Browse By

Tujuh SMA di Probolinggo Terapkan 5 Hari Sekolah

SMA di Probolinggo yang Terapkan Lima Hari Sekolah

Soal Kebijakan 5 Hari Sekolah

PROBOLINGGO – Rencana Menteri  Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI untuk menerapkan 5 hari sekolah untuk penguatan pendidikan karakter (PPK) memang  belum disahkan. Namun, sejumlah  sekolah sudah ada yang mulai menerapkan kebijakan ini.

Di Probolinggo, akan ada 6 SMA yang akan menerapkan 5 hari sekolah.  Jumlah itu bertambah dari tahun sebelumnya lantaran dahulu hanya satu SMA yang menerapkan, yakni SMAN 4 Probolinggo. Ini   artinya, akan ada tujuh SMA yang akan menerapkan 5 hari sekolah.  Tiga SMA di Kabupaten Probolinggo dan 4 SMA di Kota Probolinggo.

Menurut Kepala Cabang Dinas  Pendidikan SMA Sri Yuliasih. Untuk di Jawa Timur sendiri.  Meski aturan tersebut belum di sahkan secara resmi, namun tak masalah diterapkan. Namun, dengan catatan sekolah tersebut  mampu melaksanakannya. Serta, tak menjadi masalah dikemudian  hari.

Loading...

Sehingga, untuk saat ini tak ada unsur pemaksaan dan bagi sekolah yang dirasa masih berat. Tak melaksanakan juga tak masalah. “Di Jawa Timur sendiri, sekolah  dibebaskan untuk menerapkan kebijakan ini. Jika dipandang  mampu dan tak ada masalah  dikemudian harinya, maka silakan untuk menerapkan sekolah 5  hari. Pada tahun ini terdapat 6   sekolah yang sudah melaksanakannya,” terang Sri Yuliasih.

Kebijakan 5 hari sekolah, memang masih menjadi perdebatan di banyak kalangan. Namun,  Kementerian Pendidikan dan  Kebudayaan (Mendikbud) RI  meyakini, penerapannya bisa dilakukan. Bahkan, saat ini Kemendikbud menunggu Peraturan  Presiden.

Muhadjir Effendy, mendikbud RI meyakini, program 5 hari sekolah ini sangat bermanfaat untuk  kemajuan pendidikan di Indonesia  ke depan. Sebab, di dalamnya  ada penguatan pendidikan karakter (PPK). Disamping itu, dengan  5 hari sekolah, ini juga positif untuk  mengatur jadwal guru untuk  disesuaikan dengan 5 hari kerja pegawai negeri sipil (PNS) atau  aparatur sipil negara (ASN).

Kepada Jawa Pos Radar Bromo,  Muhadjir Effendy menyatakan,  lima nilai utama karakter yang  menjadi prioritas pada PPK, yang berkaitan erat dengan berbagai program prioritas Kemendikbud di bidang pendidikan dan kebudayaan.

Lima nilai utama itu  adalah religius, nasionalis, mandiri, integritas, dan gotong royong. Program PPK ini, kata Muhadjir,  juga berbeda jauh dengan full day school (FDS). Baik itu teknis maupun aplikasinya. Adapun konsep sederhana memang memakai 5 hari kerja. Lebih tepatnya  5 hari di sekolah, yang dalam sehari memang akan menerapkan 8 jam kerja.

Dengan asumsi,  jika diterapkan 5 hari, maka guru akan mendapat kebagian jam  mengajar selama 40 jam dalam sepekan.  “Beban guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan, menilai,  membimbing, dan melatih serta  melaksanakan tugas tambahan sudah terpenuhi ketika berada  di sekolah tanpa harus berkeliling  ke instansi lembaga pendidikan lainnya,” ungkap Muhadjir, saat  silaturahmi ke kantor Jawa Pos  Radar Bromo, 29 Juni silam.

Adanya penerapan 5 hari sekolah pun, tak membuat sekolah  yang menerapkan kesulitan. Tilik saja di SMAN 4 Probolinggo, yang sudah menerapkan sejak tahun  ajaran 2016/2017.  “Dari segi teknis, lebih enak. Wali murid juga menerima, walaupun awal penerapan sedikit berat. Karena butuh proses penyesuaian,” beber Hakam Basori,  kepala SMAN 4 Probolinggo.

Di sisi lain, wali murid juga tak menolak dengan adanya kebijakan ini. Seperti yang diungkapkan Suhartatik, 48. Warga Jalan Cangkring, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran yang anaknya bersekolah di SMAN 3 Probolinggo itu, mendukung sekolah 5 hari  tersebut. Pasalnya, selain ia bisa  lebih banyak berkumpul dengan  anaknya.

“Anak juga merasa senang. Mulai tahun ajaran ini sudah melaksanakan 5 hari sekolah, sehingga  sabtu-minggu libur. Dan, nantinya  akan digunakan untuk kegiatan   pendukung lainnya, seperti ekstra kurikuler ekskul) dan sebagainya,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan  Mimi Jamila, 41, wali murid di  SMA Negeri 1 asal Desa/Kecamatan Dringu. Menurutnya,  dengan sekolah lima hari, kondisi  anak untuk menerima pelajaran lebih baik. Pasalnya, ada jeda  waktu untuk beristirahat atau mengistirahatkan otak.

Walaupun nantinya juga akan ada kegiatan lain seperti ekskul,  minimal beban pelajaran yang  diterima berkurang. Mengingat  untuk ektra biasanya mayoritas  kegiatan yang disukai oleh anaknya. “Kan tidak mungkin jika semisal anaknya tidak suka voli,  ikut ekskul voli. Tapi, pasti mengikuti ekskul yang diminati. Seperti  futsal misalnya,” bebernya.

Sementara itu, di Pasuruan, dipastikan belum ada sekolah yang menerapkan 5 hari sekolah. Di Kota Pasuruan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) kota setempat memilih untuk  menunggu petunjuk Kemendikbud.  Kepala Dinas P dan K Kota Pasuruan Suhariyanto mengatakan, jumlah lembaga sekolah  di Kota Pasuruan dari jenjang SD sampai SMP sebanyak 123  buah.

Riciannya adalah 60 SD,  22 MI, 31 SMP, serta 10 MTs. Ia memastikan di tahun ajaran  baru ini, belum ada satu pun sekolah dari ratusan lembaga tersebut yang sudah mengikuti  program lima hari sekolah. Sebab, P dan K masih menunggu surat  edaran dari Kemendikbud terkait  implementasinya.

“Kami harus tahu terlebih dahulu seperti apa aturan dari Kemendikbud. Apakah ini merupakan sebuah keharusan atau   tidak,” katanya.  Suhariyanto menjelaskan, sebagai Kota Santri, mayoritas  siswa-siswi di Kota Pasuruan sudah mengimplementasikan program tersebut. Namun, implementasinya dilakukan selama  6 hari. (radar)

Incoming search terms:

  • sma probolinggo yang menerapkan full day