Browse By

Warga Keluhkan Biaya Token Makin Boros

Pelanggan listrik pascabayar atau token, kini banyak mengeluhkan penggunaan token yang makin boros.

MAYANGAN – Pemakaian token  listrik dikeluhkan makin boros,  belakangan ini. Terutama di kalangan rumah tangga. Setiap   bulan, bahkan anggaran untuk  token listrik bertambah.  Seperti yang disampaikan Nur   Laili, 35, warga Kelurahan/Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo.

“Semakin berat sekarang biaya listrik di rumah. Padahal saya pakai token, bukan yang prabayar,” tuturnya. Laili, panggilannya awalnya menggunakan listrik prabayar.  Dia lantas beralih menggunakan token agar lebih hemat tagihan  listriknya.

Awalnya, menurut dia, memakai token dirasakannya lebih murah. Namun, kini memakai token sama beratnya dengan listrik  pra bayar. Sebab, saat ini token  lebih cepat habis.  “Sudah satu tahun saya beralih ke token. Biasanya beli pulsa  token Rp 100 ribu habisnya 15  hari. Tapi, sekarang ini dengan  nominal token yang sama bisa habis hanya 10 hari,” ujarnya.

Ibu dua anak ini mengaku memakai listrik dengan tegangan  900 VA. Dan, selama satu tahun  terakhir, tidak menambah alat elektronik di rumahnya. Namun, biaya listrik makin mahal.  Moch Machsus, kasie Statistik dan Distribusi di Badan Pusat Statistik (BPS) BPS Kota Probolinggo mengungkapkan, setahun terakhir memang pemerintah menaikan tarif dasar listrik.

Loading...

“Baik  itu untuk listrik prabayar maupun pascabayar,” ujarnya.  Selain itu, Pemerintah Pusat melalui PLN telah mencabut subsidi bagi sebagian pengguna listrik 900 VA. Efeknya, ini membuat pelanggan jadi makin berat  bebannya.

Pada pengguna listrik pascabayar  menurutnya, efek kebijakan pemerintah ini membuat pengguna  harus membayar tagihan listrik  lebih tinggi. “Sementara untuk  pengguna listrik prabayar, biasanya tokennya cepat habis di bandingkan  sebelumnya,” ujarnya. (radar)