Browse By

Tumpangsari untuk Siasati Gagal Panen

Tanaman tembakau petani di Kabupaten Probolinggo dilengkapi dengan tanaman cabai.

KRAKSAAN – Sejumlah petani di  Kabupaten Probolinggo punya cara sendiri  dalam menyiasati pertanian tembakau yang terserang penyakit kerker dan terancam gagal panen. Salah satunya dengan menggunakan sistem tumpangsari.

Selain menanam tembakau, di sela-sela  tanaman itu juga ditanami cabai.  Seperti di lakukan oleh sejumlah petani   di Desa Kandangjati Wetan, Kecamatan Kraksaan. Kepala Desa Kandangjati Wetan  Abdul Ghazali mengatakan, banyak petani  tembakau menyelipkan tanaman cabai  di lahan yang ditanami tembakau. Itu, sebagai langkah antisipasi gagal panen dan murahnya harga jual tembakau karena  terserang virus kerker.

“Virus ini berakibat pada pertumbuhan tembakau. Otomatis nanti berpengaruh pada hasil panen dan harga jual. Sehingga,   untuk mengantisipasi itu, kami berinisiatif  mencampur tanaman tembakau dengan tanaman cabai,” ujarnya.

Dengan adanya dua tanaman dalam satu lahan, para petani berharap  mendapatkan pengganti dari proses tanam  tembakau. Ketika tembakau rugi akan  ditutup dengan hasil panen cabai. “Siapa  tahu nanti kami rugi. Jadi enak bisa ditutup dengan panen dari cabai. Ini, nanti panen  bulan 10 dan mudah-mudahan harganya  bisa tinggi,” ujarnya.

Loading...

Abdul Ghazali mengatakan, sejauh ini  di desanya, tembakau yang terserang virus kerker mencapai 1,5 hektare. Virus ini juga  lebih parah dibanding tahun kemarin. Sedangkan, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahananan Pangan Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Asyari mengatakan, virus kerker ini disebabkan musim kemarau  yang lembap. Sehingga, tembakau berpotensi terserang penyakit tinggi.

“Penyakit ini disebabkan cuaca yang tidak menentu atau kemarau lembap,” tuturnya. Untuk mengatasi masalah ini, kini pihaknya berusaha mengendalikan  hamanya. Sehingga, hama ini tidak banyak merugikan petani. Hasil dari proses  pengendalian ini bisa dilihat hasilnya  1-2 minggu ke depan.

“Nanti pada daun tengah dan atas tidak terjadi lagi kerker.  Cukup terjadi di fase daun bawah saja,” ujarnya. Menurutnya, langkah awalnya dengan  insektisida dan tidak mencabut tanaman. Sebab, penyebab kerker itu bukan virus.  “Ini bukan virus, melainkan hama. Sehingga,  tidak perlu dicabut. Boleh dicabut jika  tinggi tanaman masih di bawah 50 sentimeter,” jelasnya. (radar)