Browse By

Sopir Bus-Truk Kecelakaan Maut di Probolinggo Bisa Jadi Tersangka

Sopir truk Munawir dan sopir bus Rifai (paling kiri) saat dimintai keterangan di Pos Lantas Bentar.

POLISI langsung bergerak cepat menangani kasus kecelakaan maut di jalan raya Desa Curahsawo, Kecamatan  Gending, Kabupaten Probolinggo.  Tim Traffic Accident Analysis (TTA) Polda Jatim, langsung mendatangi lokasi kejadian untuk  melakukan olah tempat kejadian   perkara (TKP).

Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Ibnu Isticha turun langsung dalam proses olah TKP. Kedua sopir kendaraan, baik bus maupun  truk menjalani pemeriksaan intensif. Kesimpulan sementara, kecelakaan yang mengakibatkan 10 korban tewas itu, diakibatkan kedua kendaraan tersebut.

“Semua bisa jadi tersangka. Hasil olah TKP oleh TTA, kecelakaan sama-sama akibat kedua  kendaraan. Bisa juga karena faktor kesengajaan oleh sopir bus atau  truk karena faktor kelelahan dan mengantuk, tapi dipaksakan  (mengemudi, Red),” terang perwira menengah dengan dua  melati di pundaknya itu.

Proses olah TKP sendiri dimulai sekitar pukul 09.00. Namun, olah TKP sempat tertunda. Pasalnya, peralatan komputer TAA error.  Sekitar 10 menit dilakukan perbaikan komputer, akhirnya olah  TKP yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kecepatan bus dan truk saat sebelum dan  terjadi kecelakaan, dimulai.

Loading...

Olah TKP yang dilakukan TAA, juga dilakukan untuk mengetahui posisi laju kedua kendaraan dan kemiringannya.  “Jalan tikungan ini memiliki kemiringan 15 derajat. Truk muatan pakan ternak 22 ton itu melaju di tikungan dengan kecepatan sekitar 25 kilometer per  jam, akibatnya truk miring sampai  30 derajat. Coba, truk itu lajunya lebih kencang, kemiringan tidak terlalu parah,” ungkapnya.

Sisi lain diungkapkan Dirlantas, bus yang melaju dari arah berlawanan itu melaju dengan kecepatan tinggi yaitu sekitar 70 kilometer per jam. Saat melintas  di tikungan itu, ternyata menghantam bak truk yang posisi  kemiringan 30 derajat. Meskipun, kedua kendaraan saat itu sama-sama berada di jalurnya.

“Keduanya bisa menjadi tersangka karena sama-sama menjadi penyebab terjadinya kecelakaan. Sopir mengalami kelelahan, baik bus maupun truk.  Sopir bus yang melaju kencang,  ternyata juga tidak memiliki sopir  cadangan untuk angkutan lintas  provinsi,” tegasnya.

Saat disinggung soal dugaan sopir bus yang ugal-ugalan? Ibnu–sapaan akrabnya–membenarkan. Informasi itu ia dapatkan setelah  pihaknya meminta keterangan dari penumpang. Kecepatan  bus, juga dibuktikan dengan  singkatnya perjalanan yang di tempuh dari Pelabuhan Ketapang  sampai TKP.

Pada umumnya, perjalanan dari  Banyuwangi sampai Probolinggo ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam atau paling cepat 4 jam. “Bus ini keluar dari kapal atau pelabuhan pukul 22.30, kemudian sempat  berhenti di rumah makan 25 menit.  Waktu kejadian pukul 02.30. Berarti,  bus ini melaju dari Banyuwangi  sampai lokasi kejadian hanya 3,5  jam,” ungkapnya.

Sementara itu, Pemimpin Perusahaan Otobus (PO) Medali Mas Budy Tjahjono mengaku belum memutuskan langkah  selanjutnya terkait korban  kecelakaan maut tersebut. “Kami  masih belum tahu. Lihat korbannya dulu,” ujar Budy pada Jawa Pos Radar Malang saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Budy mengaku, saat ini masih berada di luar kota. Dia pun juga belum mengetahui pasti kronologi musibah tersebut. “Karena kan  masih olah TKP. Jadi, belum tahu kabarnya,” jelas dia. “Masih ditangani polisi. Yang penting kan korbannya dievakuasi  dulu,” jelasnya.

Termasuk soal sopir yang dituding ugal-ugalan, ia juga belum berani memberikan sikap. “Masih belum tahu, kami  belum tahu penyebabnya apa.  Masih terlalu awal,” ujarnya.  Termasuk saat ditanya mengenai santunan pada keluarga  korban, ia juga masih menunggu kejelasan kasus tersebut.

“Kami kan masih belum tahu kronologinya seperti apa.  Korban pasti nomor satu,” kata  dia. Saat ini dirinya masih menunggu laporan dari TKP. (radar)