Browse By

KLH Tutup Pabrik Pengolahan Oli

Kondisi PT Berdikari Jaya Bersama di Wonoasih, kemarin terlihat sepi. Hanya ada staf yang berjaga di pintu masuk.

Dinilai Lakukan 19 Pelanggaran

WONOASIH – Lama meresahkan masyarakat, akhirnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menutup pabrik pengolahan oli bekas di  Kelurahan Kedunggaleng, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Pabrik yang bernama PT  Berdikari Jaya Bersama ini ditutup  se jak 11 Juli 2017.

Penutupan itu dibenarkan Heru  Margianto, kabid Tata Penaatan  Lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo.  “Memang betul, PT Berdikari  Jaya Bersama ditutup. Penutupan dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup,” ujarnya saat  di konfirmasi Jawa Pos Radar  Bromo, kemarin (25/7).

Heru menyebutkan, perizinan pengolahan limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya) dikeluarkan Kementerian LHK. Karena itu, penutupan pun dilakukan Kementerian LHK.  “Penutupan ini bersifat sementara, sampai pihak pabrik melakukan perbaikan seperti yang  diminta Kementerian LHK. Jika  dinilai sudah sesuai dengan yang   diminta Kementerian LHK, pabrik  diizinkan beroperasi kembali,”  ujarnya.

Loading...

Penutupan sendiri ditetapkan  melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK. 3736/Menlhk-PHLHK/PPSA/GKM.0/06/2017. Isinya, tentang  penerapan sanksi administratif  paksaan pemerintah kepada PT  Berdikari Jaya Bersama.

Dalam surat itu disebutkan,  PT Berdikari Jaya Bersama ditutup  karena terbukti melanggar peraturan perundang-undangan di  bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Ada 19 pelanggaran yang dilakukan  perusahaan ini.

“Ada 19 pelanggaran yang tercantum dalam SK. Sedangkan untuk perbaikan ada 21 poin  yang diminta untuk dilakukan  per baikan,” ujarnya.  Adapun 21 poin yang diperintahkan untuk dilakukan oleh   KLH di antaranya, menghentikan semua kegiatan di pabrik, mengubah dokumen lingkungan   dan izin lingkungan paling lama  90 hari kalender.

Lalu, mengubah izin pengelolaan  limbah B3 untuk kegiatan pemanfaatan limbah B3 paling lama 90 hari kalender. Dan, menyiapkan cerobong emisi reaktor sesuai dengan persyaratan teknis. Sementara itu, Yuwe, pemilik PT Berdikari Jaya Bersama saat   di konfirmasi menyayangkan  keputusan Kementerian LKH menutup usahanya tanpa peringatan lebih dahulu.

“Tiga bulan lalu memang ada berita acara kedatangan tim dari Kementerian LKH. Namun, hanya diberitahu  akan ada sanksi, tapi ternyata sanksinya pabrik ditutup,” Yuwe menyayangkan karena sebelumnya tidak ada pembinaan  terlebih dahulu kepada pabrik  miliknya.

Hal-hal apa saja yang  perlu diperbaiki bisa disampaikan  saat itu, tanpa harus langsung memberikan sanksi penutupan.  “Sekarang kami sedang berupaya untuk melakukan apa yang diperintahakn Kementerian LHK dalam surat keputusan menteri.   Perbaikan-perbaikan akan kami la kukan. Bahkan, sebelum surat   itu turun sebenarnya kita sudah melakukan perbaikan,” ujarnya.

Seperti pemasangan cerobong sudah dilakukan sesuai dengan ketentuan teknis. Begitu juga izin Lingkungan Hidup yang  menjadi salah satu poin yang   diperintahkan, sudah diurus. “Izin lingkungan hidup sudah keluar sejak 17 April 2017. Proses-  nya sudah berjalan selama tiga   bulan,” ujarnya.

Yuwe berharap penutupan kegiatan di pabriknya tidak berlangsung lama. Sebab, itu akan berpengaruh pada kelangsungan  pekerjanya yang berjumlah 60  orang. (radar)