Browse By

Sepuluh Penumpang Bus Tewas

Kondisi bus Medali Mas sesaat setelah kejadian.

Satu Korban Tewas Warga Austria

GENDING – Penumpang bus malam Medali Mas jalur Denpasar-Malang yang melintas di jalur pantura KM
106, tepatnya di jalan raya Desa Curahsawo, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, shock berat. Mereka tak menyangka, bus yang   ditumpangi terlibat kecelakaan maut.

Total, ada 10 korban tewas dalam peristiwa tersebut. Kecelakaan maut itu terjadi dini hari kemarin (14/7), sekitar pukul 02.30. Tak hanya menewaskan 10 penumpang, kece lakaan itu juga membuat 9 penumpang lainnya luka-luka.

Tentu saja, situasi di dalam bus yang mengangkut total 32  penumpang di pagi buta itu, sangat mencekam. Maklum,  kesepuluh korban tewas, menderita luka parah. Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan,  kecelakaan bermula saat truk Hino nopol DR 8600 AB yang di kemudikan Munawir, 40, warga  Dusun Beleke Gerung, Mataram,  NTB, yang sarat muatan pakan  ternak seberat 22 ton itu, melaju dari arah barat ke timur.

Loading...

Truk yang bertolak dari Wonokoyo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, itu melaju dari arah barat dengan kecepatan 25  kilometer/jam. Sampai di tikungan sebelum tempat kejadian  perkara (TKP), teruk berbelok  dengan kemiringan 30 derajat.

Dari arah berlawanan, muncul bus Medali Mas nopol N 7130  UA yang dikemudikan Rifai A  Kerto, 48, warga Desa Sumbersuko, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, yang tancap gas dengan kecepatan 70 kilometer/jam. Kecepatan dan kemiringan kedua  kendaraan itulah yang diduga  menjadi penyebab peristiwa   tersebut.

Saat itu, sopir bus dan truk diduga baru menyadari ada ken daraan di depannya. Kedua sopir sama-sama berusaha banting  setir ke kiri. Bukannya selamat,  justru usaha tersebut membuat  bodi kedua kendaraan saling  bergesekan.

Nahas bagi penumpang bus yang posisinya berada di belakang sopir. Penumpang yang saat itu tengah terlelap, tak  mampu menghindari kecelakaan tersebut.  Bodi truk yang terbuat dari besi, nyasak bodi bus sisi kanan. Akibatnya, penumpang bus yang  duduk di kursi kanan belakang sopir pun tewas.

Penumpang  yang semula terlelap, tersentak begitu menyadari peristiwa tersebut. Kepanikan terlihat dari seluruh penumpang yang saat   itu masih hidup. Tanti Yuniarti, 30, penumpang bus asal Jl. Karya Timur, Kelurahan  Purwantoro, Kecamatan Blimbing,  Kota Malang mengatakan, ia taktidur saat peristiwa terjadi.

Namun, dirinya yang duduk di kursi  nomor dua dari depan sisi kiri,  tidak menghadap ke depan. Saat  itu, ia tengah menidurkan kedua  putrinya. “Tiba-tiba, langsung ada benturan keras dan bunyinya juga keras,” katanya pada Jawa Pos  Radar Bromo saat ditemui di  kamar mayat RSUD dr Mohamad  Saleh, Kota Probolinggo.

Usai  benturan itu, ia melihat ibu mertuanya, Markami, 60, dalam posisi terjepit di bangku kursi samping kanannya. Tak hanya ibu mertuanya, kakak iparnya, Maria Yustina Eni Bhudoyo yang duduk bersebelahan  dengan ibu mertuanya, juga tergencet.

“Sopir busnya ugal-ugalan. Mulai dari Terminal Ubung sudah ngebut. Penumpang berkali-kali mengingatkan untuk tidak ngebut,” terang Tanti sedih pasca kehilangan ibu mertua  dan kakak iparnya itu. Hal serupa juga diungkapkan saksi Maya Sukmawati, 29, warga  asal Kelurahan Sanur, Kota Denpasar.

Saat ditemui di RS Wonolangan Dringu, Maya mengatakan, saat memasuki wilayah Probolinggo, sopir sudah diingatkan oleh penumpang untuk tidak ngebut. Ternyata, Rifai tak menggubris teguran penumpang. “Saat hendak berangkat dari Terminal Ubung, sempat ada firasat. Ada penumpang yang membawa bayi, bayi itu nangis terus di  depan. Kebetulan penumpang itu  duduk di depan saya,” kata Maya yang duduk di kursi nomor tiga  dari depan, di sisi kiri.

Rizaldi Iqwal Sentanu, warga  Kelurahan Cempoko Mulyo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten  Malang, yang mengalami luka, tak menyangka bus tersebut menjadi korban kecelakaan. Saat  itu, ia duduk di kursi paling belakang dekat toilet.

“Saya tidak tahu  penyebab terjadinya kecelakaan  karena tidur. Laju bus memang kencang,” ujarnya singkat. Saat kejadian berlangsung, pos  polisi Bentar yang berjarak sekitar  200 meter dari TKP, kosong. Petugas polisi yang pertama datang ke lokasi adalah dari anggota  Satlantas dan Polsek Dringu.

Saat petugas datang, warga tidak boleh masuk ke dalam bus.  Petugas pun langsung mengevakuasi korban satu persatu. Baik itu korban tewas maupun  yang luka-luka. Proses evakuasi sendiri berlangsung cukup lama. Ambulans RSUD dr Mohamad Saleh dan  RS Wonolangan, Dringu, dikerahkan semuanya untuk mengangkut para korban.

Korban tewas langsung dibawa ke kamar  mayat RSUD dr Mohamad Saleh.  Sementara korban luka, selain dibawa ke RSUD dr Mohamad  Saleh, juga dilarikan ke RS Wonolangan Dringu.  Penumpang selamat dan tidak  mengalami luka, dikabarkan  langsung mengamankan sendiri.

Ada yang memilih untuk melanjutkan perjalanan, namun ada  juga yang menunggu di lokasi.  Pasalnya, korban tewas juga  merupakan kerabatnya. Sopir truk, Munawir, yang langsung diamankan petugas membantah dikatakan mengantuk atau kelelahan.

Ia berdalih, truknya tak ngebut. Apalagi, muatan truknya penuh dengan berton- ton pakan ternak.  Soal alasan truknya miring ke kanan, menurutnya wajar. Karena saat berbelok, truk yang penuh muatan pasti menyeimbangkan diri dengan miring.

“Posisi arus lalu lintas saat itu  sepi. Tidak ada kendaraan lainnya.  Saya melaju pelan,” terangnya.  Rifai juga berusaha cuci tangan.  Sopir bus yang menyebabkan 10 orang harus meregang nyawa ini mengaku kecepatan kendaraannya standar. Dia berdalih, saat hendak menikung, ternyata truk di depannya miring. Sehingga, bodi busnya mengenai bak  truk tersebut.

“Saya keluar dari kapal pukul  22.30. Saya sempat istirahat makan 25 menit. Jadi, jalan dengan kecepatan biasa dan tidak mengantuk,” tandasnya. (radar)