Browse By

Tiga Hari, 11 Nyawa Melayang

Rata-rata karena Human Error

DRINGU – Tragedi demi tragedi terjadi dalam arus mudik Lebaran tahun ini. Hanya kurun waktu 3 hari, yakni sejak  Sabtu (24/6) hingga kemarin (26/6), 11 nyawa melayang di jalan. Yang paling tragis, tentu saja tewasnya 6 penumpang  Toyota Avanza di jalur pantura Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, Minggu (24/6) dinihari.

Pada H-1 Lebaran itu, Zainul Anwar, 28, warga Desa Bago, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo berencana berlebaran bersama dua anaknya, yang selama ini tinggal bersama Elia, 28, mantan istrinya. Namun, harapan tinggal harapan. Kendaraan yang mereka tumpangi, menabrak bus  pariwisata Angkasa Trans dari arah berlawanan.

Loading...

Tragisnya, Zainul dan kedua anaknya, tewas dalam kecelakaan tersebut. Total korban tewas dalam kecelakaan maut itu berjumlah 6 orang. Selain Zainul, ada Sapari Trisno, 72,  (ayah Zainul); dan Intan Nuraini, 11, (keponakan Zainul),  keduanya tinggal di desa yang sama dengan Zainul.

Sementara korban tewas lainnya, yakni Adelia, 6, dan  Amelia, 3, (kedua anak Zainul), serta Elia, 28, (mantan istri  Zainul).  Ketiganya tercatat sebagai  warga Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Selain korban tewas, ada juga korban luka atas nama Zulkifli, 19, yang merupakan  kakak korban Intan atau keponakan Zainul.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, Jumat (23/6)  sekitar pukul 13.00 atau selepas  Salat Jumat, Zainul mengajak ayah dan keponakannya, untuk  menjemput anak dan mantan  istrinya di Terminal Bungurasih, Surabaya.

Setelah bertemu, rombongan 7 orang yang mengendarai Toyota Avanza nopol N 590 NQ itu, kemudian meluncur  ke Probolinggo.  Sekitar pukul 02.30, rombongan masuk jalur pantura Desa Tamansari, Kecamatan Dringu,  Kabupaten Probolinggo.

Di­duga, Zainul yang kelelahan,  tidak lagi konsentrasi dalam mengemudikan kendaraannya.  Sampai akhirnya, mobil warna  putih itu keluar jalur ke sisi ka­nan melewati marka.  Nahas, dari arah berlawanan, muncul bus pariwisata nopol  AA 1428 ED yang dikemudikan Hadi Susanto, 38, warga Malang.

Bus tujuan Bali ­Tulungagung  ini langsung ngerem mendadak. Sayangnya, upaya itu tak berhasil. Kedua kendaraan bertum­bukan sangat keras. Kondisi mobil Toyota Avanza rusak parah. Begitupula bagian  depan bus yang muat sekitar 48 penumpang itu.

Empat penum­ pang Avanza dinyatakan tewas  di Tempat Kejadian Perkara  (TKP). Yakni, Elia, Amelia, Sapari, dan Intan. Sementara, ke­  tiga korban lainnya masih hidup.  Namun, saat itu kondisi Zainul sudah parah karena kakinya terjepit.

Warga yang mengetahui kejadian ini, langsung melakukan  pertolongan. Tak berselang lama,  Satlantas Polres Probolinggo  langsung tiba di TKP. Begitu­  pula ambulan yang digunakan  untuk mengevakuasi empat je­nazah yang tewas di TKP.

Korban  tewas kemudian dibawa ke kamar mayat RSUD dr Mohamad Saleh, Kota Probolinggo.  Sementara tiga korban lainnya  kemudian dievakuasi ke RS Wo­nolangan, Dringu. Evakuasi  Zainul tidak mudah. Pria yang  berprofesi sebagai sopir ekspe­ disi di Bali ini, mengalami luka parah di kaki dan kepala.

Sekitar  15 menit, Zainul akhirnya berhasil dievakuasi. Sayangnya,  Zainul dan Adelia yang menja­lani perawatan intensif, kemudian juga meninggal. Tersisa  Zulkifli, yang masih hidup dan  hanya menderita luka.  Hadi Susanto, sopir bus ketika ditemui koran ini di sela­ sela pemeriksaan mengatakan, ia  kaget melihat ada kendaraan yang tiba ­tiba banting stir ke arah kanan.

Karena jaraknya terlalu  dekat, kecelakaan tak bisa di­   hindarkan. Ketika mobil avanza itu banting stir ke kanan, Hadi spontan membunyikan klakson berkai­ kali sambil menginjak rem, Ia juga sempat banting stir ke kiri. “Pak Sukri, kernet saya juga  teriak. Rem saya injak sedalam­ dalamnya. Bahkan, mesin sam pai mati,” imbuhnya.

Hadi  mengaku tak punya pilihan lain,  selain ngerem dan sedikit ban ting setir ke kiri. Pasalnya, jika  sopir banting setir terlalu ke  kiri, maka ada rumah dan pohon.  Jika ia banting ke arah kanan, ada banyak mobil dari arah yang  berlawanan.

Sementara itu, tangis kesedihan pecah di kamar mayat RSUD dr Mohamad Saleh. Keluarga besar  Zainul mendatangi RSUD mau­pun RS Wonolangan. Mbuk Trisno, 70, istri dari Sapari mengatakan, antara Zainul dan kedua  cucunya sudah lama berpisah. Karena momen Lebaran inilah, Zainul membujuk agar mantan istrinya mau berlebaran di Probolinggo.

Sementara itu, Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifudin mengatakan, dugaan sementara kecelakaan itu dise­babkan korban Zainul mengantuk. Sebab, tidak ada bekas  pengereman yang dilakukan oleh mobil sewaan tersebut. Berbeda halnya dengan bus.

“Untuk bus, ada bekas pengereman di aspal,” terangnya saat olah TKP kemarin. Sejauh ini, pihaknya belum memutuskan siapa yang bersalah dalam peristiwa tersebut. “Masih dalam penyidikan. Sopir  masih kita mintai keterangan. Begitupula saksi dari sejumlah penumpang bus juga kita mintai keterangan,” terangnya.

Sedikitnya, ada 6 saksi yang sudah diperiksa.  Polres sendiri sudah mendatangkan Traffic Accident Centre (TAC) Polda Jatim, namun belum  dipastikan siapa yang jadi ter­sangka. Rencananya, tim Labfor  Mabes Polri cabang Surabaya juga akan didatangkan.

“Tim  labfor dari Polda Jatim akan segera turun. Sebab, kecelakaan ini memakan korban cukup ba­nyak. Namun, kami belum tahu kapan,” ujar kanit Laka Satlantas Polres Probolinggo, Ipda Sis­wandi. Ketiga korban asal Bago, dimakamkan berdampingan pada hari itu juga.

Sementara ketiga korban lainnya, dibawa ke rumah duka di Klaten, Ja­teng. Sementara itu, kecelakaan dengan korban jiwa terus terjadi pada H­1 sampai H+1 Le­baran. Jalan Raya Pesisir, Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, kema­rin (24/6).

Dalam perjalanan  mudik, seorang remaja tewas  setelah terlindas mobil Toyota Avanza, sekitar pukul 04.00. Korban yaitu, Ragil Saputra,  19, warga Dusun Krajan, RT 3/  RW 6, Desa/Kelurahan Jatiroto, Kabupaten Lumajang. Sopir Avanza yang hingga kemarin belum diketahui identitasnya, langsung membawa korban ke  IGD RSUD dr. Moh. Saleh.

Namun, sekitar setengah jam dirawat di IGD, korban meninggal. Kecelakaan sendiri berawal saat korban berboncengan dengan kakaknya, Muksin Ali Ahmad, 24, menggunakan mo tor Honda GL. Muksin mengemudi,  sementara korban dibon­eng. Motor melaju dari Barat ke  Timur. Yaitu, dari arah Surabaya. Keduanya berniat pulang ke Jatiroto untuk lebaran bersama keluarga.

“Kami dari Surabaya  mau pulang ke Jatiroto berleba­ ran. Di Surabaya kami kerja,” kakak korban. Sampai di tempat kejadian perkara (TKP), Honda GL ber­senggolan dengan kendaraan lain yang melaju dari arah berlawanan atau dari Timur ke Barat.

Belum diketahui identitas  kendaraan ini.  Korban tewas di jalan dalam  rangkaian mudik Lebaran tahun ini kembali terjadi. Kali ini menimpa Sulton, 46, dan Rani, 12, asal Desa Karangbendo, Keca­matan Ketung, Kabupaten Lumajang.

Bapak ­anak itu tewas  setelah motor yang ditumpangi bersama Cipluk Kurniawati, 44, ibunya, terlibat kecelakaan di  Jalan Raya Rejoso tepatnya,  Desa Sarirejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Minggu (25/6).

Informasi yang dihimpun Jawa  Pos Radar Bromo, kejadian itu bermula ketika Sulton, bersama istri dan anaknya Rani, 12, be­rangkat dari Surabaya menuju kampung halamannya di Luma­jang. Sebelum kejadian nahas  itu, ketiganya yang mengendarai motor Honda Vario nopol  W 5772 XU, sempat beristirahat  di musala sekitar Tempat Kejadian Perkaran (TKP).

Sekitar pukul 13.00, mereka  kemudian melanjutkan perja­lanan. Saat itu, kondisi jalur di  TKP padat kendaraan. Sulton lantas mengambil lajur tengah dengan maksud menyalip kendaraan di depannya. Tiba­tiba, kendaraan yang ada di depannya ngerem mendadak.

Korban lan tas banting setir ke kanan dengan maksud menghindari tabra­kan.  Namun, upaya tersebut justru  membuatnya bertabrakan deng­ an kendaraan lain yang melajur  dari arah berlawanan. Yakni  mobil Grand Livina nopol P 1137 RY yang dikemudikan Subhan Ariyadi, 43, warga Jember.

Setelah tertabrak, Vario tersebut  sempat terseret sejauh 5 meter. Tak berhenti sampai disitu,  Sulton kembali dihantam ken­daraan lain dari arah timur. Yakni, Toyota Avanza yang dikemudikan Ichwan, 58, warga  Lumajang.

Akibat kejadian itu,  Rani yang duduk di tengah, mengalami luka parah di kepala.  Sementara, Sulton mengalami  luka robek di paha kanan, robek kaki kanan, serta patah per­gelangan tangan kanan. “Yang perempuan mengalami  luka patah kaki kanan, robek  kaki kanan,” ujar Ipda Heri  Purnomo, Kanit Laka Polres  Pasuruan Kota.

Ketiganya lantas dilarikan ke RS R. Soedarsono,  Kota Pasuruan. Sayangnya,  nyawa Rani dan Sulton tak bisa diselematkan. Kecelakaan yang menewaskan  orang tua dan anak, juga terjadi  di ruas jalan nasional Surabaya­  Malang, tepatnya di Desa Ng­erong, Kecamatan Gempol,  kemarin (26/6), sekitar pukul  10.00.

Dua orang tewas dalam  kecelakaan itu. Yakni, Mariyatul  Ulfa, 38, dan Alifiyah, 9.  Kejadian itu melibatkan bus  pariwisata Sarika nopol L7908 UT yang dikemudikan I Kadek  Ariawan, 46, warga Kecamatan  Gede Bangun, Kabupaten Ta­banan.

Diduga, sopir bus lalai  dalam mengemudikan kendaraan. Akibatnya, bus menghantam 3 motor sekaligus. Masing­-masing Honda Revo  nopol N 6481 VF yang dikendarai Mochammad Reza Komaru­ din; Honda Supra Fit nopol W  511 RJ yang dikemudikan Amir,  58, asal Porong, Sidoarjo; dan Honda Vario yang dikendarai  korban tewas.

Selain korban tewas, peristiwa tersebut juga menyebabkan 1 korban luka berat  dan 5 korban luka ringan.  “Korbannya total 8 orang dari  pemotor. Enam orang luka­ luka, dan 2 orang tewas yang  merupakan ibu dan anak,” kata  kanit Laka Satlantas Polres Pasuruan, Iptu Marto.

Korban  luka kemudian dilarikan ke RS  Asiyah Abyakta, Kepulungan.  Sementara korban tewas dibawa ke RS Pusdik Brimob, Watukosek. (radar)