Browse By

Anggota Dua Ormas Perang Komentar di FB

Ketegangan Mereda usai Dimediasi Polres

BANGIL – Ini peringatan kembali  bagi pengguna jejaring media sosial (medsos) agar lebih bijak dalam berkomentar di medsos. Karena komentar tanpa pertimbangan yang matang, bisa berisiko akan terjadinya gesekan.  Seperti yang terjadi antara ormas GP Ansor dengan FPI di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Gara-gara komentar pedas antar anggotanya, kedua ormas tersebut saling tegang. Untungnya, ketegangan itu tidak belarut panjang  dan bisa terselesaikan. Ketegangan kedua ormas itu, terjadi kemarin (8/5). Bermula dari saling adu komentar antar anggota masing-masing ormas, sehingga mengerucut pada gesekan di dunia maya.

Loading...

Polisi damaikan Ansor dan FPI Pasuruan yang sempat bersitegang .

Puncaknya, Senin kemarin (8/5). Salah satu kelompok akhirnya mendatangi anggota ormas  yang lain untuk meminta  kejelasan dan permintaan maaf. Perkara itu pun sempat dibawa ke Polres Pasuruan.  Di Mapolres Pasuruan itulah, persoalan tersebut dicairkan.

Ketua FPI Kabupaten Pasuruan Lukman Aziz menjelaskan, ada kesalahpahaman dalam persoalan tersebut. Kesalahpamahan itu sendiri dipicu, adanya beberapa oknum yang men-share komentar-komentar tak menyenangkan.

Komentar-komentar panas itu ditambah foto-foto dan kata-kata yang tidak baik itulah yang  menimbulkan reaksi. “Salah paham saja. Dan, sudah di selesaikan,” kata Lukman Aziz saat di temui di Mapolres Pasuruan, kemarin.  Ketua Pengurus Cabang GP Ansor Bangil Saad Muafi menguraikan,  persoalan ini sejatinya sudah  diselesaikan. Memang ada sempat perang komentar dari oknum- oknum anggota, sehingga memicu perselisihan.

“Alhamdulillah, persoalan tersebut sudah di selesaikan. Dan, tidak ada masalah lagi,” bebernya. Kapolres Pasuruan AKBP M. Aldian mengingatkan agar menjaga  kesopanan dan tata krama dalam  menyampaikan unek-unek di facebook. Karena hal tersebut bisa berisiko terjadinya gesekan.

“Ke depan, kami baik Ansor maupun FPI sudah komitmen untuk saling menjaga. Supaya,  tidak terjadi persoalan serupa,” bebernya. Pihaknya menambahkan, kalau persoalan ini dipicu adanya fitnah  dalam media sosial.

“Hal yang diangkat masalah pelecehan.  Akibat fitnah di media sosial  itulah, muncul persoalan ini. Dan, hasil mediasi yang kami  lakukan, menegaskan kalau  masing-masing pihak akan saling menjaga supaya tidak terulang hal serupa. Bila memang ada  pelanggaran hukum, biar kami  yang memprosesnya,” tegasnya. (radar)