Browse By

Minta Dibelikan Kain Kafan sebelum Berangkat

Suwanti dan anaknya juga tak kuasa melihat jasad suaminya, Agus Widodo.

SATU persatu tubuh kaku korban tewas dievakuasi dari bus maut Medali Mas yang terlibat kecelakaan di jalur pantura KM 106, Desa Curahsawo, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo.  Seluruh korban tewas, langsung dibawa ke kamar mayat RSUD  dr Mohamad Saleh untuk dimandikan.

Ruang jenazah rumah sakit  milik pemerintah itu, penuh sesak dengan 10 jenazah korban bus maut. Tentu, pemandangan itu membuat pilu. Biasanya, kamar mayat itu hanya cukup  untuk empat orang. Karena itu, sebagian jenazah ditempatkan  di dekat pintu masuk ruang  utama kamar mayat.

Gede Sudiarta menangis sembari memegang jasad Markami, istrinya

Belum lagi, (maaf) ceceran darah korban masih terus mengalir. Karena itu, bau anyir darah sangat terasa dari ruangan tersebut. Seluruh jenazah oleh petugas kemudian ditutup sebuah  selimut berwarna merah. Dengan telaten, petugas kamar mayat melakukan tugasnya, membersihkan seluruh jenazah sebelum dibawa ke rumah duka.

Tanti Yuniarti, 30, warga Jl.  Karya Timur, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing,  Kota Malang, salah satunya. Akibat kecelakaan itu, ibu mertua Tanti, yakni Markami, 60, dan kakak iparnya, Maria Yustina  Eni Bhudoyo, tewas di lokasi  kejadian.

Loading...

Ia mencoba tegar, meski jiwanya terguncang. Ia terlihat berdiri di tepi jalan  depan kamar mayat rumah sakit.  Dengan menggendong anaknya, Farah, yang masih berumur 18  bulan dan memegang anak pertamanya, Nasya, 8. Tanti masih  tak percaya dengan kenyataan  yang baru saja dihadapinya. Meski selamat karena duduk   di kursi nomor dua dari depan bagian kiri, ia tak sepenuhnya   tenang.

“Ibu mertua dan kakak  ipar saya meninggal. Saya duduk di kursi kiri. Kalau ibu mertua  dan kakak ipar, di kursi sebelah kanannya,” katanya kepada Jawa  Pos Radar Bromo, kemarin.  Salah satu warga pun meminta Tanti untuk minum dulu di  warung, supaya lebih tenang.

Tanti duduk di depan warung  yang baru saja dibuka. Saat itulah, Tanti menceritakan kejadian kecelakaan dan tentang kedua sanak keluarganya yang menjadi  korban. “Saya dari Bali, niatnya  pulang ke Malang,” ujarnya.

Tanti menceritakan, ia bersama  anak dan ibu mertuanya tinggal di Malang. Dua pekan sebelumnya, ia bertolak ke Bali untuk  mengantar suaminya yang bekerja di pulau dewata itu. Nah,  saat hendak pulang ke Malang, kakak iparnya ikut mengantar.

Siapa sangka, perjalanan kemarin merupakan perjalanan terakhir  dalam hidupnya di dunia.  Ibu dua anak ini mengaku sudah menginformasikan kabar duka itu ke keluarga suaminya. Termasuk keluarganya sendiri di Malang. “Saya sudah menghubungi keluarga, kalau kami   mengalami kecelakaan. Keluarga juga sudah tahu kalau ibu mertua dan kakak ipar meninggal,” terangnya.

Dalam perjalanan pulang kemarin, Tanti mengaku membeli empat tiket. Dua kursi untuk dirinya dan anaknya, dan dua  tiket lagi untuk ibu mertua serta kakak iparnya. Ia lantas duduk  dengan kedua anaknya. Saat  kecelakaan terjadi, Tanti mengaku ngeloni kedua anaknya.

Tanti mengaku, sejak awal ia  sudah merasakan tidak nyaman  dengan gaya mengemudi sopir  bus maut itu. Sebab, sopir bus yakni Rifai A Kerto, 48, asal Desa Sumbersuko, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, melaju dengan kecepatan tinggi.  Bahkan, di Bali, bus itu hampir menabrak kendaraan lainnya.

“Anak saya (Farah) sejak awal  nangis terus. Tidak tahu kenapa kok nangis terus, sampai kebawa  tidur anak saya,” ungkapnya.  Suasana duka semakin terasa ketika I Gede Sudiarta, 47, suami  Markami tiba di kamar mayat.

Sudiarta yang datang bersama  anak laki-lakinya yakni I Gede  W, 19, langsung shock. Bahkan, I  Gede W sempat emosi, melihat ibu dan kakaknya terbujur kaku. Sambil menangis, ia memukul tembok kamar mayat.  Menurut Sudiarta, ada firasat buruk yang ia rasakan setelah sang  istri bertolak ke Malang. Karena itu, sekitar pukul 22.00 sebelum kejadian, ia menelepon sang istri.

” Ketika saya telepon, istri saya  menjawab baru turun dari kapal  penyeberangan,”   bebernya.  Selanjutnya, sekitar pukul 05.00,   ia mendapat kabar bahwa bus yang ditumpangi istrinya mengalami kecelakaan. “Sebelum  berangkat, istri saya meminta  untuk mencarikan kain kafan.  Entah untuk apa saya kurang tahu. Ternyata itu firasat karena dia akan meninggal dunia. Jangan-jangan kain kafan itu untuk dirinya sendiri,” katanya  menangis tersedu-sedu.

Duka yang dirasakan Tina sekeluarga, juga dirasakan Dwi Reziana Isnaini, 32, Jl. Bunga Ku mis Kucing, RT 4/RW 2, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru,  Kota Malang. Penumpang yang kini dirawat di RS Wonolangan Dringu itu, harus kehilangan putrinya yang masih berumur 9 tahun,  Hanasyah Rezi.

Namun, hingga kemarin, Dwi belum diberitahu pihak keluarga  jika sang putri telah meninggal.  Karenanya, Dwi beberapa kali menanyakan keberadaan anaknya yang tidak ada di sampingnya.  Petugas polisi maupun rumah sakit,  masih berusaha menenangkan   dengan menyampaikan anaknya ada di rumah sakit lain karena IGD  RS Wonolangan penuh.

“Saya tidak tenang karena anak saya tidak ada. Dimana anak saya?” tanya Dwi sesenggukan. Dwi lantas menyampailkan ciri- ciri anaknya yang berbadan gemuk, agar ada pihak yang  mencarikan.  Pada Jawa Pos Radar Bromo, Dwi menceritakan, dirinya dari Bali berniat pulang ke Malang untuk mengantarkan anaknya pulang ke mantan suaminya. Kebetulan, dirinya sekitar empat  tahun lalu sudah cerai.

“Dulunya  anak saya ini tinggal bersama orang tua saya. Karena orang tua  saya meninggal, akhirnya tinggal bersama bapaknya di Malang. Setelah cerai menikah lagi dan tinggal di Bali,” terangnya.  Dwi menjelaskan, sekitar sepekan sebelum Lebaran, dirinya sengaja menjemput anaknya Hanasyah ke Malang untuk dibawa ke Bali. Ia berharap, anaknya bisa  tinggal bersama dirinya di Bali.

arena itu, ia membawa semua  berkas-berkas identitas KK dan rapor putri cantiknya itu. Supaya, bisa mendaftarkan   pindah sekolah ke Bali. Ternyata, anaknya tidak bersedia tinggal dan sekolah di Bali. “Ternyata anak saya tidak betah di  Bali dan minta pulang. Padahal,  saya inginnya tinggal dan sekolah di Bali bersama saya. Karena  minta pulang, jadi saya antar pulang,” ungkapnya.

Kurnadi, 42, warga Malang yang  merupakan keponakan dari Jumiati, 57, Jl. Dorowati Selatan, RT  2/RW 10, Desa Mulyoarjo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Jumiati yang berangkat dari Bali  ke Malang dengan anaknya yakni dan Sita Sofiana, 14. Keduanya  meninggal di lokasi kejadian  akibat kecelakaan tersebut.

“Saya mendengar dari kabar yang ada. Sehingga, sekitar pukul 07.30, kita berangkat ke Probolinggo untuk mengambil jenazah. Mereka akan dimakamkan di Malang,” terangnya.  Tak lama setelah itu, tepatnya selisih satu jam, datang lagi satu pria dan dua perempuan yang membawa tiga putrinya  yang masih kecil.

Diketahui,  rombongan tersebut dari Desa Kerobokan Kaja, Kecamatan  Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Mereka sengaja berangkat sekitar pukul 08.00 dari Bali untuk memastikan suaminya ada  di kamar mayat tersebut.   Hal itu diungkapkan oleh Fernanda Karel, 17.

Menurutnya, ia  mulai dini hari menunggu di Terminal Klaten, Bali. Ia menunggu Agus Widodo selaku pamannya.  Namun, ternyata hingga pagi  hari bus tersebut tidak muncul. “Kami berangkat dari Bali bersama. Selanjutnya, karena paman saya ada pekerjaan, maka kembali ke Bali terlebih dahulu. Selanjutnya ia hendak ke Klaten lagi  untuk mendaftarkan anaknya mondok di sana. Ia asli Klaten,  namun tinggal di Bali,” terangnya.

Pihaknya mendengar bahwa bus yang dari Bali, mengalami kecelakaan. Sehingga pihaknya langsung datang ke kamar mayat. “Ketika  saya menunggu dari malam hari, kok busnya tidak datang. Malah  bus berikutnya yang datang, saya tahu dari bus tersebut, jika bus sebelumnya mengalami kecelakaan,” bebernya.

Sebelum pihak keluarga datang  dan membenarkan bahwa itu Agus Widodo, korban tidak diketahui identitasnya. Mengingat, tak ada tanda pengenal ketika ia ditemukan. Suwanti Widiyanti, 42, istri  dari Agus mengungkapkan bahwa  seharusnya kemarin (14/7), pihaknya mengantarkan anaknya  untuk dimasukan ke pondok  pesantren di Klaten.

“Anak saya ada di Klaten. Ketika liburan, saya ajak ke Bali dan rencananya akan di sekolahkan di sana. Namun, ternyata anaknya tidak betah. Sehingga, akan dimondokkan di Klaten,” bebernya sambil meneteskan air mata.

Sementara itu, satu persatu jenazah korban asal Malang dan Bali, dibawa ambulans ke rumah  duka. Sedangkan untuk korban WNA atas nama Imanuel, 30, warga Austria, pasca dimandikan langsung dimasukan ke mesin  mortuary cabinet. Atau mesin  penyimpanan jenazah. Pasalnya dari informasi yang didapat, jenazah akan dikirim sekitar sepekan  kemudian lantaran masih akan diurus pihak kedutaan. (radar)