Browse By

Mandor Proyek Tol Paspro Tewas Tertimpa Bongkahan Bangunan

Jenazah Eko Hartono saat dievakuasi ke kamar mayat RSUD dr Moh Saleh, Sabtu (22/7).

SUMBERASIH – Pengerjaan proyek tol Pasuruan- Probolinggo memakan korban. Eko Hartono, 53, mandor
proyek tersebut tewas tertimpa bongkahan bangunan yang dirobohkan oleh rekannya. Korban yang berasal Kelurahan Kebraon, Kecamatan Karang Pilang, Surabaya itu, mengalami luka robek di leher bagian belakang dan wajah.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.15 kemarin, di lokasi proyek yang masuk Desa Muneng Kidul, Kecamatan Sumberasih. Di Tem pat Kejadian Perkara (TKP), korban hanya bersama Agung Santoso, 29, warga Desa Curahmalang, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang.

Saat itu, Eko–sapaan akrab korban-memandu Agung untuk merobohkan bangunan milik  warga yang sudah dibebaskan. “Karena saya disuruh atasan saya  (Eko, Red), maka saya menurut  saja,” terang pekerja yang sehari- harinya mengoperasikan buldozer  tersebut.

Atas perintah Eko, sebagian tembok yang masih berdiri itu dirobohkan ke arah barat. Saat itu, Eko ternyata berada di samping bangunan yang akan dirobohkan tersebut. Ternyata, tak  hanya satu bangunan saja yang  roboh. Bangunan lain yang masih  berdempetan dengan bangunan  pertama, juga ikutan roboh.

Loading...

“Waktu itu saya sudah berhenti.  Tapi mandor memberi aba-aba terus-terus. Akhirnya saya teruskan mendorong bangunan  itu ke arah barat,” terangnya. Tembok yang menghadap ke selatan itu juga roboh, dan salah  satu penyangga yang terbuat dari semen dan batu, langsung menghantam telengkuk Eko.  Tiba-tiba Eko roboh dan tak sadarkan diri.

Melihat sang mandor terjatuh, ia langsung meminta bantuan ke warga. Termasuk ke  puskesmas pembantu yang jaraknya sekitar 10 meter dari sana.  Sayangnya, nyawa korban tak tertolong lagi.  Ida Nursanti, 36 perawat di  puskesmas tersebut mengatakan, luka yang dialami korban, di tengkuk.

Ketika ia mendatangi korban, denyut nadinya masih ada. Namun tak lama kemudian  denyutnya mulai menghilang.  “Ketika saya cek denyutnya masih ada, sehingga kami langsung berusaha meminta bantuan untuk membawanya ke IGD RSUD  Mohamad Saleh. Sayangnya,  sekitar 10 menit kemudian, nyawanya tak tertolong lagi. Denyutnya sudah tidak ada,” bebernya.

Selanjutnya, Eko langsung  dibawa ke kamar mayat RSUD   Moh. Saleh.  Kapolres Probolinggo Kota AKBP Alfian Nurrizal yang mendatangi  lokasi kejadian mengungkapkan,  terkait kematian mandor tol tersebut, pihaknya masih menyelidiki  lebih dalam. Mengingat kejadian  tersebut hanya dilakukan berdua saja. Padahal, seharusnya lebih dari dua orang.

“Kami masih menyelidiki kasus ini. Sehingga,  kami masih belum bisa mengutarakan secara detail, apakah ada motif lain atau tidak,” terangnya.  Kepala Pelaksana proyek Season II Didik Saputra mengungkapkan, ia sebenarnya belum memberikan intruksi terkait dengan pelaksanaan pembongaran  dalam bentuk apapun. Sehingga,   area tersebut sejatinya tidak ada yang boleh menyentuh maupun  merobohkan.

“Sudah ada arahan pada pelaksana di lapangan, agar tidak melakukan aktivitas pembongkaran apapun sebelum ada intruksi. Namun, hal itu sepertinya  tidak diindahkan,” terangnya. Pihak tol kemudian berkoordinasi  dengan Disnaker dan ke polisian.

Termasuk membantu jenazah, hingga pengurusan, santunan, sampai ke penguburan. Langkah yang diambil selanjutnya, pihaknya akan melakukan koordinasi dan evaluasi agar kejadian serupa tidak  terulang lagi. (radar)