Browse By

Kejari Kota Pasuruan Tahan Dua Pengurus KUB

Kejari Kota Pasuruan Tahan Pengurus KUB

PASURUAN – Penyidikan dugaan kasus korupsi dana hibah Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) Kota Pasuruan, telah rampung. Kejaksaan Negeri Kota Pasuruan menetapkan dua orang tersangka. Yakni, ketua dan bendahara KUB Pemuda Mandiri.

Kedua tersangka resmi ditahan di Lapas Klas II B Pasuruan, sejak Selasa (19/7) lalu. Kedua tersangka itu adalah  Abdul Aziz, 35, ketua KUB Pemuda Mandiri serta Samsuri, 45, bendahara di KUB yang sama. Keduanya merupakan warga Kelurahan Tapa’an, Kecamatan  Bugul Kidul, Kota Pasuruan.

Keduanya disangka melanggar Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tindak  Pidana Korupsi (Tipikot).  Kasi Pidsus Kejari Kota Pasuruan Siswono menerangkan, kedua tersangka telah melakukan rekayasa dalam pengajuan dana hibah pada tahun 2014 silam.

Terkait dengan KUB Pemuda Mandiri sebagai penerima dana  hibah tersebut, Siswono menegaskan bahwa kelompok tersebut fiktif.  Selain itu, nama-nama yang  dicantumkan sebagai anggota KUB Pemuda Mandiri, sejatinya  tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.

Loading...

“Kami melihat adanya rekayasa dalam pengajuan dana itu. Dari pemalsuan proposal yang di dalamnya mencatut nama-nama anggota, tanda tangan, bahkan agenda rapat,”  ujar Siswono. Berdasarkan pemeriksaan terhadap nama-nama yang tercantum sebagai anggota KUB Pemuda Mandiri itu, ditemukan beberapa fakta.

Siswono menyebutkan di antaranya ialah adanya nama yang tercantum sebagai  anggota ternyata buta aksara. “Kami periksa nama-nama yang  tercantum sebagai anggota. Diantaranya ada yang buta aksara, jadi tidak bisa melakukan teken pada proposal itu. Tapi, di proposalnya lengkap ada nama dan tanda tangan,” imbuhnya.

Dugaan jaksa kian menguat,  setelah dilakukan kroscek terhadap usaha bengkel motor yang dijadikan objek pencarian dana  sebesar Rp 105 juta itu. Sebelum  mencairkan dana hibah, Siswono menyebutkan bahwa pihak  Bapemas telah melakukan verifikasi terhadap objek usaha  bengkel motor itu.

“Pada waktu verifikasi, bengkel   motornya ada, lengkap dengan alat dan karyawan,” tutur Siswono. Akan tetapi, ia menyatakan bahwa hal itu ternyata hanyalah kamuflase kedua tersangka. Ia menyebut, tersangka  AA memang memiliki usaha bengkel. Namun, itu beberapa tahun yang lalu.

“Pada waktu pencairan dana, sudah tutup,”   tambahnya. Saat disinggung mengenai adanya kemungkinan tersangka  lain, Siswono mengatakan bahwa  hal itu memang mungkin saja terjadi. Akan tetapi, sejauh ini hanya ada dua tersangka saja  yang berperan dalam rekayasa   pencairan dana hibah itu.

“Sementara, kasus ini pada ranah  penerima dana hibah. Sedangkan, sekretarisnya mengundurkan diri sejak KUB ini digagas,” ungkap Siswono. Dalam proses penerimaan dana hibah itu, pihak Bapemas melakukan pencairan dana sebesar Rp  105 juta ke rekening milik SM  selaku bendahara.

Dana hibah yang diajukan pada 2014 itu, dicairkan pada tahun 2015.  Sebelum resmi ditangkap, Jawa Pos Radar Bromo sempat bertemu dengan kedua tersangka. Keduanya menyatakan jika KUB  yang dibetuknya tidak fiktif. Akan tetapi mereka mengakui jika  telah memalsukan tanda tangan  anggota.

“Kalau dikatakan kelompok usaha kami fiktif, tidak. Strukturnya ada, SPj (Surat Pertanggungjawaban, Red) juga sudah dibuat. Tapi, kalau tanda tangan, memang kami akui tanpa sepengetahuan yang bersangkutan,” ujar Samsuri. Terkait dengan dana hibah,  Samsuri menyebut tidak digunakan untuk kepentingan pribadi seluruhnya.

Ia mengaku pihaknya  telah membeli dua unit mesin bubut. Samsuri menegaskan,  hanya 20 persen saja yang digunakannya bersama Aziz untuk kepentingan pribadi. Diberitakan Jawa Pos Radar Bromo sebelumnya, Kejari Kota  Pasuruan mengeluarkan surat  perintah penyidikan (sprindik) pada 10 April lalu.

Mulai saat itu, kejaksaan terus melakukan pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket). Hingga kemudian, Selasa lalu, Kejaksaan  menahan kedua tersangka. (radar)

Incoming search terms:

  • korupsi di kota pasuruan warga tapa an