Browse By

Maraknya Anjal Jadi Sorotan Dewan

Sejumlah anjal yang kerap mangkal di pinggir Jalan Soekarno-Hatta, Kota Pasuruan. Jumlah mereka belakangan kian marak.

PANGGUNGREJO – Maraknya  anak jalanan (anjal) yang kerap  mangkal di sejumlah persimpangan Kota Pasuruan, mendapatkan sorotan dari DPRD setempat. Dewan meminta pemkot untuk segera melakukan  penertiban.

Ketua Fraksi Golkar Muhammad Arif Ilham mengatakan, pihaknya kerap menerima laporan dari masyarakat bahwa  keberadaan anjal sudah sangat  meresahkan. Mereka kerap meminta uang dengan dalih mengelap kaca mobil.

Karena itu, pria yang menjabat sebagai ketua Komisi I ini berharap agar pemkot segera melakukan penertiban. Namun,  dengan catatan, setelah dilakukan penertiban, para anjal ini  diberikan pembinaan supaya  mereka tidak lagi mangkal di sejumlah perempatan.

“Anjal ini merupakan penyakit  masyarakat. Supaya mereka tidak kembali hidup di jalanan, pemkot perlu melakukan pembinaan dengan menampung mereka di panti sosial,” katanya. Ketua Fraksi PKS Ismu Hardiyanto menambahkan, pemkot perlu melakukan pendataan berupa nama, domisili, serta masih  punya orang tua atau tidak untuk  mengetahui statusnya.

Loading...

Kalau memang masih punya orang tua,  anjal ini diberi pemahaman dan  dikembalikan ke orang tuanya. Bila sebaliknya, anjal dapat dilakukan pembinaan dengan memasukkan mereka ke dunia pesantren. Atau, memberikan pelatihan kerja bagi anjal yang sudah  memasuki usia kerja, sehingga  jumlah anjal di Kota Pasuruan tidak semakin meningkat.

“Saya lihat semakin hari anjal  di Kota Pasuruan semakin banyak. Pemkot perlu menindak  tegas supaya tidak sampai meresahkan masyarakat,” terang Ismu. Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Pasuruan  Nila Wahyuni menjelaskan,  dari hasil pendataan pada akhir 2016 lalu, jumlah anjal yang  berasal dari Kota Pasuruan sebanyak 48 orang.

Sementara, sisanya berasal dari Kabupaten Pasuruan, seperti Kecamatan  Kejayan dan Pohjentrek. Nila menyebut, dari 48 orang tersebut, 12 di antaranya sudah  diikutkan pelatihan bekerja  sama dengan Pemprov Jatim. Pelatihan dilakukan di Jember  berupa keterampilan seperti  bengkel dan mebel.

Hal ini dilakukan karena pemkot tidak memiliki Panti Sosial.  Nantinya, pelatihan akan dilakukan secara bertahap.  Menurutnya, Dinsos sudah mengajukan pembuatan rumah  singgah untuk menampung para anjal. Namun, sampai saat ini belum turun. Untuk merealisasikannya, pemkot setempat memerlukan kajian terlebih dahulu.

“Perlu kerja sama lintas satker  untuk menanggulangi masalah  anjal ini. Sebab, faktornya beragam, yakni karena mental atau  karena tidak memiliki pekerjaan,” tutur Nila. (radar)