Browse By

Tak Kunjung Tetapkan Tersangka

Korlantas juga memeriksa bus nahas yang disimpan di Rupbasan.

Korlantas dan KNKT  Datangi TKP Laka Maut

GENDING – Hingga kemarin (15/7) polisi belum menetapkan tersangka atas kecelakaan maut yang menewaskan 10 korban. Polisi masih disibukkan dengan analisa pada peristiwa  tersebut. Bahkan, kemarin Korlantas Mabes  Polri dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Olah TKP oleh Korlantas dilakukan sekitar pukul 09.30. Dalam olah TKP kemarin, Korlantas menggunakan alat yang lebih canggih dari TAA milik Dirlantas Polda Jatim. Alat yang dinamakan laser scanner itu, menurut  Korlantas memiliki akurasi sampai 90 persen.

Tim dari Sub Bidang Penyidikan Kecelakaan Korlantas Mabes Polri melakukan olah TKP.

Saat olah TKP,  kendaraan dari arah barat maupun sebaliknya, harus berhenti. Sebab, Korlantas sendiri meminta lokasi kejadian steril. Karenanya, kemacetan panjang terjadi di ruas utama Surabaya-Banyuwangi itu.

Loading...

Namun, 15 menit sekali,  Korlantas menghentikan olah TKP dan menyilahkan pengendara lewat. Kasubbid Sidik Laka Korlantas Mabes Polri, AKBP Dedy Suhartono mengatakan, untuk dapat memastikan penyebab terjadinya kecelakaan, pihaknya melakukan analisa dengan menggunakan alat lacer scaner tersebut.

Nantinya, alat tersebut  dapat membaca kecepatan kendaraan truk maupun bus, pengereman, jarak kedua kendaraan,  panjang dan lebar jalan, kondisi jalan dan faktor lainnya.  “Kami juga harus melihat langsung dan memeriksa kondisi bangkai bus dan truk untuk dapat mengetahui pasti penyebab terjadinya kecelakaan. Nanti, baru bisa diketahui. Akurasinya sekitar 90 persen lebih,” katanya  kepada Jawa Pos Radar Bromo  kemarin. 

Saat disinggung soal kedua  sopir truk dan bus yang belum ditetapkan tersangka, Dedy  mengaku tidak dapat langsung memutuskan. Meskipun, keduanya dianggap sama-sama  menjadi pemicu terjadinya kecelakaan. Karenanya, kepolisian  masih melakukan pemerikasan  pada sopir, sembari menunggu  hasil olah TKP tersebut.

“Kecelakaan ini bisa karena human error. Banyak faktor yang  menjadi penyebabnya. Bisa karena kondisi jalan yang tidak layak, penerangan jalan terhalang  oleh daun ranting pohon di tepi jalan, dan banyak faktor  lainnya,” terangnya.

Setelah mengunjung TKP, Korlantas kemudian mendatangi bangkai bus yang ada di ke Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan), di Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Rombongan  datang sekitar pukul 12.00.

Pihak Korlantas kemudian memeriksa bangkau bus yang rusak parah di belakang sopir. Menurutnya, kecelakaan yang salah satunya menewaskan Imanuel, wisatawan asing asal Austria itu, tidak terjadi andai kecepatan kendaraan berada di  bawah sebelumnya.

“Jika dengan kecepatan 60 km/jam, maka  tidak akan ringsek seperti itu,”  bebernya. Karenanya, polisi tak bisa dibohongi pelaku yang ingin mengaburkan fakta. “Nanti, hasilnya akan dikirim  ke Satlantas Probolinggo. Langsung bisa dikonfirmasi ke Satlantas sini saja,” imbuhnya.

“Selain itu, ujir kir bus masih  ada. Termasuk jalan masih laik dilalui kendaraan. Jika sudah  tidak layak jalan, maka tidak akan  ada ijin kirnya,” imbuhnya. Tidak hanya Korlantas, upaya mengungkap pemicu peristiwa kecelakaan itu juga dilakukan   KNKT.

Institusi yang ada di bawah naungan Kemenhub itu  juga meminta keterangan dari  kedua sopir kendaraan. Namun,  sama halnya dengan Korlantas, analisa yang dilakukan KNKT  belum bisa dipublikasi.  “Untuk saat ini kami (tim KNKT) belum bisa menyimpulkan, karena harus dianalisa secara lengkap,” ujar ketua tim dari KNKT, Dwi Bakti Permana.

Menurut  pria berkacamata itu, KNKT  memang sengaja ikut turun melakukan analisa, karena peristiwa itu terjadi jalan nasional dan mengakibatkan banyak korban tewas. Tim KNKT sendiri bertujuan  untuk mencari tahu apa sebenarnya terjadi dalam kejadian tersebut.

Tim mengumpulkan data- data yang telah diperiksa. Setelah  data terkumpul, selanjutnya dianalisa. Baru setelah selesai, tim akan mengirimkan rekomendasi keselamatan pada Kementerian PU, Kementerian Perhubungan, atau bisa langsung ke Dinas Perhubungan setempat.

Tim KNKT yang kemarin turun, di antaranya Dwi Bakti Permana sebagai ketua tim, lalu M. Budi  Susandi dan Zulfikar Sejarief  sebagai anggota. “Semoga jangan sampai ada kecelakaan seperti ini lagi, miris rasanya kalau ada  lagi,” ujar Dwi Bhakti.

Diberitakan koran ini sebelumnya, kecelakaan maut terjadi  dini hari kemarin (14/7), sekitar  pukul 02.30. Tak hanya menewaskan 10 penumpang, kecelakaan itu juga membuat 9 penumpang lainnya luka-luka. Data yang dihimpun Jawa Pos  Radar Bromo menyebutkan, kecelakaan bermula saat truk Hino nopol DR 8600 AB yang dikemudikan Munawir, 40, warga Dusun Beleke Gerung, Mataram, NTB, yang sarat muatan pakan ternak  seberat 22 ton itu, melaju dari  arah barat ke timur.

Truk yang bertolak dari Wonokoyo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, itu melaju  dari arah barat dengan kecepatan 25 kilometer/jam. Sampai di tikungan sebelum tempat   kejadian perkara (TKP), teruk berbelok dengan kemiringan 30  derajat.

Dari arah berlawanan, muncul  bus Medali Emas nopol N 7130 UA yang dikemudikan Rifai A  Kerto, 48, warga Desa Sumbersuko, Kecamatan Purwosari,  Kabupaten Pasuruan, yang tancap gas dengan kecepatan 70  kilometer/jam.

Kecepatan dan  kemiringan kedua kendaraan itulah yang diduga menjadi pe nyebab peristiwa tersebut. Saat itu, sopir bus dan truk  diduga baru menyadari ada kendaraan di depannya. Kedua sopir sama-sama berusaha banting setir ke kiri. Bukannya selamat,  justru usaha tersebut membuat  bodi kedua kendaraan saling bergesekan.

Nahas bagi penumpang bus yang posisinya berada  di belakang sopir. Penumpang yang saat itu tengah terlelap, tak mampu menghindari kecelakaan tersebut.  Bodi truk yang terbuat dari  besi, nyasak bodi bus sisi kanan. Akibatnya, penumpang bus yang  duduk di kursi kanan belakang   sopir pun tewas.

Penumpang yang semula terlelap, tersentak begitu  menyadari peristiwa tersebut.  Kepanikan terlihat dari seluruh penumpang yang saat itu masih  hidup. (radar)