Ringan Bagi Otak Pembunuhan

Taat Pribadi menundukkan wajahnya saat mendengarkan majelis hakim membacakan amar putusan.

Taat Pribadi ‘Hanya’ Diputus 18 Tahun Penjara

DIMAS Kanjeng Taat Pribadi, pemilik padepokan  dengan nama yang sama, memang sudah dijatuhi vonis oleh majelis hakim. Namun, putusan itu jauh  di bawah tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut  Umum (JPU). Dimana JPU menuntut Taat–sapaan  akrabnya – dengan hukuman seumur hidup.

Dalam amar putusan setebal 100  halaman yang dibacakan Ketua  Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan Basuki Wiyono  bersama dua anggotanya, Yudistira Alfian dan Mohammad Syafruddin, Taat Pribadi dinyatakan  bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo,  persidangan kemarin mendapat  pengamanan ekstra ketat dari aparat kepolisian. Sejak pukul 07.00,  ratusan personel Polres Probolinggo dibantu TNI dan Brimob, sudah mulai standby di masing- masing ring pengamanan.

Loading...

Meliputi, ring 4, yakni pengamanan di tepi jalan depan PN Kraksaan; ring 3 di halaman  kantor PN; ring 2 dalam gedung PN, tapi di luar ruang sidang;  dan ring 1 di dalam ruang sidang  Kartika. Untuk memasuki kawasan PN, setiap pengunjung tidak  luput dari pemeriksaan.

Puluhan pengikut Taat Pribadi sudah mulai berdatangan ke PN sejak pukul 08.00. Mereka ada yang memilih menunggu kedatangan Taat Pribadi di  halaman pintu gerbang PN, ada  pulang yang menunggu di dalam gedung PN. Namun, tidak tampak keluarga terdakwa, baik istri  maupun anak-anaknya.

Tak hanya keluarga, sosok Marwah Daud yang selama ini selalu terlihat mendampingi Taat, juga tak terlihat. Taat Pribadi sendiri  tiba di PN Kraksaan sekitar pukul   09.55. Ia menyunggingkan senyum pada setiap pengunjung  maupun awak media yang telah   menunggunya sedari pagi.

Dengan pengawalan ekstra ketat, Taat digiring ke ruang tahanan PN. Tidak seperti sidang-sidang sebelumnya, kemarin tidak ada para pengikut yang  menunggu di dekat ruangan   tahanan PN. “Sehat, saya siap,” kata Taat sembari masuk ke dalam ruang tahanan PN.

Sekitar pukul 10.20, terdakwa  Taat Pribadi masuk ke dalam ruang sidang dengan pengawalan ketat. Di dalam ruang sidang,  majelis hakim, JPU, dan juga  penasihat hukum (PH) terdakwa  juga sudah siap. JPU yang hadir di antaranya, Muhammad Usman, Tjahyo Aditomo selaku Aspidum  Kejati, Hari Basuki, Nugroho, Novan, dan Nizar.

Sementara PH terdakwa, ada Muhammad Sholeh dan rekan-rekannya. Ketua majelis hakim, Basuki Wiyono, tak membacakan semua isi dari amar putusan itu, melainkan hanya poin-poinnya saja. Majelis hakim mengatakan, putusan nomor 66 pid B atas  nama Taat Pribadi alias Dimas  Kanjeng Taat Pribadi itu, mempertimbangkan jalannya atau fakta persidangan.

Mulai dari dakwaan yang diajukan JPU sampai eksepsi yang  diajukan terdakwa. Termasuk  keterangan 26 saksi yang dihadirkan. “Menimbang, unsur menghilangkan nyawa orang lain terpenuhi. Serta, ada penyerahan uang Rp 130 juta dari  terdakwa Taat Pribadi pada para pelaku pembunuhan. Terdakwa Taat Pribadi terbukti  bersalah secara sah dan meyakinkan melanggar hukum sebagaimana pasal 340 KUHP juncto 55 KUHP,” jelasnya.

Begitu  vonis dibacakan, seisi ruangan langsung riuh beberapa saat. Perihal yang memberatkan  terdakwa, di antaranya tidak  mengakui dan tidak menyesali  perbuatannya; perbuatan terdakwa menyebabkan kesedihan  dan penderitaan yang mendalam  bagi keluarga korban; dan tidak  adanya pemberian maaf dari keluarga korban.

Sementara hal yang meringankan, terdakwa tidak pernah dihukum dan perbuatan terdakwa dipicu perilaku korban  yang sering menggunakan kesempatan untuk meminta uang dari terdakwa. Dengan berbagai  pertimbangan tersebut, maka putusan yang adil bagi terdakwa menurut majelis hakim, yakni hukuman 18 tahun penjara.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Taat Pribadi alias Dimas  Kanjeng Taat Pribadi bin Mustain, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menganjurkan orang  untuk melakukan pembunuhan  berencana,” tegasnya.

Mendengar vonis itu, Taat terlihat mengusap  dagu hingga matanya.  Majelis hakim juga menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani terdakwa, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Selain itu, hakim tetap menetapkan terdakwa tetap berada   di dalam tahanan.

Selama majelis hakim membacakan amar putusan tersebut, beberapa kali terdakwa Taat Pribadi menunduk. Terkadang ia menegakkan kepala menghadap pada majelis hakim, saat mendengarkan putusan dibacakan. Terdakwa yang mengenakan sepatu kulit warna merah  tua itu, juga sempat tujuh kali menggoyang-goyangkan kursinya ke kanan dan kiri.

Sesekali, pria asal Dusun Cengkelek, Desa Wangkal Gading, Kecamatan Gading, itu mematahkan lehernya ke kanan dan kiri. Terdakwa yang mengenakan batik kuning motif bunga merah itu, juga sempat memperbaiki  lengan kemejanya. Serta, men gusap bagian wajahnya, seperti mulut ke dagu, mata.

Sesuai amar putusan yang dibacakan, majelis hakim memberikan kesempatan pada terdakwa sesuai perintah undang- undang, yakni boleh menerima, mengajukan banding, atau pikir-pikir. Kesempatan yang sama  juga berlaku pada JPU.

Dalam amar putusan tersebut, juga disampaikan sejumlah barang bukti yang sebelumnya disita  pengadilan. Dari barang bukti   tersebut, sebagian akan  dimusnahkan, seperti barang bukti  lakban, kayu, dan plastik yang  menjadi saksi bisu kematian Gani.

Ada pula barang yang tetap menjadi bagian berkas perkara. Namun, ada pula barang bukti  yang dikembalikan pada pemiliknya. Seperti, dua unit mobil Toyota Avanza. Masing-masing warna hitam metalik Nopol L 1653  ME dan warna warna putih nopol  N 1216 NQ. Serta, satu sepeda motor gede Harley Davidson Nopol L 2378 QQ warna biru silver.

Sementara barang bukti yang dirampas untuk negara adalah uang tunai Rp 9 juta dan satu unit  mobil Toyota Avanza warna putih  nopol B 2451 TFI. Sementara itu, Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Marwah Daud  Ibrahim, meminta seluruh pengikut untuk tetap tenang.

“Kami  imbau kepada seluruh santri  dimanapun berada, agar tetap  tenang. Karena keadilan tidak akan pernah terkalahkan,” katanya melalui pesan pendek ke Jawa Pos Radar Bromo. Ia menegaskan, jika Taat Pribadi tak bersalah dalam kasus ini.

“Dalam fakta persidangan, Mas Kanjeng tidak terbukti bersalah.  Jadi seharusnya beliau bebas,”   katanya yakin. Saat ini menurut Marwah, yang akan diperjuangkan  bukanlah berapa lamanya vonis  hukuman, tapi adalah keadilan  dan kebenaran.

“Beliau berjuang untuk kesejahteraan umat. Beliau memiliki ilmu yang dianugerahkan Allah SWT, beliau adalah aset bangsa,”  katanya. Karena itu, ia dan segenap  pengikut padepokan, akan terus  mendampingi Taat Pribadi dan  memberikan dukungan dalam  perjuangannya.

“Kami akan melakukan banding untuk membuktikan Mas Kanjeng  tidak bersalah,” tegasnya. (radar)