Browse By

Taat Pribadi Dituntut Seumur Hidup

Taat Pribadi saat akan menjalani sidang dengan agenda tuntutan, kemarin.

PH: Ini Persidangan Opini

KRAKSAAN – Setelah sempat tertunda tiga kali, akhirnya sidang pembacaan tuntutan pada Dimas Kanjeng Taat Pribadi dilangsungkan, kemarin (3/6).  Dalam sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa kasus pembunuhan pada Abdul  Gani itu dengan hukuman seumur hidup.

Dalam sidang yang digelar pukul 13.00 itu, JPU Rudi Prabowo mengatakan, terdakwa Taat Pribadi dianggap telah terbukti bersalah  secara sah dan meyakinkan,  melakukan tin dak pidana pembunuhan terhadap Abdul Gani.  Hal itu sebagaimana dakwaan  primer pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana.

“Terdakwa Taat Pribadi dituntut dengan hukuman penjara seumur hidup,” terangnya. JPU menuntut pemilik Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu dengan tuntutan seumur hidup, berdasarkan sejumlah alat bukti. Salah satunya keterangan saksi yang mengatakan bahwa terdakwa menyuruh dan menganjurkan eksekutor untuk menghilangkan nyawa korban.

Loading...

Meskipun sejumlah saksi kemudian mencabut kesaksiannya, namun JPU berpatokan pada keterangan saksi dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). “Mereka (saksi, Red) diambil sumpahnya saat pemeriksaan sesuai BAP,” terang Rudi–sapaan akrabnya dalam persidangan yang di ketuai Basuki Wiyono tersebut.

JPU menjelaskan, tuntutan seumur hidup untuk terdakwa, sudah mempertimbangkan fakta-fakta persidangan. Dimana, terdakwa Taat Pribadi dianggap telah terbukti ikut dalam perencanaan pembunuhan terhadap   Abdul Gani.

“Hal-hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa menghilangkan nyawa dengan sadis. Peranan terdakwa Taat Pribadi menganjurkan atas pembunuhan itu. Terdakwa tidak mengakui  dan tidak menyesali perbuatan  pembunuhan. Sedangkan hal  yang meringankan, tidak dite mukan hal yang meringankan   terdakwa,” terangnya.

Tentu saja, tuntutan itu membuat  Taat Pribadi keheranan. Ditemui  Jawa Pos Radar Bromo setelah sidang, sesuai fakta persidangan,  tidak ada bukti yang menunjukkan dirinya terlibat atau mengarahkan tindak pembunuhan.  Baik itu keterangan saksi maupun dari alat bukti.

“Saya bukan eksekutor, saya tidak pernah menyuruh. Tapi,  kenapa tuntutannya seberat ini,”  kata Taat yang kemarin mengenakan batik corak emas itu.  Hal senada juga dipertanyakan  Penasehat Hukum (PH) Taat, Muhammad Soleh.

Menurutnya,  tuntutan ini bukan soal memberatkan atau meringankan. Sebab, fakta persidangan tidak terungkap adanya keterangan saksi atau  bukti keterlibatan Dimas  Kanjeng. “Jangan karena terdakwa merupakan ketua padepokan, harus  dituntut hukuman atas perbuatan  yang tidak pernah dilakukan. Kami mengajukan pembelaan  atas tuntutan penuntut umum   itu. Kalau ini dibiarkan, bisa jadi persidangan ini bukan mengungkap fakta, tapi persidangan opini,” tandasnya.

Sidang dengan agenda pembacaan tuntutan sendiri, sempat tertunda tiga kali karena terdakwa sakit. Keterangan sakit itu di buktikan surat keterangan dari klinik  Rutan Klas I Surabaya. Kali terakhir, sidang digelar 31 Mei lalu dengan  agenda pemeriksaan saksi meringankan dari terdakwa.

Setelah itu, sidang lanjutan de ngan agenda tuntutan tak  kun jung terlaksana. Yakni, pada   Selasa, 6 Juni; Selasa, 13 Juni; dan Kamis, 15 Juni. Sidang sendiri  akan dilanjutkan Selasa (11/6)  dengan agenda pembelaan terdakwa. (radar)