Browse By

Sadis, TKW asal Grati Ini Disiram Cairan Kimia

Suci Sri Kusmiyati saat dirawat di Hospital Tengku Ampuan Rahimah Klang Selangor, Malaysia, usai disiram cairan kimia oleh kawannya.

GRATI – Rencana Suci Sri Kusmiyati, 26, untuk mencari rezeki di negeri jiran,  justru berujung sial. Itu, setelah tenaga kerja wanita (TKW) asal Dusun Krawan, Desa Kedawung Wetan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, mengalami luka bakar akibat disiram cairan kimia. Akibat siraman itu, Suci mengalami luka seperti terbakar di bagian wajah, lengan, pundak, dan tangannya.

Tragisnya, pihak keluarga yang ada di rumah, tak memiliki biaya untuk perawatan Suci di Malaysia. Bahkan, untuk sekadar  menelpon Suci guna mengetahui keadaannya selama di rumah sakit, pihak keluarga  tak mampu. Mereka hanya bisa berharap,  Suci bisa segera pulang dan kembali bersama keluarga.   

Nasika (berkerudung) ibu korban dan Nadia, anak korban yang sampai kemarin masih bingung untuk memulangkan Suci dari Malaysia.

Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, insiden disiramnya Suci dengan cairan kimia itu terjadi Minggu (16/7)   lalu. Menurut informasi yang diperoleh keluarga, saat itu Suci sedang bekerja di perusahaan.   Tiba-tiba saja, salah satu kawan  Suci, menyiram perempuan yang sudah memiliki satu anak tersebut.  Seketika itu Suci langsung berteriak meminta tolong.

“Setelah disiram, kawan-kawannya yang berasal dari Indonesia, membawanya ke rumah sakit. Lalu, diantara kawan anak saya, menghubungi kami melalui telepon,” beber Nasika, 40, ibu korban, yang kemarin ditemui di rumahnya.

Loading...

Mendapat kabar itu, kontan saja Nasika bingung. Apalagi, selama ini dia hidup kekurangan. Meski Suci sudah setahun bekerja, Nasika masih ingat, anaknya itu hanya sekali mengirimkan uang ke Pasuruan. “Saat itu dikirim sejuta. Seingat saya September tahun lalu,” terang Nasika yang langsung memeluk Nadia Cyntia Septiani, anak Suci.

Nasika juga tidak tahu persis, melalui apa Suci bisa sampai ke Malaysia. Sebab, keberangkatannya ke negeri jiran, juga tak diketahuinya. Menurut Nasika,  saat itu Suci berangkat secara  sembunyi-sembunyi pada April  2016 silam. Bahkan, tak mengabarkan kerabat siapapun.

Pihak keluarga sendiri, sebenarnya sudah berupaya mencari, saat Suci tak kunjung pulang.  Namun, Nasika memperkirakan,  saat itu Suci sedang menyelesaikan permasalahan rumah tangganya dengan suaminya. Rumah tangga Suci memang  tengah diujung tanduk.

Dia sudah pisah ranjang dengan suaminya yang berasal dari Sukorejo. Bahkan, saat ini Suci sedang mengajukan gugatan cerai. Semenjak  itu, Suci bersama Nadia anaknya,  kembali ke rumah orang tuanya  di Kedawung. Sudah berkali-kali, kata Nasika, Suci punya niatan mencari kerja.   Hingga, Agustus tahun silam, Suci menghubungi Wagito, adiknya.

“Dia (Suci) telpon adiknya karena  takut sama kami. Saat itu dia bercerita sudah ada di Selangor, Malaysia dan bekerja di sebuah  perusahaan tekstil. Semenjak itulah, komunikasi baru lancar.  “Setiap dua hari sekali atau  paling lama sepekan, Suci menelpon. Menanyakan kabar Nadia.  Kadang telepon ke saya atau ke Wagito,” kata Nasika.

Keluarga perlahan juga yakin bahwa keberangkatan Suci, setidaknya bisa membantu perekonomian. Meski saat itu Suci baru sekali mengirimkan uang ke  Indonesia, keluarga masih  memahami. “Mungkin saja di sana dia masih butuh biaya untuk adaptasi. Apalagi, di sana kan tidak ada kenalan,” beber Nasika.

Tiap kali menelpon, Suci juga banyak bercerita tentang kondisi di Malaysia. Mulai soal rekan-rekannya yang sama-sama berasal dari Indonesia. Termasuk soal  kenalannya yang bernama Salim, tenaga kerja asal Bangladesh. Suci, kata Nasika, rupanya tak  nyaman dengan Salim. Sebab, lelaki ini menaruh hati terhadap Suci.

“Tapi, anak saya tidak mau. Karena dari Bangladesh dan kabarnya (Sali6m) sudah memiliki istri dan anak,” kata Nasika. Tak disangka, penolakan Suci terhadap Salim inilah yang menjadi petaka. Pada Minggu lalu, Suci  disiram Salim di tempat kerjanya.  Peristiwa itu terjadi pagi hari.

“Selang kejadian, Wagito di- hubungi Ali, TKW asal Aceh yang  menjadi security di tempat kerja yang sama dengan anak saya. Waktu itu Ali mengabarkan bahwa Suci sudah dibawa ke rumah  sakit, namun belum bisa diajak bicara,” terang Nasika.

Seketika itu, keluarga mencoba  menghubungi ponsel Suci. Tetapi tak aktif. Ternyata, ponsel Suci dirampas oleh Salim, dua hari  sebelum kejadian. Kini, keluarga diliputi kesedihan atas musibah yang dialami Suci. Nasika menuturkan keinginannya agar anak sulungnya itu segera  dapat dipulangkan. Tapi, apa daya dia sendiri tak punya biaya. Apalagi, Nasika hanya seorang penjual kopi  di warung kecil.

Ayah Suci juga hanya pekerja serabutan. Hingga kemarin, ia masih diliputi perasaan harap-harap cemas. Nasika menyebut, sejak  Suci dirawat dirinya baru kemarin  menerima telpon dari anaknya itu. “Tadi pagi (kemarin) Suci telepon, dia ingin pulang, tapi malu wajahnya jelek tak seperti dulu. Saya hanya bisa menguatkan  hatinya melalui doa, setelah itu  saya sampaikan tak masalah dengan wajah bagaimanapun rupanya. Terpenting ialah kesehatan dan bisa kembali dengan keluarga,” imbuh perempuan berusia 40 tahun itu.

Soal biaya perawatan di rumah  sakit, Nasika juga tak bisa memastikan. “Saya hanya dikabarkan bahwa kawan-kawannya patungan. Kalau dihitung, biaya perawatan di rumah sakit sudah habis sekitar Rp 30 juta. Uang  itu mungkin hasil urunan koncone  (kawannya),” beber Nasika.

Sementara itu, Kabid Penempatan Tenaga dan Perluasan Kesempatan Kerja di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi  Kabupaten Pasuruan Djoko Sulistyo membenarkan adanya TKW  yang terkena siraman bahan  kimia itu. Hanya saja, Djoko belum dapat memastikan legalitas  status Suci sebagai TKW.

Kendati demikian, ia menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan koordinasi  dengan instansi terkait. “Kami  masih koordinasikan dengan  PJTKI yang ada di Malaysia untuk  perawatan medis dan pemulangan. Legalitasnya kami masih  belum bisa memastikan,” tandasnya. (radar)