Browse By

Pesona Yadnya Kasada

SUKAPURA – Perayaan Yadnya  Kasada yang digelar Minggu (9/7)  hingga kemarin (10/7), berjalan penuh khidmat. Seluruh warga suku Tengger tumpah ruah, mulai  di Pura Luhur Poten, lautan pasir,  hingga kawah Gunung Bromo.

Sebelum prosesi Yadnya Kasada dilaksanakan, seperti biasa di gelar proses pengukuhan sesepuh Tengger. Ada empat pejabat yang dikukuhkan. Keempat pejabat itu yaitu, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI Esthy Reko Astuty; Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Probolinggo Nadda Lubis dan suaminya, Idan Siregar; serta Ketua Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Probolinggo Basuki Wiyono.

Sejumlah warga rela menantang bahaya untuk menangkap sesaji yang dilemparkan warga suku Tengger maupun pengunjung

Bambang Suprapto, salah satu tokoh adat Tengger menuturkan, bahwa pengukuhan tokoh itu bertujuan untuk melestarikan budaya dan tradisi suku Tengger. Mereka diharapkan dapat berperan aktif dalam memajukan budaya, sesuai bidangnya masing-masing.

Loading...

“Ini adalah suatu bentuk penghormatan kepada para pejabat itu. Nantinya, diharapkan pada  pejabat yang telah dikukuhkan, bisa berperan aktif dalam pemajuan budaya serta kesejahteraan warga suku Tengger itu sendiri,”  tuturnya.

Selain pejabat-pejabat di atas, acara resepsi Yadnya Kasada yang dimulai pukul 19.00 itu, dihadiri Wakil Bupati Probolinggo Timbul  Prihanjoko; Kapolres Probolinggo  Arman Asmara Syarifuddin; serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim Jarianto.

Setelah proses pengukuhan ini,  masyarakat Tengger kemudian menjalankan ritual Yadnya Kasada yang dilakukan di Pura Luhur Poten lautan pasir. Dalam acara inti Yadnya Kasada ini, masyarakat melarungkan berbagai macam sesaji ke kawah Gunung Bromo.

Sebelum larung sesaji dilakukan,  dukun pandita membacakan sejarah Tengger yang dilakukan  dengan menggunkan bahasa  Tengger. Setelah membacakan sejarah singkat suku Tengger di  bawah sinar bulan purnama,  baru kemudian mereka melakukan ritual yang diberinama Pujastuta atau penyucian ongkek (tandu) yang akan dibawa dan  di larungkan ke kawah.

“Pujastuta ini adalah proses  penyucian yang dilakukan oleh para pandita se-Tengger untuk menyucikan ongkek yang dibawa masyarakat dari berbagai desa  di Tengger. Setelah disucikan, baru bisa dilabuhkan ke kawah atau dipersembahkan kepada penunggu Gunung Bromo,” tutur  Bambang.

Setelah Pujastuta selesai, seharusnya dilakukan Mulunen atau pelantikan dukun baru. Namun, karena jumlah dukun di Tengger masih pas, pelantikan ditiadakan. Tetapi, meskipun demikian pembacaan terhadap mantra Mulunen  tetap dilakukan.

“Tahun ini tidak  ada pelantikan dukun. Soalnya, dukun di Tengger masih jangkep dan tidak ada yang perlu digantikan,” jelasnya. Setelah rangkaian tersebut usai, baru para pandita atau dukun melayani umat yang berangkat  ke kawah.

Setelah waktu untuk melayani umat selesai dan matahari mulai menunjukan sinarnya, para masyarakat Hindu suku Tengger langsung membawa ongkek yang telah dibuat sehari sebelumnya untuk dilabur ke kawah. “Ini adalah ungkapan rasa syukur pada penunggu Gunung Bromo.  Yakni, Raden Kusuma yang telah mengabdikan diri menggantikan  dewa untuk bersemayam di kawah  ini,” ujar Sutomo, salah seorang pandita dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten  Probolinggo.

Acara sakral Yadnya Kasada tersebut juga menarik minat wisatawan untuk datang dan menikmati setiap prosesinya. Salah satunya Ambreanna, wisman asal Prancis yang mulai awal mengikuti proses Yadnya Kasada. Ia mengaku takjub dengan perayaan keagamaan tersebut.

Menurutnya, selain sebagai acara adat, acara ini juga merupakan gebyar budaya Tengger yang sayang untuk dilewatkan. “Ini  ada lah sebuah parade budaya yang sangat indah. Di negara saya tidak ada yang semacam ini,” tuturnya dalam bahasa Inggris. (radar)