Browse By

Warga Gili Serbu Kota

Salah seorang warga Gili meminta pertolongan petugas untuk naik ke dermaga. Ratusan warga Gili kemarin berbondong-bondong ke kota untuk merayakan tradisi Petolekoran.

Tradisi Petolekoran, Penuhi Pertokoan

MAYANGAN – Ratusan warga Desa Gili, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, “menyerbu” pertokoan di Kota Probolinggo, kemarin (22/6). Serbuan warga Gili itu untuk memeriahkan tradisi Petolekoran  atau malam ke-27 Ramadan.

Caranya, dengan berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan. Sejak pagi, kapal-kapal penyeberangan Gili dan Mayangan hilir mudik di pelabuhan Mayangan. Satu kapal mampu mengangkut belasan orang. Warga yang merayakan tradisi itu, akan berbelanja segala kebutuhan untuk Lebaran.

Tak hanya  baju, namun juga kebutuhan dapur. Karenanya, jalur utama kota kemarin lebih ramai  dari biasanya. Pertokoan di Jalan dr Sutomo penuh sesak. Begitupula di sejumlah pasar seperti Pasar Gotong Royong  maupun Pasar Baru.

Loading...

Aisyah, 29, warga Gili mengatakan, tradisi Petolekoran ini digelar karena warga baru mendapat dana segar di hari- hari menjelang 27 Ramadan. Seperti tabungan, gaji, serta THR. “Tradisi ini sudah turun  menurun. Selain menjaga kekompakan, juga menjalin silaturahmi antar warga, khususnya  warga gili,” terangnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ahmad Farizi, 19. Meski ia  tidak tahu awal mulanya tradisi  tersebut, ia senang karena bisa berbelanja di kota. “Kebanyakan  orang-orang berbelanja baju,  makanan, dan kue untuk Lebaran. Bahkan, tidak jarang yang  membeli sembako,” ujarnya.

Sementara itu, tak hanya pertokoan dan kapal penyeberangan saja yang diuntungkan dengan  tradisi tersebut. Abang becak juga ketiban untung dengan kegiatan tersebut. Jika pada hari normal  hanya mengangkut empat penumpang saja, kemarin bisa lipat tiga. Seperti yang diungkapkan oleh  Suri, 44, salah satu abang becak  yang biasa mangkal di pelabuhan.

“Alhamdulillah, banyak yang pakai becak. Terkait tarifnya beragam tergantung kesepakatan awal. Ada yang ngasi Rp 15 ribu, juga ada  yang ngasih Rp 10 ribu. Dengan  tujuan pasar kota,” terangnya. Hal senada juga di ungkapkan  Djumadi, 52, warga Mayangan.

Ia sampai kewalahan setelah 8  kali angkut. Beda halnya jika pakai bentor. Apalagi kondisinya puasa seperti saat itu.  “Kalau kondisinya seperti ini, artinya ramai, sebenarnya enak  pakai bentor. Atau, dengan menggunakan motor roda tiga, yang mampu menampung lebih banyak penumpang,” katanya. (radar)