Browse By

Taat Pribadi Minta Bebas

Taat Pribadi berdiskusi dengan Soleh, pengacaranya di sela-sela persidangan.

Juga Minta Moge Harley Davidson Dikembalikan

KRAKSAAN – Dimas Kanjeng Taat Pribadi meminta dibebaskan dari semua tuntutan.  Tak hanya itu, orang nomor satu di Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu juga meminta motor gede (moge) Harley Davidson juga dikembalikan.

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan kasus dugaan pembunuhan terhadap korban Abdul Gani dengan agenda pembelaan, yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan, kemarin (18/7).  Dalam sidang itu, Taat Pribadi dan penasihat hukumnya, menyiapkan dokumen pembelaan  atau pleidoi setebal 55 halaman  dengan 38 subbab.

Namun, Taat Pribadi tak membacakan sendiri pembelaan itu. Pleidoi dibacakan oleh penasihat  hukum (PH) terdakwa. Dalam pembelaan tersebut disebutkan, terdakwa Taat Pribadi tidak berkaitan dengan kasus pembunuhan Abdul Gani.

Loading...

Fakta-fakta persidangan maupun keterangan saksi pun, tidak ada yang mengarah pada terdakwa. Muhammad Soleh, selaku PH   terdakwa mengatakan, tim PH berkeyakinan jika kliennya tersebut sama sekali tidak terbukti  secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana  sebagaimana dalam tuntutan   Jaksa Penuntut Umum (JPU).  Yaitu, pasal 340 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang Kejahatan terhadap Nyawa.

Oleh karena itu, pihaknya memohon pada majelis hakim untuk menerima pembelaan terdakwa dan membebaskan dari segala dakwaan JPU. Hal itu sesuai dengan pasal 191 ayat (1) KUHAP, setidak-tidaknya melepaskan terdakwa Taat Pribadi dari semua tuntutan hukum.

“Yang jelas, kami meminta kepada majelis hakim agar punya keberanian secara rinci mengusut dan memberikan keadilan atas kasus ini. Kemudian, kami juga memohon moge Harley Davidson milik terdakwa, dikembalikan.  Sebab, moge yang disita dan di bawa polisi itu ikut diamankan usai klien kami ditangkap dalam   penggerebekan,” katanya.

Soleh–sapaan akrabnya–menjelaskan, ada sejumlah hal yang bisa jadi pertimbangan hakim untuk membebaskan Taat Pribadi. Di antaranya, dalam fakta-fakta  persidangan, baik keterangan saksi-saksi, keterangan terdakwa dan alat bukti surat yang dihadirkan  dalam persidangan, tidak membuktikan kliennya terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut.

Selain itu, pengusutan dugaan pembunuhan yang dituduhkan pada terdakwa Taat Pribadi, dianggap sebagai upaya sistematis  atau by desain, untuk menutup  padepokan yang dituding menyebarkan ajaran sesat. Padahal,  sejak awal berdiri hingga saat ini, padepokan belum pernah di panggil oleh MUI untuk diajak  berdialog. Apakah tudingan sesat  itu memang benar atau tidak.

”Ada 41 kesimpulan yang menjadi pertimbangan dasar kuat,  kalau Taat Pribadi tidak terbukti secara sah dan meyakinkan terlibat melakukan pembunuhan berencana itu,” tegasnya. Sementara itu, Januardi Jaksa Negara, selaku Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kabupaten Probolinggo mengatakan, permintaan  Taat Pribadi untuk dibebaskan, tidak  mungkin.

Pleidoi yang di sampaikan kuasa hukum, kata Januardi, tetap dihargai. Namun, putusan atas kasus tersebut yang menentukan tetap majelis hakim. “Kita lihat saja jalannya persi dangan seperti apa. Tapi, jika permintaan dibebaskan dari jeratan hukum ini, saya sangat yakin itu tidak mungkin dikabulkan.

Pleidoi ini hak terdakwa dan kuasa hukumnya. Tapi, bagi kami JPU, tetap pada tuntutan sebelumnya, yakni dituntut penjara seumur hidup,” terangnya. Seusai sidang agenda pleidoi  dibacakan, majelis hakim menunda sidang pada Kamis (20/7) depan, dengan agenda replik atau jawaban atas pleidoi terdakwa. (radar)